Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Air Danau Toba Surut, IPB Waspadai Risiko Ikan Mati Massal di Keramba

Editor Satu • Kamis, 21 Mei 2026 | 09:50 WIB
Kondisi permukaan air Danau Toba di Sumatera Utara yang terlihat surut, namun masih dinyatakan dalam batas normal oleh BMKG.
Kondisi permukaan air Danau Toba di Sumatera Utara yang terlihat surut, namun masih dinyatakan dalam batas normal oleh BMKG.

JAKARTA, METRODAILY – Institut Pertanian Bogor (IPB) mengungkap adanya penurunan signifikan muka air Danau Toba yang berpotensi memicu gangguan serius pada ekosistem perairan, termasuk kematian massal ikan di keramba jaring apung (KJA).

Berdasarkan data satelit altimetri, muka air Danau Toba tercatat terus menurun hingga sekitar 1,6 meter pada periode Juni 2025 hingga Maret 2026.

Jika kondisi kemarau berlanjut, penurunan diperkirakan bisa mencapai hingga 2 meter.

Ahli Penginderaan Jauh Satelit IPB, Jonson Lumban Gaol, menyebut kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan karena berpotensi diperparah oleh fenomena iklim global.

“BMKG memprediksi kemungkinan El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif terjadi bersamaan pada 2026. Kombinasi ini dapat memicu musim kering berkepanjangan di Indonesia, termasuk Danau Toba,” ujar Jonson dalam keterangan resmi IPB.

Ia menjelaskan, kondisi itu dapat mempercepat penyusutan volume air dan meningkatkan risiko kematian ikan di KJA.

Meski demikian, Jonson menegaskan penurunan muka air bukan penyebab langsung kematian ikan, melainkan dipicu oleh kombinasi faktor lingkungan saat cuaca ekstrem.

Saat angin kencang terjadi, massa air dapat tercampur dan mengangkat sedimen serta limbah organik dari dasar danau. Kondisi ini dapat menyumbat insang ikan serta menurunkan kadar oksigen terlarut secara drastis.

“Air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke atas, menyebabkan penurunan oksigen terlarut sehingga ikan di KJA mati,” jelasnya.

Selain itu, penumpukan limbah organik dan domestik di dasar danau juga memperburuk kondisi. Dalam kondisi kekurangan oksigen, proses penguraian berubah menjadi anaerobik dan menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana.

Kedua gas tersebut dinilai berbahaya bagi ikan karena merusak sistem pernapasan sekaligus menurunkan kualitas air.

Jonson mengingatkan bahwa kejadian serupa pernah terjadi pada 2016 ketika ribuan ton ikan mati akibat penurunan muka air hingga dua meter. Peristiwa serupa juga tercatat dalam skala lebih kecil pada 2018, 2020, dan 2023.

Ia mengimbau para pelaku usaha perikanan di Danau Toba untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat muncul tanda cuaca ekstrem seperti angin kencang dan perubahan warna air.

“Jika ada indikasi cuaca ekstrem, sebaiknya KJA dipindahkan ke perairan lebih dalam atau ikan segera dipanen,” katanya.

IPB juga mendorong pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk memperkuat sistem peringatan dini agar dampak ekologis dapat diminimalkan. (net)

Editor : Editor Satu
#air danau toba surut #ikan mati di danau toba