Akibat pembacokan, ibunya yang bernama Sarmida (56) warga Dusun I Desa Celawan Kecamatan Pantai Cermin, bersimbah darah gegara kepala dan bahunya ditebas parang.
Untunglah saat kejadian, Armin (53) Pamannya (adik korban) sempat merampas parang yang dipegang pelaku, dan mendorong pelaku sehingga terjajar sembari berteriak meminta tolong.
Para tetangga yang mendengar teriakan Armin berdatangan memberikan pertolongan, dan mengikat pelaku. Sementara yang lainnya menolong korban. Seseorang di antara mereka menelepon personel Polsek Pantai Cermin.
Korban dilarikan ke rumah sakit sedangkan pelaku diboyong ke Polsek Pantai Cermin.
Sumber di lokasi menyebutkan, pelaku yang sehari-hari bekerja sebagai sopir itu, membacok Ibunya karena sakit hati. Kata sumber, Ibunya semula menjanjikan pelaku mengelola kebun sawit mereka di Provinsi Riau.
Selama ini, kebun sawit seluas satu hektar itu dikelola oleh kakak tertua pelaku.
Saat itu pelaku meminta kepada ibunya agar dirinya juga diberi hak untuk mengelola, secara bergantian dengan kakaknya bernama Winda itu.
Menurut Khairani Agustus (25) --kakak pelaku--, awalnya pelaku menagih janji ibunya tentang hak pengelolaan kebun sawit di Duri Provinsi Riau.
“Sampai saat ini, kenapa ibu nggak bilangin sama kak Winda? " ujar pelaku.
"Belum ada pengalamanmu di situ. Nanti rusak sawit itu ko buat, " jawab ibunya.
"Ya 'kan bisa belajar," kata pelaku.
"Nanti-nanti ajalah, ” jawab korban.
"Jadi kapan lagi? Dari dulu gitu aja jawabnya," debat pelaku.
Tak berselang lama, datang Paino (61) ayah kandung pelaku yang tinggal di Dusun IX Desa Celawan. Menurut Khairani, ayah dan ibu mereka sudah berpisah. Sedangkan pelaku ikut ibunya.
Paino mencoba menasehati pelaku. Paino membujuk pelaku agar tinggal di rumahnya. Namun pelaku menolak.
Tak lama kemudianm pelaku pergi ke dapur dan mengambil sebilah parang dan mengasahnya di dekat sumur.
Pelaku sempat melihat korban pergi ke luar rumah, hendak ke rumah adiknya Armin di sebelah rumah mereka.
Pelaku pun pergi ke kamar dan menyimpan parang yang sudah diasahnya itu. Diduga agar rencananya tidak tercium kakak-kakaknya. Di kamar, pelaku pura-pura tertidur.
Sekitar pukul 16.00 WIB, pelaku bangun dan salat.
Melihat tidak ada lagi orang di rumah, pelaku menonton TV sampai pukul 19.00 WIB.
Pelaku kemudian pergi ke rumah pamannya Armin, sembari menyelipkan parang yang sudah diasahnya di pinggang. Dia bermaksud mencari ibunya. Karena hatinya masih panas, tanpa permisi pelaku masuk ke rumah Pamannya.
Tindakannya yang dipandang kurang sopan itu sempat ditegur pamannya, Armin.
Saat pelaku masuk, dia melihat ibunya tengah ngobrol dengan istrinya yang bernama Lia (20) di ruang tengah. Tapi pelaku tidak langsung melancarkan aksinya.
Saat itu istri pelaku sempat bertanya kepada suaminya. "Apa udah makan?"
Namun pelaku tidak menjawab. Begitu melihat pelaku datang, korban langsung pindah ke ruang belakang dan duduk bersama Armin dan keluarganya.
Tak lama, pelaku juga pergi ke ruang belakang dan duduk di tangga musala yang ada di ruang belakang, yang jaraknya kurang lebih 3 meter dari posisi duduk korban.
Saat melihat semua orang–orang di ruangan tersebut lengah, ia berlari sambil mencabut parang yang ada di pinggang dan membacok korban dua kali.
Ketika hendak membacok ketiga kalinya, pamannya Armin menangkis sembari memegang tangan pelaku, dan mendorong pelaku hingga terjajar di kursi.
Dibantu tetangga, pelaku dapat diamankan dan barang bukti sebilah parang, batu asah dibawa polisi sebagai barang bukti.
Kanit Reskrim Polsek Pantai Cermin, Iptu BD Sitorus, saat dikonfirmasi di Pantai Cermin, Selasa (25/4), membenarkan kejadian ini.
"Sesuai Laporan Polisi dari keluarga korban, pelaku dapat dijerat dengan pasal Pembunuhan Berencana dan KDRT," jelas BD Sitorus.
Kapolres Sergai AKBP Oxy Yudha Pratesta memerintahkan untuk mengusut tuntas kasus tersebut. (medsa) Editor : Metro Daily