YERUSALEM, METRODAILY – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa Iran saat ini berada pada titik terlemahnya akibat tekanan militer dari kerja sama Israel dan Amerika Serikat.
Dalam konferensi pers, Kamis (19/3/2026), Netanyahu bahkan menyebut kemungkinan terjadinya perubahan rezim di Iran di tengah eskalasi konflik yang terus meningkat.
Netanyahu menegaskan bahwa Iran hanya berjarak sekitar satu tahun untuk mengembangkan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu menjangkau tidak hanya Israel, tetapi juga wilayah Amerika Serikat.
Ia memperingatkan bahwa tanpa operasi militer gabungan seperti “Epic Fury” dan “Roaring Lion”, dunia berpotensi menghadapi ancaman nuklir serius.
“Jika tidak bertindak sekarang, kita bisa menghadapi bencana nuklir,” ujar Netanyahu.
Seruan untuk Barat
Netanyahu juga menyerukan negara-negara Barat, khususnya yang dipimpin oleh Amerika Serikat, untuk mempertegas sikap terhadap apa yang ia sebut sebagai ancaman dari Iran.
Menurutnya, negara-negara demokrasi tidak boleh mengabaikan risiko yang berkembang.
“Negara demokrasi harus menegaskan kembali kemauan mereka untuk membela diri dan melawan musuh sebelum terlambat,” tegasnya.
Dalam pernyataannya, Netanyahu mengungkap tiga fokus utama operasi militer Israel saat ini:
- Mengganggu program nuklir Iran
- Melemahkan kemampuan rudal balistik
- Memberikan peluang bagi rakyat Iran menentukan masa depan mereka
Ia juga mengklaim bahwa kemampuan militer Iran, khususnya dalam hal rudal dan drone, mengalami penurunan signifikan akibat serangan yang dilakukan.
Klaim Iran Melemah
Netanyahu menyatakan bahwa tekanan militer yang terus dilakukan telah berdampak besar terhadap kekuatan Iran.
“Kita sedang menang, dan Iran sedang dihancurkan,” ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, menyusul saling serang antara Israel dan Iran dalam beberapa hari terakhir.
Situasi ini memicu kekhawatiran global terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas, termasuk risiko keterlibatan langsung negara-negara besar. (Jpc)
Editor : Editor Satu