TAPSEL, METRODAILY – Empat bulan setelah diterjang banjir bandang, Kampung Hasugian di Desa Siamporik Lombang, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, masih terisolasi dari akses utama.
Putusnya jalan penghubung membuat aktivitas warga terganggu, termasuk distribusi hasil pertanian yang menjadi sumber ekonomi utama.
Saat ini, akses menuju kampung hanya bisa dilalui kendaraan roda dua melalui jembatan kayu darurat yang dibangun secara swadaya oleh warga. Alternatif lain melalui jalan milik perusahaan perkebunan juga sangat terbatas.
Baca Juga: Nyalip Sembarangan di Jalinsum Toba, Tabrakan Beruntun Tewaskan Pemotor
Seorang warga, Rahman, mengungkapkan kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan masyarakat, terutama petani salak.
“Biaya angkut jadi lebih mahal dan lama. Dulu truk bisa langsung masuk kampung, sekarang tidak bisa,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).
Akibatnya, distribusi hasil panen menjadi terhambat dan berpotensi menurunkan nilai jual.
Infrastruktur Rusak Parah
Pantauan di lapangan menunjukkan kerusakan infrastruktur terjadi di sejumlah titik. Jalan penghubung mengalami kerusakan berat, mulai dari plat beton jebol, tebing jalan amblas, hingga badan jalan yang terputus total.
Baca Juga: Edarkan Ekstasi ke Tempat Hiburan, Pemuda 22 Tahun di Taput Diciduk Polisi
Kerusakan paling parah terjadi pada ruas jalan yang kini berubah menjadi alur sungai baru akibat pergeseran arus air.
Dampak lain dari bencana ini adalah rusaknya sistem irigasi. Pergeseran aliran sungai menyebabkan bendungan tidak lagi berfungsi, sehingga pasokan air ke persawahan warga terganggu.
Kondisi ini berpotensi memperparah kerugian warga jika tidak segera ditangani.
Warga Minta Perbaikan Segera
Masyarakat berharap pemerintah segera turun tangan memperbaiki infrastruktur jalan dan irigasi agar aktivitas ekonomi dan kehidupan sehari-hari dapat kembali normal.
Tanpa akses yang memadai, Kampung Hasugian berisiko terus terisolasi dan tertinggal dari wilayah lain di Tapanuli Selatan. (net)