Oleh: PRAN HASIBUAN
Rakyat Indonesia akan kembali menjalani event akbar politik pada November mendatang. Yakni Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada serentak. Tak terkecuali bagi rakyat di wilayah Sumatera Utara. Yang sekira tujuh bulan ke depan akan mulai merasakan lagi mobilisasi dari para elit partai politik maupun tim pemenangan pasangan calon.
Terkhusus Pemilihan Gubernur Sumatera Utara atau Pilgubsu 2024, mulai terasa hangat akhir-akhir ini. Sejumlah media mainstream telah mengulik nama-nama tokoh potensial yang bakal maju dalam kontestasi tersebut. Sebut saja seperti Edy Rahmayadi (Gubsu periode 2018-2023), Musa Rajekshah alias Ijeck (Wagubsu 2018-2023), Bobby Nasution (Wali Kota Medan), Nikson Nababan (eks Bupati Tapanuli Utara dua periode), dan Gus Irawan Pasaribu (Ketua Partai Gerindra Sumut dan Anggota DPR RI).
Dari sejumlah tokoh tersebut, amatan penulis, praktis hanya Gus Irawan Pasaribu yang belum mencolok gaungnya. Hanya saja, Partai Gerindra Sumut menegaskan akan mengusung kadernya sendiri dalam arena Pilgubsu nanti. Bahkan orang dekat di sekeliling Gus Irawan, membenarkan kabar bahwa ketua mereka itu cukup siap kembali bertarung sebagai kontestan. Gus Irawan disebut akan menjadi kuda hitam dalam kontestasi kali ini. Mengingat pada Pilgubsu 2013-2018, dia bersama Soekirman (Bupati Serdang Bedagai kala itu) adalah peserta Pilgubsu melawan petahana Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho. Sementara empat tokoh lainnya, sudah memberi sinyal atau bahkan terang-terangan menyatakan sikap untuk maju.
Peta Koalisi
Disamping nama-nama populis tersebut, sejumlah tokoh lain ikut digadang-gadang akan meramaikan bursa Cawagubsu. Sebut saja seperti Dedi Iskandar Batubara (Anggota DPD RI), Ir Zahir (eks Bupati Batu Bara), Ashari Tambunan (eks Bupati Deli Serdang), Darma Wijaya (Bupati Serdang Bedagai), Tifatul Sembiring (Anggota DPR RI), Harun Mustafa Nasution (Wakil Ketua DPRD Sumut), hingga Abyadi Siregar (eks Kepala Ombudsman Perwakilan Sumut dua periode).
Menarik diikuti arah peta koalisi parpol di legislatif Sumut dalam menyaring dan mengusung para tokoh yang ada itu. Terutama bagi mereka yang nonpengurus dan kader parpol. Tentu saja diperlukan kerja ekstra untuk lakukan lobi-lobi politik terhadap para ketum partai di Jakarta.
Edy Rahmayadi, misalnya, paling mungkin untuk melobi Partai NasDem, Pantai Kebangkitan Bangsa, Partai Keadilan Sejahtera, dan PDI Perjuangan. Mengingat dia adalah Ketua Timnas AMIN Sumut di Pilpres lalu. Nah, menariknya, upaya merebut 'sampan' PDIP di Pilgubsu 2024 ini bagi Edy Rahmayadi, dengan meyakinkan partai besutan Megawati Soekarnoputri mampu menjadi pemenang di Sumut. Yang mana dalam dua edisi sebelumnya, PDIP selalu keok dari Golkar, PKS bahkan Gerindra dan juga NasDem. Terlebih di Sumut, 'pasangan pelangi' memiliki kekuatan yang dahsyat untuk memenangkan kontestasi.
Meski tak berpartai, Edy Rahmayadi yang notabene eks Pangkostrad dan Pangdam I/BB itu, masih sangat populer bagi rakyat Sumut. Lima tahun Sumut dipimpinnya, paling terasa adalah dia mampu memberikan rasa aman terhadap masyarakat. Pun soal program kerja, Edy juga cukup baik dalam mengimplementasikan visi misinya yang berslogan 'Sumut Bermartabat'. Walau begitu tak ada kepemimpinan yang sempurna. Tetapi setidaknya ini modal dasar dan kekuatan tersendiri untuk Edy Rahmayadi dibanding calon lainnya. Sehingga Edy Rahmayadi bisa saja nantinya berpasangan dengan Nikson Nababan/Ir Zahir, Ashari Tambunan, dan Tifatul Sembiring.
Adapun rival terberat Edy Rahmayadi tentu Bobby Nasution. Tak lain tak bukan, karena predikatnya sebagai mantu Presiden Joko Widodo. Soal kinerjanya hampir lima tahun di ibukota Provinsi Sumut, Bobby Nasution belum bagus-bagus amat. Terutama dalam pengentasan kemiskinan, pembukaan lapangan kerja hingga persoalan banjir yang masih menghantui warga Kota Medan. Di sisi lain, proyek pembangunan infrastruktur memang cukup menggeliat, tetapi sejauh ini belum ada mahakarya yang menonjol sebagai legacy-nya nanti.
Rival Berat
Tokoh lain saingan Edy Rahmayadi selaku petahana tentulah eks wakilnya dulu, Ijeck. Sebagai Ketua Golkar Sumut, Ijeck telah menunjukkan kerja nyata. Lewat tangan dinginnya, Golkar Sumut dibawanya kembali berjaya. Yang turut menyumbangkan perolehan secara nasional sebagai parpol runner up di bawah PDIP. Ketum Partai Golkar, Airlangga Hartanto, tentu harus cermat dan bijaksana menyikapi hal ini. Jangan sampai salah kasih restu ke sosok lain apalagi nonkader 'kuning'. Jika tidak, Golkar Sumut bisa-bisa 'keos' lagi dan dijabat pelaksana tugas ketua sebelum Ijeck diberi mandat menakhodai. Akan tetapi dalam politik segala sesuatu bisa saja terjadi. Apalagi melihat romantisme antara Airlangga dengan Jokowi, Prabowo hingga Zulkifli Hasan. Bisa saja Koalisi Indonesia Maju (KIM) masih terjalin harmonis untuk Pilgubsu nanti. Kalau begini, bisa saja skemanya Bobby Nasution - Musa Rajekshah, atau Musa Rajekshah - Harun Mustafa Nasution. Bisa pula mengambil nonkader seperti sosok Dedi Iskandar Batubara sebagai wakil, baik mendampingi Bobby maupun Ijeck.
Kemudian terkhusus PDIP, jika kukuh ingin mencalonkan kadernya, mestilah merupakan sosok yang benar-benar mumpuni dan merakyat. Namun dari nama-nama yang tersedia di daerah ini, sepertinya cukup sulit menandingi figur dari lawan politik mereka. Apalagi dalam sepuluh tahun belakangan ini, partai banteng moncong putih terlihat mengalami krisis dalam hal figur mumpuni untuk jadi calon 'Sumut 1'. Saking 'pedenya', sebagai contoh di Pilgubsu lalu, Megawati Soekarnoputri memplot Djarot Syaiful Hidayat yang notabene bukan putra daerah asal Sumut.
Sebagaimana Peraturan KPU (PKPU) Nomor 2 Tahun 2024 Tentang Tahapan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2024, tahapan pemungutan suara Pilgubsu akan berlangsung 27 November. Kemudian dilanjutkan penghitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara pada 27 November sampai Desember 2024.
Dari beragam jawaban para calon kandidat lewat media, menarik rasanya untuk mengutip istilah merebut kepemimpinan Sumut dengan cara-cara halal seperti yang diungkapkan Edy Rahmayadi, belum lama ini. Sekaliber tokoh nasional sepertinya, tentulah berkomentar macam itu karena telah mencermati betul situasi dan kondisi politik selama perhelatan Pemilu. Apalagi di masanya pertama kali sebagai kontestan, Pilgubsu cenderung positif dan berlangsung aman. Meski terjadi polarisasi di masyarakat, tetapi isu-isu kecurangan pemilihan hampir tak ada terdengar. Begitu juga dengan perhelatan Pilgubsu periode yang lalu-lalu, amat dirasakan berlangsung damai dan gembira.
Sebab dengan pesta demokrasi yang sehat dan gembira, akan melahirkan kepemimpinan yang legitimate dan bermartabat serta merangkul semua elemen masyarakat setelahnya untuk bahu membahu membangun Sumatera Utara yang lebih baik. ***
Editor : Prans Metro