Banjir Bandang Nepal: 392 Tewas, 1.400 Hilang, Diduga Dipicu Longsoran Gletser

Editor Satu • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:45 WIB
Banjir bandang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet, Rabu (26/8/2026). Bencana yang diduga dipicu longsoran gletser di kawasan Himalaya tersebut menewaskan ratusan orang dan membuat lebih dari 1.400 orang masih hilang. (REUTERS/Navesh Chitrakar)
Banjir bandang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet, Rabu (26/8/2026). Bencana yang diduga dipicu longsoran gletser di kawasan Himalaya tersebut menewaskan ratusan orang dan membuat lebih dari 1.400 orang masih hilang. (REUTERS/Navesh Chitrakar)

NEPAL, METRODAILY — Banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet, Rabu (26/8/2026). Bencana yang disertai lumpur, batu, dan material longsoran itu menyapu permukiman, jalan, jembatan hingga proyek pembangkit listrik.

Hingga Jumat (28/8), jumlah korban tewas dilaporkan mencapai 392 orang, sementara sekitar 1.400 orang masih dinyatakan hilang. Tim penyelamat masih menyisir wilayah yang tertutup lumpur dan puing untuk mencari korban.

Wilayah Distrik Rasuwa menjadi salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling parah. Desa-desa di sepanjang aliran sungai terdampak terjangan air bercampur material longsoran dari kawasan pegunungan Himalaya.

Baca Juga: Kawal APBD dan Dana Desa, Pemkab Tapteng Gandeng Kejari Sibolga

Gelombang Air Setinggi 5-6 Meter

Kengerian bencana tergambar dari kesaksian pilot helikopter yang terbang di atas lokasi kejadian.

Pilot bernama Aman Budathoki mengatakan, gelombang banjir yang dilihatnya mencapai sekitar 5-6 meter. Dari udara, ia menyaksikan pohon besar dan kendaraan terseret arus.

Semula Budathoki mengira kepulan debu yang terlihat berasal dari aktivitas pembangunan jalan atau ledakan yang dilakukan aparat. Namun beberapa saat kemudian, material gelap bercampur air deras meluncur dari kawasan pegunungan.

Rekaman video dari kawasan perbatasan Nepal-Tibet juga memperlihatkan warga berlarian menyelamatkan diri sebelum gelombang banjir menerjang bangunan.

Jalan dan jembatan ikut tersapu. Material lumpur bahkan menimbun sejumlah bangunan hingga bagian lantai atas.

Baca Juga: Fondasi Proyek Irigasi Rp3,5 M Dibongkar, Kedalaman Tak Sesuai RAB

Bukan Gempa, Melainkan Longsoran Gletser

Penyebab bencana sempat dikaitkan dengan gempa bumi. US Geological Survey (USGS) sebelumnya mendeteksi getaran berkekuatan magnitudo 4,4 di kawasan perbatasan Nepal-China.

Namun analisis lanjutan menunjukkan getaran tersebut bukan gempa tektonik.

Getaran diduga berasal dari longsoran besar yang terjadi di kawasan pegunungan. Material es, batu, dan salju dalam jumlah besar meluncur menuju lembah dan aliran sungai.

Sejumlah ilmuwan kemudian mengarah pada dugaan bahwa longsoran gletser menjadi pemicu utama bencana.

Baca Juga: MCSP Toba 80,5, Tapi SPI Masih Rentan: ASN Dibekali Penguatan Integritas

Longsoran tersebut diduga menghasilkan getaran yang setara dengan gempa bermagnitudo sekitar 5,2. Material dalam jumlah besar kemudian masuk ke aliran sungai dan memicu gelombang banjir dahsyat.

Himalaya Semakin Rentan

Kondisi geografis dan perubahan iklim turut menjadi perhatian para ilmuwan.

Pemanasan di kawasan Himalaya menyebabkan gletser mencair dan lereng pegunungan menjadi semakin tidak stabil. Air lelehan juga dapat membentuk danau glasial yang berpotensi meluap ketika volumenya meningkat secara tiba-tiba.

Curah hujan ekstrem selama musim monsun menjadi faktor lain yang dapat memperbesar risiko banjir dan longsor.

Baca Juga: 13.247 Warga Sibolga Terima Bantuan Beras 30 Kg, Wali Kota: Jangan Dijual

Para ilmuwan masih menganalisis citra satelit, data hidrologi, kondisi gletser, serta pola curah hujan untuk memastikan rangkaian penyebab bencana tersebut.

Ratusan Orang Hilang

Selain korban tewas, operasi pencarian kini difokuskan untuk menemukan sekitar 1.400 orang yang masih hilang.

Sejumlah warga dilaporkan hilang setelah banjir menghantam kawasan permukiman dan jalur transportasi. Sedikitnya 19 jembatan dan hampir 40 kilometer jalan raya dilaporkan terdampak.

Kepolisian Nepal juga kehilangan sejumlah personelnya. Sedikitnya 28 anggota polisi dilaporkan masih hilang.

Baca Juga: Agnez Mo Pulang ke Indonesia, Siap Galang Dana untuk Korban Karhutla

Pemerintah Nepal telah mengerahkan helikopter untuk operasi evakuasi dan pencarian korban. Bantuan dari negara tetangga, termasuk India dan China, juga diminta untuk memperkuat operasi penyelamatan.

Wisatawan dan Peziarah Ikut Terdampak

Bencana terjadi ketika aktivitas perjalanan menuju sejumlah lokasi wisata dan situs keagamaan di kawasan Himalaya masih berlangsung.

Sebagian orang yang dilaporkan hilang merupakan wisatawan dan peziarah yang melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Kailash di Tibet.

Di antara warga asing yang dilaporkan hilang terdapat warga India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Kanada.

Selain itu, puluhan warga Nepal yang melakukan pendakian di sekitar Danau Gosaikunda, Distrik Rasuwa, juga dilaporkan hilang.

Baca Juga: Mbappe Hattrick, Real Madrid Bantai Sociedad 4-1 dan Kuasai Puncak LaLiga

45 WNI di Nepal Dipantau

Pemerintah Indonesia turut memantau kondisi warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Nepal.

Kementerian Luar Negeri menyatakan terdapat sekitar 45 WNI di Nepal, mayoritas berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan.

Hingga informasi terakhir, belum ada laporan WNI yang menjadi korban bencana.

KBRI Dhaka dan KBRI Beijing bersama jejaring masyarakat Indonesia terus memantau perkembangan situasi. WNI yang berada di Nepal, terutama wisatawan dan pendaki, diminta menghindari kawasan terdampak dan mengikuti arahan otoritas setempat.

Bencana di perbatasan Nepal-Tibet ini sekaligus kembali memperlihatkan tingginya risiko bencana di kawasan Himalaya. Ketika gletser dan lereng gunung kehilangan stabilitas, longsoran dalam skala besar dapat berubah menjadi gelombang banjir yang datang nyaris tanpa waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri. (dtc)

Editor : Editor Satu
banjir bandang nepal longsoran gletser himalaya