KARO, METRODAILY – Duka kembali menyelimuti keluarga korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo.
Paten Sitepu (50), ayah Santabila Maharani br Sitepu, salah seorang siswa yang sebelumnya mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi MBG, meninggal dunia pada Senin (24/8/2026).
Paten meninggal setelah sempat mengeluhkan sakit di bagian dada. Hingga kini, belum ada keterangan medis yang memastikan penyebab kematiannya.
Kabar duka tersebut semakin memilukan karena pada saat yang sama, kondisi Santabila kembali memburuk. Siswa tersebut harus menjalani perawatan medis sehingga tidak dapat ikut mengantar jenazah ayahnya ke pemakaman.
Baca Juga: Infrastruktur SDA Rusak Dihantam Bencana, Pemprov Sumut Kebut Perbaikan hingga Rp247,5 Miliar
Istri Paten, Meri br Tarigan, mengatakan suaminya selama ini tidak memiliki riwayat penyakit serius. Namun, kondisi kesehatan Paten mulai terganggu setelah Santabila mengalami sakit dan harus beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit.
Santabila sebelumnya menjadi salah seorang siswa yang mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG pada Kamis (13/8). Ia kemudian dilarikan ke RS Amanda Berastagi untuk mendapatkan perawatan.
Setelah sehari menjalani perawatan, Santabila sempat dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang. Kedua orangtuanya kemudian membawa Santabila ke kampung halaman mereka di Desa Sigarang Garang, Kecamatan Naman Teran.
Baca Juga: Gubsu Bobby Bidik 5.000 UMKM Sumut Dapat Sertifikasi Halal Gratis per Tahun
Namun, kondisi Santabila kembali menurun. Ia mengalami sesak napas dan mimisan sehingga lima hari kemudian kembali dibawa ke RS Amanda Berastagi.
Ayah Mulai Mengeluh Sakit Dada
Meri mengatakan dirinya dan Paten bergantian mendampingi Santabila selama menjalani perawatan. Kondisi tersebut membuat keduanya panik dan kelelahan.
Menurut Meri, sejak anaknya sakit, pola makan dan istirahat Paten menjadi tidak teratur. Paten juga disebut semakin cemas melihat kondisi putrinya yang belum sepenuhnya pulih.
“Di situlah suami saya mulai mengeluhkan sakit di bagian dadanya. Kumat jantungnya melihat kondisi anaknya,” ujar Meri dalam video pernyataan yang beredar di media sosial.
Baca Juga: Menagih “Emas Ekonomi” dari Gunungan Sampah 25 Meter Tanjung Pinggir
Pada Minggu (23/8), Santabila kembali dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang. Namun, kondisi kesehatannya kembali menurun setelah tiba di kampung.
Sehari kemudian, Senin (24/8), Paten kembali mengeluhkan sakit di bagian dada. Ia sempat dibawa ke rumah sakit. Namun, sebelum mendapatkan penanganan medis, Paten meninggal dunia.
Situasi keluarga itu semakin berat. Tak lama setelah Paten meninggal, Santabila kembali mengalami mimisan dan harus dibawa ke rumah sakit.
“Saat ayahnya meninggal, Santabila kami bawa lagi ke rumah sakit karena darah terus keluar dari hidungnya,” kata Meri dengan suara lirih.
Baca Juga: Diduga Terafiliasi Judi Online, 1.158 KPM Bansos di Toba Dicoret Kemensos
Akibat masih menjalani perawatan, Santabila tidak dapat menghadiri pemakaman ayahnya.
Kini, Meri harus menghadapi situasi berat seorang diri. Selain kehilangan suami, ia masih harus merawat Santabila yang belum sepenuhnya pulih serta mengurus tiga anak lainnya.
Ibu Korban Pertanyakan Tanggung Jawab MBG
Di tengah kondisi tersebut, Meri mempertanyakan bentuk tanggung jawab pengelola program MBG terhadap kondisi yang dialami putrinya.
“Apa tanggung jawab dan bantuan kalian untuk anak kami?” tanyanya.
Baca Juga: Puting Beliung Hantam Laguboti, 17 Rumah Rusak dan Kerugian Capai Ratusan Juta
Pernyataan Meri kemudian mendapat perhatian warganet. Sejumlah pengguna media sosial menyampaikan belasungkawa sekaligus mempertanyakan penanganan terhadap keluarga siswa yang terdampak kasus tersebut.
Namun, dugaan bahwa kematian Paten berkaitan dengan tekanan psikologis akibat kondisi anaknya hingga kini belum dapat dipastikan secara medis. Pernyataan tersebut muncul dari keluarga dan menjadi perbincangan di media sosial, bukan kesimpulan medis mengenai penyebab kematian.
Herman, salah seorang orangtua siswa yang juga menjadi korban dalam kasus keracunan MBG, mengaku terpukul mendengar kabar tersebut.
“Turut berduka cita ya, nakku,” tulis Herman.
Baca Juga: Menu MBG Diduga Berbelatung, SPPG Sangkar Nihuta Disetop 6 Hari
Ia mengatakan pengalaman kasus tersebut juga membuat dirinya cemas. Bahkan, ketika anaknya kembali mengeluhkan sakit perut saat ia sedang bekerja di ladang, kekhawatiran kembali muncul.
“Sekarang anakku sudah sehat, tapi asam lambungku yang kambuh karena terpukul dengan kejadian ini,” katanya.
Herman mengingatkan para orangtua siswa yang masih terdampak agar tetap kuat mendampingi anak-anak mereka menjalani pemulihan.
Sementara itu, desakan agar pemerintah memberikan penjelasan dan pertanggungjawaban atas kasus keracunan MBG di Karo kembali bermunculan.
Baca Juga: 78 Regu Padati Barus, Ramaikan Perkemahan Gebyar Madrasah 2026
“Miris juga hati ini mendengarnya. Tapi what next. Mari kita satukan barisan untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah secara moral dan material. Jangan harap belas kasihan pemerintah,” tegas Tempel Tarigan.
Kasus ini kini tidak hanya menyisakan persoalan kesehatan para siswa, tetapi juga pertanyaan mengenai penanganan korban, pendampingan keluarga, serta bentuk tanggung jawab setelah kejadian keracunan MBG. (pmg)
Editor : Editor Satu