Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Ziarah Makam Syekh Zainal Abidin Harahap, Nikson Nababan Sampaikan Pesan Pluralisme

Admin Metro Daily • Senin, 15 Juli 2024 | 18:32 WIB
Bacagubsu Nikson Nababan (tengah) ziarah kubur ke makam Syekh Zainal Abidin Harahap, pendiri masjid tertua di Kota Padangsidimpuan, Sabtu, 13 Juli 2024.
Bacagubsu Nikson Nababan (tengah) ziarah kubur ke makam Syekh Zainal Abidin Harahap, pendiri masjid tertua di Kota Padangsidimpuan, Sabtu, 13 Juli 2024.

SIDIMPUAN, METRODAILY — Tokoh Masyarakat Sumatera Utara, Nikson Nababan dalam setiap kunjungannya bertemu masyarakat, selalu menyempatkan diri berziarah, baik kerabatnya maupun tokoh masyarakat, bahkan ulama yang ada di suatu daerah. Kali ini, Nikson berziarah ke makam seorang ulama kharismatik di Kota Padangsidimpuan, Sabtu (13/7/2024).

Sosoknya yaitu Syekh Zainal Abidin Harahap, pendiri masjid tertua yang kini masjid itu diabadikan menjadi namanya. Dirinya dikenal sebagai seorang ulama terkemuka di zamannya. Lokasi masjid dan makam tak begitu jauh, tepatnya di Desa Pudun, Kecamatan Batunadua, Kota Padangsidimpuan.

Kehadiran Nikson Nababan beserta rombongan saat itu, disambut langsung Ketua Yayasan Syekh Zainal Abidin Harahap, Ustaz Mombang Harahap, bersama Imam Masjid, Ustaz Agus Panisean.

Sesampainya di makam, Imam Masjid Agus Panisean langsung bermunajat, bersalawat serta membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Nikson Nababan dengan hidmat mengikuti prosesi nyekar ke makam ulama yang wafat pada 1903 ini.

Usai berziarah, Ketua Yayasan Mombang Harahap, mengajak Nikson Nababan dan tim mengunjungi Masjid Syekh Zainal Abidin Harahap. Kemudian, pengurus yayasan pun menjelaskan keunikan masjid itu.

Wajah kagum Nikson pun terpancar saat Ketua Yayasan Syekh Zainal Abidin, Syekh Zainal Abidin menjelaskan keunikan masjid tersebut.

"Bangunannya masih tampak asli. Saya kagum dengan ulama-ulama kita dahulu. Mereka orang-orang taat dalam agama dan masih meninggalkan sejarah," ungkap mantan bupati Tapanuli Utara dua periode itu. "Sebagai orang yang sangat menghargai keberagaman, saya kagum dengan masjid ini. Tadi juga diajak berziarah dan berdoa. Salam saya untuk seluruh jamaah masjid, dan masyarakat Padangsidimpuan," ucap Nikson sebagai pesan pluralisme.

Nikson, Bakal Calon Gubernur Sumut dan rombongan juga dipersilakan menimba air sumur, yang konon dibuat sendiri oleh Syekh Zainal Abidin, dengan menancapkan tongkatnya di tanah. Sumur itu juga disebut tak pernah kering bahkan saat kemarau sekali pun. Airnya, dipercaya bisa mengobati berbagai penyakit, sesuai niat setiap orang yang mengambilnya masing-masing.

"Masjid ini dibangun oleh Tuan Syekh (Zainal Abidin), bersama murid-murid dan pengikutnya saat itu, sekira tahun 1880. Bangunannya sebagian besar masih asli, termasuk beton dan beberapa tiangnya. Sebagian kecil memang sudah dipugar dan diganti karena lapuk dimakan usia," ujar Mombang Harahap.

Mombang menyebut, desain masjid itu penuh makna.

"Di antaranya pintunya hanya satu, dan lebih kecil dan rendah dari kebanyakan pintu-pintu masjid lain. Maknanya setiap orang yang masuk harusnya tunduk hanya kepada Allah saja," katanya.

Termasuk tiang tunggal yang ada di dalam masjid. "Itu menandakan Allah Yang Maha Esa, bisa dilihat sendiri, hanya ada satu tiang di tengah dalam masjid," sambungnya.

Juga tak kalah menarik, di bagian dinding depan masjid terdapat corak lukisan simbol dan ayat Al-Qur'an yang ternyata penuh makna dan nilai-nilai Tauhid. Ada doa iftitah di sebelah kanan, dan Surah Al-Fatihah di sebelah kirinya. Di dinding tersebut juga ada simbol-simbol tauhid, yang dibuat sendiri Syekh Zainal Abidin Harahap, sebagai syiar agama yang beliau ajarkan kala itu.

"Ada gambar timbangan sebagai pengukur yang bermakna keseimbangan antara amal dan kehidupan kita," tuturnya lagi.

"Ada gambar lidah dan gunting sebagai simbol pemutus amal adalah ucapan kita. Awalnya kami juga tidak mengetahui apa makna-makna yang terkandung pada tulisan-tulisan ini. Dahulu, ada seorang ulama yang dikatakan datang dari Mekkah, dan memberitahukan arti dari tulisan itu."

Dikatakan juga, konon Syekh Zainal Abidin Harahap pernah menempuh perjalanan menuju Kota Mekkah guna memperdalam ilmu agama sampai akhirnya kembali ke kampung halamannya Desa Pudun Jae Batunadua, Padangsidimpuan.

Syekh Zainal Abidin diketahui lahir pada 1810, dan wafat di desa itu pada1903. (*)

Editor : Prans Metro
#Syekh Zainal Abidin Harahap #nikson nababan #kota padangsidimpuan #bacagubsu