TEL AVIV, METRODAILY - Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas berada di ujung tanduk.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa kelompok Hamas belum menyerahkan daftar nama 33 sandera yang dijanjikan akan dibebaskan, sesuai dengan kesepakatan awal.
"Gencatan senjata tidak akan dimulai sampai kami menerima daftar sandera seperti yang telah disepakati," ujar Netanyahu dalam pernyataannya pada Sabtu malam.
Gencatan senjata ini direncanakan berlaku mulai pukul 06.30 pagi waktu setempat, Senin (19/1). Namun, Israel menegaskan tidak akan mentolerir pelanggaran dari pihak Hamas.
Kesepakatan ini melibatkan tiga fase utama untuk menyelesaikan krisis sandera dan memperbaiki situasi kemanusiaan di Gaza.
-
Fase Pertama: Pembebasan 33 sandera, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia, sebagai imbalan atas ratusan tahanan Palestina. Israel juga akan menarik pasukan dari wilayah padat penduduk Gaza untuk memungkinkan warga Palestina yang terlantar kembali ke rumah mereka. Selama gencatan senjata enam minggu ini, bantuan kemanusiaan, termasuk 600 truk bantuan harian, akan masuk ke Gaza.
Baca Juga: Philippine Madrigal Singers Tampil Perdana di Medan, Ini Deretan Prestasinya -
Fase Kedua: Hamas dijadwalkan membebaskan sandera pria dewasa, termasuk tentara Israel, sebagai imbalan atas pembebasan lebih banyak tahanan Palestina. Israel juga dijanjikan akan menarik pasukan sepenuhnya dari Gaza.
-
Fase Ketiga: Pengembalian jasad para sandera yang meninggal selama masa penahanan.
Ancaman Kembali ke Perang
Netanyahu mengklaim telah mendapatkan dukungan dari Amerika Serikat untuk melanjutkan operasi militer jika Hamas gagal memenuhi kesepakatan ini.
"Kami berhak melanjutkan perang jika diperlukan. Hamas adalah pihak yang menciptakan hambatan, bukan Israel," tegas Netanyahu.
Kesepakatan ini merupakan hasil mediasi selama lebih dari setahun oleh Amerika Serikat, Qatar, dan Mesir, yang bertujuan menciptakan perdamaian setelah konflik brutal selama 15 bulan.
Meski demikian, pernyataan Netanyahu pada Sabtu malam memunculkan kekhawatiran bahwa upaya perdamaian ini bisa runtuh.
Sementara itu, dunia menunggu dengan tegang untuk melihat apakah gencatan senjata ini dapat menjadi langkah menuju perdamaian, atau justru memicu babak baru konflik di wilayah tersebut. (Net)
Editor : Admin Metro Daily