Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Rifiq Syahri, Dari Loper Koran Ikuti Jejak Sang Ayah Menjadi Wartawan Profesional

Pran Hasibuan • Sabtu, 23 November 2024 | 09:22 WIB
Rifiq Syahri, wartawan asal Kabupaten Labura yang memiliki trah dari sang ayah.
Rifiq Syahri, wartawan asal Kabupaten Labura yang memiliki trah dari sang ayah.

Oleh: Pran Hasibuan

LABUHANBATU, METRODAILY — Trah orang tua sedikit banyak mengalir dalam jiwa anak. Termasuk dalam hal memilih profesi pekerjaan yang akan digeluti di masa depan. Rifiq Syahri SH, salah satu yang mengalami trah orang tua di bidang jurnalistik.

Berbincang dengan Metrodaily.jawapos.com, Sabtu (23/11/2024), Rifiq Syahri mengungkapkan kilas balik dan kisah uniknya memulai perjalanan sebagai seorang jurnalis.

Diakui pria kelahiran Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara (Labura) ini, sudah menggeluti dunia jurnalistik sejak 2002. Ia sangat tertarik terjun di dunia seni menulis tersebut, lantaran ingin mengikuti jejak sang ayah, Rahmat Syahri.

"Di samping saya sudah menjadi wartawan saat itu, saya juga bersamaan dengan itu menjadi loper koran membantu ayah saya. Sewaktu itu saya masih kelas 2 SMA," kenang Rifiq. 

Rifiq menyadari bahwa darah jurnalis dari sang ayah benar-benar kental dalam tubuhnya. Selain membantu penjualan koran tempatnya bekerja dulu yakni Harian Realitas, bersama dengan sang ayah kerja di media cetak tersebut.

"Sejak saat itu saya mulai menyenangi dan menikmati menjadi seorang wartawan. Suka dukanya saya nikmati betul sampai saat ini," ujar ayah tiga orang anak tersebut.

Sang ayah benar-benar menjadi mentor jurnalistik yang luar biasa bagi Rafiq. Pengamalan dan jam terbangnya banyak terasah lantaran kerap didampingi sang ayah dalam menjalani profesi mulia tersebut. Terutama dalam hal menulis berita dan teknik dalam mendapatkan informasi.

"Sangat berjasa sekali ayah terhadap hidup saya sampai saat ini. Saya pun bangga menjadi seorang wartawan. Jati diri menjadi seorang wartawan akan saya pegang terus sampai akhir hayat," ucapnya penuh semangat.

Alumnus Universitas Labuhanbatu (ULB) 2008 ini juga mengungkap suka duka sebagai jurnalis selama 22 tahun. Antara lain pernah diteror saat melakukan peliputan gudang minyak di kampung halamannya.

"Sedikit pun saya tidak gentar saat itu. Apalagi saya masih muda waktu itu, belum kuliah pun. Saya hadapi saja orang-orang yang coba menghadang. Niat saya cuma ingin menjalankan tugas yakni melakukan konfirmasi," kisahnya.

Selain menantang dan penuh risiko, menjadi wartawan itu ternyata juga mengasyikkan. Bagi Rifiq Syahri, dari wartawan justru punya banyak pertemanan, jejaring, saudara bahkan keluarga baru.

"Itu asyiknya menggeluti jurnalistik. Di manapun kita selalu mendapat kawan baru, saudara baru tiap kita main ke daerah lain. Jika diselami dan ditekuni, seru betul jadi wartawan. Sama halnya kayak hari ini, kita ikut UKW (Uji Kompetensi Wartawan) bisa ketemu teman baru, koneksi baru dari berbagai daerah ," kata ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Labura periode 2015-2018 ini.

Rifiq kembali menekankan bahwa ingin memegang teguh profesi ini hingga akhir hayat.

"Ya, Insyaallah. Karena memang profesi ini sudah mendarah daging bagi saya sehingga jati diri inilah yang akan saya bawa terus sampai nanti mati," pungkas pria 40 tahun yang kini bernaung di media Waspada co.id tersebut. Saat itu Rafiq Syahri tengah mengikuti UKW ke-53 tingkat Madya yang digagas Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Labuhanbatu Raya. (*)

Editor : Prans Metro
#uji kompetensi wartawan (ukw) #Serikat Media Siber Indonesia #Rifiq Syahri #Smsi