TAPTENG, METRODAILY – Sejumlah mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nauli Husada Sibolga mengaku enggan masuk kuliah setelah diminta memindahkan tumpukan besi beton berkarat di lingkungan kampus selama dua hari berturut-turut.
Peristiwa itu memicu protes dari orang tua mahasiswa yang menilai pekerjaan tersebut bukan bagian dari aktivitas akademik.
Salah seorang mahasiswi yang meminta identitasnya disamarkan, Wati, mengatakan dirinya bersama sejumlah mahasiswi lain diperintahkan memindahkan besi beton dari pinggir lapangan menuju belakang gedung sekretariat kampus.
"Kami sudah dua hari disuruh memindahkan tumpukan besi beton berkarat. Dimulai sejak Jumat (26/6) sampai Sabtu (27/6)," ujarnya kepada wartawan.
Baca Juga: Merasa Dicemarkan di Facebook, Edward Harianja Polisikan Pemilik Akun Serli Napitu
Menurutnya, besi yang dipindahkan cukup berat sehingga membuat tubuh mereka pegal. Kondisi itu membuat beberapa mahasiswi memilih tidak masuk kuliah karena khawatir kembali diminta mengangkat sisa besi yang masih menumpuk.
"Badan kami pegal-pegal setelah mengangkat besi. Karena itu ada teman-teman yang takut datang ke kampus," katanya.
Keluhan tersebut sampai kepada orang tua mahasiswa. Mereka menyatakan keberatan dan menilai kebijakan kampus tidak mencerminkan fungsi lembaga pendidikan kesehatan.
"Anak kami kuliah untuk belajar ilmu kesehatan, bukan menjadi buruh angkat besi. Kami membayar biaya pendidikan agar mereka memperoleh pendidikan yang layak," ujar salah seorang wali mahasiswa.
Baca Juga: Gala Dinner APEKSI XVIII Meriah, Rico Waas Sambut 98 Kepala Daerah dengan Nuansa Melayu
Para orang tua juga mengaku khawatir terhadap kondisi fisik anak-anak mereka setelah dua hari melakukan pekerjaan berat.
"Bukan hanya mahasiswi yang trauma masuk kampus, kami sebagai orang tua juga merasa resah," tambahnya.
Kampus Akui Mahasiswi Diminta Pindahkan Besi
Menanggapi keluhan tersebut, pihak STIKES Nauli Husada membenarkan telah meminta mahasiswi Program Studi Keperawatan memindahkan besi beton di lingkungan kampus.
Wakil Ketua I STIKES Nauli Husada, Herlina, mengatakan pemindahan dilakukan dalam rangka penataan area kampus menjelang proses akreditasi Program Studi Keperawatan.
Baca Juga: Pemkab Tapteng Gelar Layanan Kesehatan Gratis, Sasar 2.000 Warga hingga ASN
"Untuk akreditasi, jadi besi itu harus dipindahkan. Ini juga untuk kepentingan prodi mereka," ujar Herlina didampingi Wakil Ketua III Augustiani Situmeang dan Kepala Program Studi Kesehatan Masyarakat Tinawati Nainggolan, Senin (29/6).
Namun, pihak kampus membantah adanya unsur pemaksaan terhadap mahasiswi.
Menurut Herlina, lokasi pemindahan tidak terlalu jauh dan jumlah besi yang dipindahkan tidak sebanyak yang diberitakan.
"Nggak jauhnya, dan jumlahnya pun bukannya banyak," katanya.
Meski demikian, pihak kampus menyatakan akan melakukan evaluasi dan berjanji tidak lagi meminta mahasiswa mengerjakan pekerjaan yang berada di luar kewajiban akademik mereka.
Baca Juga: Agnez Mo Debut sebagai Pengisi Suara Film Animasi Hollywood
Saat wartawan meninjau lokasi bersama pihak kampus, terlihat tumpukan besi beton berkarat yang diperkirakan mencapai sekitar tiga ton. Sebagian besi telah dipindahkan ke belakang gedung sekretariat, sementara sisanya masih berada di pinggir lapangan. Di lokasi juga tampak rangka tapak gajah serta sloof beton yang telah dirakit. (ts)
Editor : Editor Satu