Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pembelajaran Aktif di SD Hangtuah 1 Belawan (1): Dulu Sering Kena Banjir Rob, Cara Guru Mengajar pun Pasif dan Konvensional

Editor Satu • Jumat, 6 Desember 2024 | 13:51 WIB
Kepala Sekolah SD Hangtuah 1 Belawan, Pujiati, Foto bersama beberapa anak muridnya usai jam pelajaran sekolah, belum lama ini.
Kepala Sekolah SD Hangtuah 1 Belawan, Pujiati, Foto bersama beberapa anak muridnya usai jam pelajaran sekolah, belum lama ini.

Berdiri sejak tahun 1966, tahun ini usia SD Swasta Hangtuah 1 Medan Belawan genap 58 tahun. Sebelum didampingi Tanoto Foundation dalam program Medan Initiative sejak tahun 2019 lalu, proses pembelajaran di sekolah yang berlokasi di wilayah pesisir Kota Medan itu relatif mirip dengan sekolah lainnya. Pasif dan konvensional.

---------------------------

Dame Ambarita, Belawan

---------------------------

SD Hangtuah 1 Belawan yang terletak di Jalan Veteran, berjarak sekitar 100 meter dari perairan Belawan, Kamis (28/11) pagi itu terlihat basah. Air setinggi 2 cm merendam halaman sekolah di tengah hujan yang terus mengguyur Kota Medan sejak Rabu (27/11). Medan Belawan relatif lebih aman dari banjir dibanding dua kecamatan tetangganya, Medan Deli dan Medan Labuhan, yang permukimannya terendam banjir hari itu.

“Hujannya memang deras sejak kemarin hingga hari ini. Tapi sekolah kami cukup aman dari banjir. Bahkan sekarang juga aman dari banjir rob (air pasang, Red), sejak Pak Wali Kota Medan membangun tanggul rob dua tahun lalu,” kata Pujiati, Kepala Sekolah SD Hangtuah 1, saat ditemui di ruangannya.

Meski baru dua tahun lebih memimpin sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Hangtuah milik Angkatan Laut tersebut, Pujiati menyebut dirinya sempat merasakan banjir rob. “Saya diangkat menjadi kepala sekolah di sini sejak tahun 2022. Dulunya saya guru di SD Hangtuah 2 di Titi Papan, Medan Deli. Awal masuk ke SD Hangtuah 1, saya masih merasakan banjir rob yang kadang masuk hingga ke ruangan kelas,” katanya.

Jika banjir rob terjadi malam hari, kegiatan belajar mengajar bisa tetap berlangsung keesokan harinya karena banjir akan surut dalam tempo sekitar 3 jam. “Tapi kalau terjadi pagi hari, misalnya jam 3 atau jam 4 dinihari, kegiatan belajar mengajar biasanya kita liburkan. Pengumuman disampaikan via grup-grup WhatsApp,” katanya.

Pantauan di sekolah, jejak banjir rob selama belasan tahun masih tersisa di dinding ruangan kelas hingga sekitar 30-40 cm dari lantai. Juga terlihat dari lemari arsip yang bagian bawahnya membusuk, serta karat di besi penopang lemari.

Sebelum tanggul rob dibangun, intensitas banjir rob naik hingga ke dalam kelas bisa terjadi sekali sebulan. Kondisi ini menyebabkan sekolah kerap diliburkan. Pasalnya tinggi banjir bisa mencapai 40 cm.

Tahun 2019, kata Pujiati, Tanoto Foundation mulai mendampingi dua sekolah di bawah Yayasan Hangtuah, yakni SD Hangtuah 1 Belawan dan SD Hangtuah 2 Medan Deli. Saat itu, Pujiati yang masih guru di SD Hangtuah 2, merasakan langsung intervensi Tanoto Foundation melatih para guru.

“Terus terang, dulu sebelum Tanoto masuk, cara saya dan para guru lainnya mengajar itu agak pasif, monoton, dan konvensional. Contohnya, kami sering mengajar sambil duduk di kursi. Hanya fokus menyampaikan materi ajar selesai sesuai jadwal. Kadang bahkan hanya bilang: “Anak-anak, buka buku halaman sekian. Baca ya. Jadi kami tidak fokus pada kebutuhan anak,” kenang Pujiati.

Metode pembelajaran pasif serupa juga berlangsung di SD Hangtuah 1, yang dulunya merupakan gabungan dari SD Hangtuah 1, 3, dan 4 Belawan. “Ya relatif mirip-miriplah cara pembelajaran para guru waktu itu. Kami masuk ke kelas, duduk di kursi. Menerangkan satu arah. Belum interaktif seperti metode pembelajaran aktif,” cetusnya.

Sejak Tanoto Foundation melatih guru dan kepala sekolah dalam program PINTAR sejak tahun 2019, wawasan guru bertambah. Cara mengajar pun mulai berubah. “Misalnya ya, kami diajari bahwa mengajar itu sebaiknya lebih banyak berdiri daripada duduk. Ciptakan ice breaking sebelum memulai pelajaran. Perbanyak interaksi dengan murid. Biasakan tatap mata. Adakan kuis di akhir pelajaran. Usahakan ada alat peraga, dan seterusnya. Intinya membuat pembelajaran aktif dan menyenangkan, sehingga tujuan pembelajaran tercapai,” kata Pujiati.

Berangkat dari hasil pelatihan Tanoto Foundation, Pujiati yang saat itu mengajar di kelas 3 SD, mulai praktek di kelas. Misalnya, dia menciptakan ice breaking selamat pagi, yang harus dijawab dengan yel-yel khusus: “Pagi, pagi, pagi, luar biasa!”

Ia juga membawa media peraga ke kelas, berupa karton yang sudah digambar bentuk jam dinding berikut jarum jamnya, ke dalam kelas. Lantas ia mengajarkan cara membaca jam dinding.

“Saya jelaskan mana penunjuk jam, mana penunjuk menit, mana penunjuk detik. Saya tunjukkan, kalau jarum jam yang pendek berpindah ke satu angka berikutnya, artinya bertambah 1 jam. Kalau jarum menit yang lebih panjang berpindah dari satu angka ke angka berikutnya, artinya bertambah 5 menit. Kalau jarum detik berpindah ke angka berikutnya, artinya bertambah 5 detik, dan seterusnya,” kata Pujiati.

Dengan langsung praktek membawa alat peraga berupa gambar jam ke depan kelas, anak-anak didiknya diajak mengalami lewat praktek langsung mengatur jarum jam sesuai waktu yang disebut guru. “Di saat anak-anak kelas 3 lainnya masih banyak yang kesulitan cara membaca jam, murid-murid kelas saya saat itu sudah bisa membaca posisi jam. Bahkan seandainya jarum menit berada di tengah-tengah dua angka, mereka bisa membacanya,” kata Pujiati bangga.

Ia juga rutin membuat kuis. Misalnya untuk pelajaran PPKN, ia pernah membawa poster berisi pelajaran mengenai dasar negara Pancasila dan lambang negara Burung Garuda ke dalam kelas.

Kegiatan Pramuka di SD Hangtuah 1 Belawan.
Kegiatan Pramuka di SD Hangtuah 1 Belawan.

Setelah menerangkan tentang sila-sila Pancasila, ia menyuruh anak-anak menyebutkan sila mana yang sudah dikenal dan dipahami. Misalnya, Pujiati menggambar lambang Bintang, lantas murid ditanya itu lambang sila keberapa dan apa isinya. Atau, ia membacakan sebuah sila dan bertanya itu sila ke berapa dan apa lambangnya. Dan seterusnya.

Ia juga mempraktekkan metode yang menyenangkan untuk pelajaran Matematika. Misalnya untuk materi perkalian, ia membuat kuis menjelang pulang sekolah. Anak-anak disuruh berbaris dan menjawab pertanyaan seputar perkalian.

“Misalnya, saya tanya 3x3 berapa? Jika si anak menjawab benar, ia boleh langsung pulang. Ditanya 4x4, yang menjawab benar boleh pulang, dan seterusnya. Yang menjawab salah, pindah ke belakang barisan dan menunggu giliran ditanya ulang. Dengan cara ini, kita membuat anak-anak senang mengingat perkalian dan merasa pelajaran Matematika itu tidak perlu ditakuti,” cetusnya,

Seluruh praktek pembelajaran aktif itu, diakuinya, tidak hanya membuat anak-anak antusias belajar. Hasil belajar juga meningkat. “Sejak produk pelatihan Tanoto itu saya tuangkan di dalam kelas, alhamdulillah, hasil belajar siswa meningkat. Khususnya soal pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Membaca,” katanya.

Tahun 2022, Pujiati diangkat menjadi kepala sekolah di SD Hangtuah 1, setelah 8 orang guru senior beserta kepala sekolah SD itu resign karena lulus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Para guru senior itu sebelumnya telah ikut pelatihan Tanoto Foundation dan relatif telah mulai mempraktekkan pembelajaran aktif.

Tahun pertama menjadi kepala sekolah menjadi masa penuh tantangan bagi Pujiati. Pasalnya, sekolah kehilangan guru dalam jumlah banyak. Masyarakat setempat pun mendengar kabar itu. Ditambah lagi masih ada suasana Covid-19. “Tahun itu, murid baru yang mendaftar hanya 1 rombel (rombongan belajar) dengan 17 murid. Padahal biasanya ada 2 rombel setiap tahun ajaran baru,” ungkapnya.

Sebagai kepala sekolah baru, ia harus bekerja keras meraih kembali kepercayaan masyarakat. Pihak Yayasan merekrut guru-guru baru yang masih muda-muda. Dan Pujiati berupaya semaksimal mungkin merangkul para guru dan orangtua murid.

Untungnya, Tanoto Foundation tetap setia mendampingi. Sebagai kasek baru, Pujiati meminta tim Tanoto Foundation bersedia melatih kembali guru-guru yang baru direkrut itu, dengan materi seputar pembelajaran aktif MIKiR, yakni Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi. MIKiR merupakan konsep pembelajaran yang mengajak anak untuk terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.

Adapun dirinya sebagai kepala sekolah, mendapat pelatihan soal manajemen sekolah yang baik.

Keunggulan pendampingan dari Tanoto Foundation, menurutnya, adalah adanya supervisi atas praktek pembelajaran yang diterapkan usai pelatihan. “Ada umpan balik. Usai pelatihan, kami tidak dilepas begitu saja. Tanoto tetap melakukan supervisi, dan memberi masukan serta saran-saran perbaikan mengenai bahan, metode, dan evaluasi pengajaran secara kontiniu,” katanya.

Ia mengakui, awalnya guru-guru baru itu bertanya, kok mesti belajar lagi? Tapi setelah ikut pelatihan, mereka mengakui manfaatnya. “Alhamdulillah, karena masih muda, guru-guru baru itu lebih mudah beradaptasi dengan metode pembelajaran aktif dan lebih melek teknologi,” katanya.

Pujiati juga berupaya merangkul para guru untuk melakukan pembelajaran aktif di seluruh mata pelajaran. Baik Kelas Rendah (kelas 1, 2, dan 3), maupun kelas Tinggi (kelas 4, 5, dan 6). “Tapi paling seringnya Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, PPKN, dan SBK (Seni Budaya dan Keterampilan),” katanya.

Ia juga mengajak orangtua siswa ikut bekerjasama dengan para guru meningkatkan kepercayaan masyarakat. Sejumlah kegiatan seperti pentas seni dan jam literasi, rutin digelar. “Alhamdulillah, semuanya menunjukkan hasil baik,” katanya.

Tahun 2023 dan 2024, dengan seluruh praktek baik yang mereka terapkan, jumlah murid baru kembali meningkat menjadi dua rombel setiap tahun. Satu rombel berisi 17 siswa. Saat ini, SD 1 Hangtuah memiliki total jumlah murid sebanyak 187 siswa, yang dibagi dalam 11 kelas. Tiap kelas ada 2 rombel kecuali siswa kelas 3 yang hanya 1 rombel. (mea/bersambung)

Editor : Editor Satu
#program pintar tanoto foundation #SD Hangtuah 1 Belawan #Pembelajaran Aktif