Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

607 Rumah Tidak Layak Huni di Danau Toba Bakal Direnovasi, Bisa jadi Tempat Menginap Turis

Admin Metro Daily • Rabu, 17 Januari 2024 | 14:59 WIB
Hotel di pinggiran Danau Toba.
Hotel di pinggiran Danau Toba.

JAKARTA, METRODAILY – Sebanyak 607 unit rumah tidak layak huni di kawasan Danau Toba, bakal direnovasi. Renovasi itu terkait dengan keseriusan pemerintah menjadikan Danau Toba sebagai wisata kelas dunia, dengan memasukkannya dalam Lima Destinasi Super Prioritas (DSP).

Ditjen Perumahan Kementerian PUPR telah menyelesaikan program konversi rumah tak layak huni menjadi Sarana Hunian Pariwisata (Sarhunta) di kawasan Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) Danau Toba, Sumatera Utara.

Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, menyatakan bahwa renovasi rumah warga untuk dijadikan hunian pariwisata dilakukan dengan menerapkan pola pemberdayaan. Hal ini bertujuan agar masyarakat setempat tidak hanya berperan sebagai penonton, melainkan juga dapat merasakan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata.

Ada 607 hunian warga yang akan dioptimalisasi menjadi sarana pendukung kegiatan pariwisata. "Renovasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk usaha pondok wisata dan usaha lain yang mendukung sektor pariwisata. Diharapkan cara ini dapat mengangkat perekonomian masyarakat setempat,"ujar Menteri Basuki.

Pembangunan Sarhunta kawasan Danau Toba dilaksanakan oleh Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan (BP2P) Sumatera II dengan anggaran Tahun 2020 sebesar Rp121,9 miliar.

Rehabilitasi 607 hunian tidak layak warga terdiri dari 569 rumah yang diperuntukkan sebagai usaha pondok wisata (homestay), 1 unit sanggar seni, 4 unit toko, 30 untuk kios atau kafe, dan sisanya 3 rumah untuk usaha pariwisata lainnya seperti warung.

Kepala Seksi Wilayah I Balai Pelaksana Penyedian Perumahan Sumatera II, Bramantyo, menjelaskan, desain renovasi rumah warga menjadi sarana hunian pariwisata dimodifikasi lebih modern. Namun begitu, tetap mempertahankan kearifan lokal masyarakat Suku Batak.

Hal ini merupakan upaya untuk menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara agar tertarik untuk menginap.

Sebagai contoh, homestay di Desa Lumban Suhi-suhi berada di sekitar Kampung Ulos Huta Raja dan homestay di Desa Lumban Siallagan berada di sekitar Kampung Ulos Siallagan, Kabupaten Samosir, yang tetap mempertahankan konsep Rumah Bolon.

 “Sarana hunian pariwisata ini bisa menjadi alternatif penginapan bagi para wisatawan yang berkunjung di Danau Toba. Diharapkan, dengan kondisi rumah penduduk yang ditingkatkan kualitasnya, dapat meningkatkan kenyamanan para wisatawan yang menginap,” ujar Bramantyo.

Selain 607 Sarhunta, Kementerian PUPR juga melakukan peningkatan kualitas rumah warga sebanyak 1.192 unit yang berada di sepanjang koridor pariwisata Danau Toba seperti Kabupaten Toba, Samosir, Tapanuli Utara, Simalungun, Humbang Hasundutan, dan Dairi.

Peningkatan kualitas rumah warga sekitar kawasan pariwisata menjadi layak huni sejalan dengan program pemerintah dalam mendorong pariwisata Danau Toba menjadi destinasi wisata berskala internasional yang lebih aman, nyaman, dan berkualitas.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Samosir Tetty Naibaho mengatakan homestay yang dibangun Kementerian PUPR sangat membantu dalam peningkatan wisatawan di Danau Toba.

Selain memiliki desain yang mengusung kearifan lokal, juga letaknya yang strategis di sekitar desa wisata, sehingga memudahkan wisatawan untuk mengakses langsung ke lokasi destinasi pariwisata Danau Toba dan sekitarnya.

"Tahun ini kami menargetkan 850.000 wisatawan dan tahun depan (2024) menjadi 1 juta wisatawan mengunjungi Sumatra Utara. Harapan kami durasi wisatawan yang menginap bertambah, sekarang masih 1,5 hari, kami butuh dua sampai tiga hari supaya spending-nya semakin tinggi,” kata Tetty. (haluan)

Editor : Admin Metro Daily
#Renovasi rumah tidak layak huni #danau toba