BALIGE, METRODAILY – Balige Writers Festival (BWF) terus mengukuhkan posisinya sebagai salah satu ajang literasi paling bergengsi di Sumatera Utara. Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, festival sastra yang digelar di Kabupaten Toba itu kini resmi masuk dalam agenda sastra dan literasi nasional.
Pendiri Balige Writers Festival, Nestor Rico Tambun, menyebut capaian tersebut menjadi pengakuan atas konsistensi BWF dalam mengembangkan dunia literasi sekaligus membuka peluang untuk memperoleh dukungan yang lebih besar dari pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.
"Nama Balige Writers Festival sudah ada di agenda sastra nasional. Itu menjadi modal besar agar festival ini terus berkembang," ujar Nestor usai pelaksanaan Balige Writers Festival 2026 di Toba Art Space, Balige, Sabtu (1/8).
Baca Juga: Bupati Tapteng Disebut Belum Teken Lahan Huntap, Kadis Perkim Membantah
Bertahan Berkat Relawan
Di balik keberhasilan BWF bertahan hingga lima tahun, Nestor menilai peran para relawan menjadi faktor utama.
Menurut wartawan senior asal Toba itu, sejak awal festival digerakkan oleh orang-orang yang bekerja secara sukarela demi menjaga keberlangsungan gerakan literasi, bukan karena imbalan finansial.
"Festival ini bisa terus berjalan karena ada orang-orang yang mau bekerja tanpa pamrih. Mereka bekerja bukan karena uang, tetapi karena ingin festival ini tetap hidup," katanya.
Baca Juga: Manchester United Bangkit, Mbeumo Cetak Brace, Atletico Madrid Dipaksa Menyerah 2-1
Ia menyebut sejumlah nama seperti Grace Doloksaribu dan Ita Siregar sebagai bagian dari tim yang selama ini konsisten menjaga keberlangsungan festival.
Lahirkan Penulis Baru
Nestor mengatakan kualitas Balige Writers Festival terus meningkat, terutama melalui program Emerging Writers yang menjadi wadah pembinaan penulis muda.
Dalam dua tahun terakhir, program tersebut mendapat dukungan dari Manajemen Talenta Nasional Sastra dan Budaya Kementerian Kebudayaan, sehingga peserta memperoleh pelatihan intensif bersama para mentor nasional sebelum mengikuti festival.
Hasilnya mulai terlihat. Sejumlah peserta Emerging Writers kini telah berhasil menerbitkan karya di penerbit nasional.
Baca Juga: Pemprov Pastikan Seluruh Kabupaten/Kota di Sumut Mampu Bayar Gaji ASN
"Dari tahun ke tahun kualitas penulis semakin baik. Bahkan beberapa peserta sudah berhasil menerbitkan buku di penerbit nasional," ujarnya.
Di balik pencapaian tersebut, Nestor mengakui tantangan terbesar yang masih dihadapi BWF adalah keterbatasan pendanaan dan belum kuatnya ekosistem literasi di daerah.
Selama ini, kata dia, dukungan paling konsisten datang dari PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), sementara kontribusi dari pihak lain masih terbatas.
"Festival literasi tidak cukup hanya memiliki konsep yang baik. Harus ada dukungan pendanaan dan masyarakat yang ikut mengapresiasi. Sejak awal yang paling konsisten membantu adalah Inalum," katanya.
Ia juga menilai minat masyarakat terhadap kegiatan sastra masih perlu terus ditumbuhkan, termasuk melalui dunia pendidikan.
Program Sastrawan Masuk Sekolah yang sebelumnya menjadi salah satu agenda unggulan BWF belum dapat dilaksanakan tahun ini karena keterbatasan anggaran dan fasilitas.
"Ekosistem literasi harus dibangun. Bukan hanya festivalnya, tetapi juga masyarakat, sekolah, dan kader-kader yang nantinya melanjutkan gerakan literasi ini," ujarnya.
Harap Dukungan Pemkab Toba Lebih Terencana
Nestor berharap Pemerintah Kabupaten Toba mulai memberikan dukungan yang lebih sistematis terhadap penyelenggaraan Balige Writers Festival.
Baca Juga: Tembok Ponpes Darussalam Roboh Saat Hujan Deras, Lima Warga Terluka
Menurutnya, bantuan pemerintah tidak bisa hanya bersifat insidental, tetapi harus direncanakan sejak awal melalui mekanisme penganggaran daerah.
"Kalau ingin mendapatkan dukungan yang lebih besar, proposal harus diajukan sejak awal agar bisa masuk dalam perencanaan anggaran pemerintah. Selama ini bantuan yang diterima masih lebih banyak bersifat insidental," jelasnya.
Ia mencontohkan sejumlah festival sastra di daerah lain yang mampu berkembang karena telah menjadi bagian dari program resmi pemerintah daerah dengan dukungan anggaran yang memadai.
Nestor optimistis Balige Writers Festival layak memperoleh perhatian serupa karena telah membawa nama Balige dan Kabupaten Toba ke tingkat nasional melalui karya-karya para penulis yang lahir dari festival tersebut.
Baca Juga: Sungai Sikam Meluap, 150 Rumah di Simalungun Kebanjiran, Jalinsum Lumpuh
"Balige Writers Festival sudah melahirkan banyak buku dan membawa nama Balige ke tingkat nasional. Ke depan saya berharap dukungan terhadap festival ini lebih terencana agar BWF terus tumbuh dan memberi manfaat bagi perkembangan literasi Indonesia," pungkasnya. (net)
Editor : Editor Satu