Paus Fransiskus Wafat di Usia 88 Tahun, Penutup Zaman Reformasi di Vatikan
Admin Metro Daily• Senin, 21 April 2025 | 16:59 WIB
aus Fransiskus, pemimpin spiritual lebih dari satu miliar umat Katolik di seluruh dunia, wafat pada Senin pagi (21/4) pukul 07.35 waktu Roma dalam usia 88 tahun.
VATIKAN, METRODAILY – Dunia Katolik berduka. Paus Fransiskus, pemimpin spiritual lebih dari satu miliar umat Katolik di seluruh dunia, wafat pada Senin pagi (21/4) pukul 07.35 waktu Roma dalam usia 88 tahun, setelah berjuang panjang melawan penyakit pernapasan dan komplikasi ginjal.
Kabar wafatnya disampaikan langsung oleh Kardinal Kevin Farrell melalui siaran resmi Vatikan.
"Dengan kesedihan mendalam, saya mengumumkan bahwa Bapa Suci kita, Fransiskus, telah kembali ke rumah Bapa," ujar Kardinal Farrell.
Wafatnya Paus Fransiskus menandai akhir dari satu era penting dalam sejarah modern Gereja Katolik: era keterbukaan, reformasi, dan dialog lintas batas yang kerap memicu pujian sekaligus kontroversi.
Lahir di Buenos Aires, Argentina, dari keluarga imigran Italia, Jorge Mario Bergoglio—nama lahir Paus Fransiskus—menjadi Paus pertama dari benua Amerika dan juga Paus Jesuit pertama dalam sejarah Gereja.
Karier imamatnya dimulai sebagai guru dan teolog, sebelum diangkat menjadi Uskup Agung Buenos Aires dan Kardinal. Ditahbiskan sebagai Paus pada tahun 2013, ia dengan cepat menandai kepemimpinannya dengan gaya hidup sederhana dan agenda reformasi yang progresif.
"Umatku adalah orang miskin, dan aku adalah bagian dari mereka," adalah kutipan yang berulang kali menggambarkan filosofi hidupnya.
Pemimpin Reformis di Tengah Tradisi Kuno
Paus Fransiskus dikenal luas karena membuka ruang dialog dalam isu-isu sensitif: dari penerimaan terhadap kaum LGBTQ+, transparansi finansial Vatikan, hingga keberpihakan terhadap isu lingkungan dan pengungsi. Ia bahkan menerbitkan pedoman baru yang memperbolehkan pria gay menjadi imam di bawah kaul selibat.
Namun keberaniannya juga mengundang kritik, baik dari kalangan konservatif di dalam Gereja maupun dari dunia politik. Di tengah perang Israel-Hamas, misalnya, komentarnya yang mengecam kekerasan dan menyuarakan empati terhadap warga sipil Palestina menuai protes keras dari pihak Israel.
Sejak awal 2025, kesehatan Fransiskus kian memburuk. Ia sempat dirawat di Rumah Sakit Gemelli, Roma, karena pneumonia ganda yang memicu krisis pernapasan akut. Meski begitu, ia tetap menjalankan tugas-tugas penting, termasuk menyampaikan berkat khusus di Hari Paskah, hanya sehari sebelum wafatnya.
Fransiskus diketahui pernah kehilangan sebagian paru-parunya akibat pleuritis saat muda, membuatnya rentan terhadap infeksi paru-paru di usia lanjut.
Warisan yang Ditinggalkan
Di akhir masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus masih fokus menata kembali anggaran Vatikan dan memperkuat tata kelola internal gereja. Ia meninggalkan warisan besar berupa Gereja yang lebih inklusif, peduli terhadap isu-isu kemanusiaan, namun juga ditantang untuk terus menyatukan keberagaman suara di dalamnya.
Bagi banyak umat, kepergian Paus Fransiskus bukan hanya kehilangan sosok pemimpin spiritual, tetapi juga simbol keberanian untuk mengubah tanpa meninggalkan akar. Kini, Gereja Katolik menghadapi satu pertanyaan penting: ke arah mana langkah reformasi ini akan berlanjut? (jpost)