Dr. Harli Siregar: Jaksa Masa Depan Harus Jago Public Speaking dan Pandai Jaga Citra Lembaga
Editor Satu• Senin, 4 Agustus 2025 | 17:02 WIB
Kajati Sumut Dr. Harli Siregar SH, M.Hum saat memberikan pembekalan materi public speaking kepada para siswa Pendidikan Pembentukan Jaksa (PPPJ) di Jakarta Selatan.
JAKARTA, METRODAILY – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sumatera Utara, Dr. Harli Siregar SH, M.Hum, menggebrak panggung pendidikan jaksa dengan materi penting: komunikasi publik dan public speaking.
Harli hadir sebagai widyaiswara (dosen pengajar) dalam program Pendidikan Pembentukan Jaksa (PPPJ) yang digelar oleh Badan Diklat Kejaksaan RI di Jakarta Selatan, Minggu (3/8/2025).
Dalam penyampaiannya, Harli menegaskan bahwa jaksa generasi baru harus menguasai ilmu komunikasi. Tak hanya bicara hukum, tetapi juga harus mampu menyampaikan pesan secara santun, tegas, dan efektif di hadapan publik.
“Jaksa itu bukan cuma penegak hukum, tapi juga komunikator lembaga. Kalau tidak bisa bicara di depan publik, citra Kejaksaan bisa rusak,” tegasnya.
Korps Adhyaksa Butuh Komunikator Andal
Menurut mantan Kapuspenkum Kejagung RI itu, kemampuan public speaking bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan strategis. Apalagi di era digital yang menuntut respons cepat dan komunikasi yang akurat lewat media sosial resmi institusi.
“Gunakan media sosial secara cepat, akurat, komunikatif, dan bertanggung jawab. Jangan sampai publik salah paham karena komunikasi kita lemah,” pesannya lantang.
Dr. Harli juga mengingatkan bahwa siswa PPPJ adalah aset penting Kejaksaan. Mereka harus mampu membangun dan menjaga citra Kejaksaan sebagai institusi yang profesional, humanis, dan dicintai rakyat.
“Jaksa wajib mengawal citra positif Kejaksaan. Jangan rusak kepercayaan publik karena salah bicara di depan media,” tandas Harli.
Bangun Saluran Informasi Resmi yang Efektif
Ia mendorong setiap jaksa ke depan memahami manajemen komunikasi kelembagaan, sehingga setiap pesan yang disampaikan mencerminkan posisi resmi institusi yang kredibel di mata masyarakat.
“Kita butuh sistem komunikasi yang solid. Jaksa harus belajar etika bicara, membentuk narasi publik yang sehat, dan tidak terpancing hoaks,” ujarnya menutup pembekalan. (rel/sya)