Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Paul Yohannes Damanik: Anak Kalam Kudus Siantar yang Buktikan Cinta pada Matematika

Editor Satu • Senin, 6 Oktober 2025 | 13:17 WIB
Paul Yohannes Damanik, didampingi guru pembimbingnya, foto bersama Direktur Pelaksana, Kepala Sekolah, dan pengurus Yayasan Kalam Kudus usai menerima beasiswa sebagai reward prestasinya meraih perungg
Paul Yohannes Damanik, didampingi guru pembimbingnya, foto bersama Direktur Pelaksana, Kepala Sekolah, dan pengurus Yayasan Kalam Kudus usai menerima beasiswa sebagai reward prestasinya meraih perungg

SIANTAR, METRODAILY – Di usianya yang baru 11 tahun, Paul Yohannes Damanik sudah menorehkan prestasi nasional. Siswa kelas VI SD Kristen Kalam Kudus Pematangsiantar ini berhasil meraih medali perunggu pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika tingkat SD tahun 2025.

Prestasi ini bukan hanya membanggakan keluarganya, tetapi juga membawa harum nama Kota Pematangsiantar dan Sumatera Utara di kancah pendidikan nasional.

Olimpiade Sains Nasional (OSN) Matematika tingkat SD adalah kompetisi akademik bergengsi yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional Kemendikbud. Tujuannya adalah mengasah kemampuan berpikir kritis, logika, dan kreativitas siswa dalam bidang matematika.

Kompetisi ini dilaksanakan secara berjenjang, mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Materi yang diujikan mencakup topik Bilangan, Aritmatika, Geometri, Statistika & Pengukuran, hingga Kombinatorik. Karena itu, peserta harus siap menghadapi soal-soal kompleks yang sering kali melampaui kurikulum sekolah dasar.

Tertarik pada Angka

Ketertarikan Paul pada Matematika, menurutnya ibunya dr Sinaga, sudah terlihat sejak masih duduk di bangku TK. Namun kecintaan itu benar-benar menguat ketika ia naik ke kelas III SD. Sejak saat itu, angka dan rumus seakan menjadi dunia yang membuatnya betah berlama-lama belajar.

Ayah Paul seorang pengusaha, ibunya seorang dokter. Keduanya memberikan dukungan penuh, mulai dari membelikan buku tambahan hingga menemani Paul belajar.

“Dia anak kedua dari 3 bersaudara. Tapi kayaknya hanya dia yang benar-benar suka Matematika. Bahkan sampai minta dibelikan buku baru ke Medan, karena buku Matematika yang ada sudah semua dibacanya,” kata sang ibu.

Ditanya soal keungggulan Paul dibanding murid lainnya, Tahi Rut Habeahan, Spd, guru Matematika pembimbing Paul, mengatakan, Paul anaknya mudah diarahkan. “Ia memang punya bakat alami, tapi yang lebih menonjol adalah kemauannya untuk tekun belajar. Ia konsisten setiap hari menambah jam belajar matematika minimal satu jam,” tutur Rut saat diwawancarai di SD Kalam Kudus, Senin (6/10).

Sering, Paul sudah menemukan solusi lain dari sebuah soal, di luar solusi yang diajarkan snag guru. “Ia kreatif dan rajin belajar. Tambahan belajar 1 jam per hari pun dilakoni tanpa keluhan,” kata Rut.  

Bahkan saat berangkat ke Jakarta, ia tetap asyik belajar. “Di bandara saja Paul masih membuka buku, sementara anak-anak lain sibuk dengan gawai,” cerita sang guru.

Baca Juga: 51 Pejabat Baru Dilantik di Pemko Pematangsiantar, Ini Rinciannya

Tantangan Berat di OSN Nasional

Perjalanan menuju OSN nasional bukan hal mudah. Sejak kelas IV, Paul mendapat pembinaan intensif dari guru Matematika di sekolah. Bahkan, materi yang dipelajari sudah melampaui level SD, mencakup soal setingkat SMP hingga SMA.

“Dari 100 anak yang ikut seleksi internal, disaring menjadi 10 siswa yang mendapat pembinaan khusus. Paul termasuk di antaranya. Prosesnya panjang, penuh konsistensi, dan tentu melibatkan dukungan orang tua,” ujar Paulina, Direktur Pelaksana Yayasan Kalam Kudus.

Dari 5 anak yang dikirim tiap sekolah, Paul lulus tingkat Kota Pematangsiantar menuju OSN tingkat provinsi. Dari provinsi, Paul menjadi satu dari 5 wakil yang diutus ke tingkat nasional.

Di tingkat nasional, Paul menjadi satu-satunya peserta OSN Matematika tingkat SD juara dari Sumatera Utara.

Persaingan sangat ketat. “Hari pertama peserta harus menyelesaikan 25 soal isian dan 13 soal uraian tanpa istirahat,” kata Paul.

Hari kedua lebih menantang lagi: eksplorasi matematika, yang menggabungkan numerasi dengan literasi dan kreativitas.

“Bayangkan, dalam dua jam peserta harus mencari sebanyak mungkin cara penyelesaian masalah dari satu soal. Ada anak yang sampai menangis karena tekanan. Paul sendiri saat itu mengaku kecewa karena tak bisa menjawab penuh. Misalnya, ia hanya bisa memberikan 11 solusi dari sebuah soal yang meminta 16 solusi,” ungkap ibunya.

Hasil akhir menempatkan Paul sebagai peraih medali perunggu (juara 3, red). Meski begitu, rasa syukur dan bangga melingkupi keluarga besar Kalam Kudus.

Paul sendiri tetap senang meski hanya dapat perunggu. Tapi hanya mesem-mesem saat ditanya apa target selanjutnya.

 Baca Juga: Bandar Sabu Ditangkap di Lokalisasi Bukit Maraja Simalungun

Filosofi Pendidikan Kalam Kudus

Bagi Yayasan Kalam Kudus sendiri, prestasi Paul adalah bukti nyata komitmen sekolah dalam menggali potensi anak-anak.

“Setiap siswa memiliki kemampuan unik. Guru dan orang tua harus bisa menemukannya, lalu mengembangkannya bersama-sama. Visi kami adalah membentuk manusia utuh – berpengetahuan, berkarakter, beriman, dan berguna bagi dunia,” tegas Paulina Oscar, Spd, Direktur Pelaksana Yayasan Kalam Kudus.

Sekolah juga memberikan dukungan penuh pengembangan bakat para siswa dengan memberikan pelatihan intensif, melatih guru-guru dengan mendatangkan trainer dari Pelatos yang khusus melatih para guru dan murid menghadapi OSN, serta berkolaborasi dengan stakeholder lainnya untuk kemajuan bersama.

Sekolah juga memberikan reward berupa beasiswa kepada para siswa berprestas. “Beasiswa enam bulan untuk siswa peraih medali perunggu, sembilan bulan untuk medali perak, dan satu tahun penuh untuk medali emas,” kata Paulina.

Baca Juga: Festival Sisi Batas Labuhan, Pekan Vokasi, dan UMKM Ramaikan PSBD Asahan 2025

Sistem penghargaan ini dimaksudkan agar setiap prestasi menjadi motivasi, baik bagi siswa maupun guru lainnya. “Semua anak punya kemampuan masing-masing. Tugas kita adalah menemukan dan mengembangkannya agar maksimal dan menjadikan anak mandiri,” tegasnya.

Bagi Paul sendiri, medali perunggu hanyalah langkah awal. Cita-citanya sederhana namun besar: menjadi seorang pengusaha.

Di sisi lain, sekolah dan keluarganya berharap prestasi ini membuka jalan baginya untuk terus berkompetisi hingga tingkat internasional.

 “Semoga lahir Paul-Paul baru dari Siantar. Anak-anak kita berbakat, tinggal bagaimana kita menggali dan mengembangkannya,” kata Yessy, SPd, Kepala Sekolah SD2 Kalam Kudus.

Badan Pengurus Yayasan Kalam Kudus, Ev. Su Chuan Jingga , SE, M.Th dan Jhonson mengatakan, yayasan mendukung penuh pengembangan kemampuan para siswa. “Apapun yang dibutuhkan anak-anak siswa dan guru untuk berkembang, yayasan sepenuhnya mensupport,” katanya. (mea)

Editor : Editor Satu
#SD Kalam Kudus Pemaatngsiantar #Paul Yohannes Damanik #OSN matematika jenjang SD