JAKARTA, METRODAILY – Gencatan senjata antara Israel dan Lebanon membuka peluang baru menuju stabilitas kawasan. Namun, prospek perdamaian masih dibayangi kendali kuat Hezbollah yang dinilai menjadi penghambat utama implementasi kesepakatan.
Pembicaraan yang difasilitasi United States di Washington menandai momen penting, karena untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade kedua pihak menunjukkan kesamaan pandangan terkait sumber konflik, yakni aktivitas Hezbollah yang didukung Iran.
Meski demikian, kesamaan persepsi tersebut belum cukup menjamin terwujudnya perdamaian nyata di lapangan.
Baca Juga: Kasus Dugaan Pungli DPRD Medan ‘Menghilang’? APH Bungkam
Kesepakatan Ada, Kendali Tidak
Dalam pertemuan itu, perwakilan Israel menegaskan visi jangka panjang berupa hubungan normal antarnegara. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengingatkan bahwa proses ini bukan hasil instan.
“Ini adalah proses, bukan sebuah peristiwa,” ujarnya.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemerintah Lebanon belum sepenuhnya mampu mengendalikan situasi domestik. Serangan roket dan drone ke wilayah Israel tetap dilakukan oleh Hezbollah, yang beroperasi di luar kendali penuh negara.
Keterbatasan pemerintah Lebanon terlihat dari ketidakmampuannya menegakkan keputusan politik. Salah satu contoh adalah kegagalan mengusir diplomat Iran yang telah dinyatakan persona non grata.
Baca Juga: GSN Belawan Bongkar Sarang Sabu: Bandar dan Dua Pengguna Ditangkap
Situasi ini menegaskan bahwa:
- Pemerintah Lebanon memiliki niat diplomatik
- Namun tidak memiliki kekuatan eksekusi
Kondisi tersebut menjadi dilema serius dalam setiap upaya perdamaian.
Paradoks Perundingan: Aktor Kunci Absen
Pembicaraan Israel–Lebanon juga menghadapi kontradiksi mendasar. Pihak yang menjadi inti persoalan, yakni Hezbollah, tidak terlibat dalam negosiasi.
Akibatnya:
- Kesepakatan berpotensi kuat secara diplomatik
- Tetapi lemah dalam implementasi
Baca Juga: Ruko CBD Helvetia Diduga Tanpa PBG, Jaksa Diminta Usut Potensi Kebocoran PAD
Hezbollah bahkan secara terbuka menolak proses tersebut dan tetap melanjutkan aktivitas militernya.
Strategi AS: Lepaskan Lebanon dari Pengaruh Iran
Amerika Serikat mencoba mengubah pendekatan dengan memisahkan jalur diplomasi Lebanon dari negosiasi dengan Iran. Tujuannya adalah memperkuat posisi Lebanon sebagai negara berdaulat, bukan sekadar perpanjangan kepentingan Teheran.
Langkah ini mencakup:
- Dorongan negosiasi langsung Israel–Lebanon
- Skema zona demiliterisasi di Lebanon selatan
- Pengawasan keamanan internasional
Baca Juga: 6 Bulan atau Dievaluasi, Rico Waas Ultimatum Pejabat Baru
Namun, efektivitasnya masih dipertanyakan selama Hezbollah tetap dominan.
Di tengah ketidakpastian, terdapat sejumlah faktor yang membuka peluang:
- Melemahnya kapasitas Hezbollah
- Tekanan ekonomi berat di Lebanon
- Meningkatnya kelelahan publik akibat konflik berkepanjangan
Meski begitu, pengalaman gencatan senjata sebelumnya menunjukkan bahwa kesepakatan sering gagal di tahap implementasi.
Baca Juga: Rico Waas Lepas 1.883 Jemaah Haji Medan: Jamaah Termuda 15 Tahun, Tertua 89 Tahun
Kesimpulan: Damai Masih Jauh
Pembicaraan ini memang menandai perubahan penting dalam cara melihat konflik. Namun, realitas di lapangan belum berubah signifikan.
Selama Hezbollah masih memegang kendali militer dan politik di luar otoritas negara, peluang perdamaian antara Israel dan Lebanon akan tetap terbatas.
Dengan demikian, gencatan senjata saat ini lebih tepat dilihat sebagai jendela peluang sempit, bukan jaminan menuju stabilitas jangka panjang. (jpc)
Editor : Editor Satu