Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Lutung Huliap di Batangtoru (1): Suka Tidur di Pohon Beringin, Wilayah Jelajah 15-18 Hektare

Editor Satu • Selasa, 10 Desember 2024 | 13:00 WIB
Lutung huliap Tapanuli, suka tidur di pohon rindang jenis ficus.
Lutung huliap Tapanuli, suka tidur di pohon rindang jenis ficus.

Lutung Huliap atau Presbytis sumatrana --dikenal juga dengan nama cekcek--, adalah primata endemik di hutan-hutan Tapanuli. Primata berbulu hitam dengan bulu dada berwarna putih ini memiliki jambul di kepalanya mirip mohawk. Belum banyak penelitian tentang huliap. Penelitian terbaru menunjukkan, satwa ini suka tidur di pohon jenis ficus, salahsatunya beringin.

---------------------------------

Dame Ambarita, MetroDaily      

---------------------------------

Adalah Dimas Firdiyanto dan Fathiya Rahma, mahasiswa yang melakukan penelitian tentang huliap Tapanuli, di hutan Batangtoru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, belum lama ini. Penelitian itu untuk skripsi akhir mereka di jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Nasional Jakarta.

“Awal penelitian, kami menemukan tidak banyak data terkait huliap. Kami hanya menemukan satu artikel saja,” jelas Dra. Sri Suci Utami Atmoko, dosen di Fakultas Biologi dan Pertanian, Universitas Nasional yang menjadi pembimbing Dimas dan Fatiya.

Suci Utami sendiri yang menawarkan penelitian lutung huliap kepada Dimas dan Fatiya, setelah mendengar dari PT Agincourt Resources –pengelola Tambang Emas Martabe-- bahwa belakangan ini huliap suka turun ke camp karyawan di kawasan PTAR di Batangtoru.

“Lutung huliap ini mirip kedih (Presbytis thomasi), yang pernah saya teliti di kawasan Batu Ardan Pakpak Bharat. Fisiknya mirip, tapi suaranya berbeda,” kata Suci yang juga ilmuwan yang ahli dalam konservasi primata.

Di dunia internasional, kedih dikenal dengan nama Thomas’s Langur/North Sumatran Leaf Monkey/ Sumatran Grizzled Langur/Thomas's Leaf Monkey/Semnopithèque De Thomas/Langur De Thomas. Satwa ini juga endemik Sumatera, terutama bagian utara.

Dimas dan Fatiya, bersama sejumlah rekannya --yang melakukan penelitian dengan topik berbeda--, melakukan pengamatan terhadap huliap yang mendiami hutan terfragmentasi di Tambang Emas Martabe yang dikelola oleh PTAR di Batangtoru.

“Penelitian berlangsung selama 4 bulan. Mulai September 2023 hingga Januari 2024. Kami berfokus pada dua kawasan hutan yang terfragmentasi: yakni New Magazine (hutan sekunder di dekat kamp karyawan PTAR), dan Barani (hutan sekunder yang berdekatan dengan aktivitas penambangan dan kebun masyarakat),” kata Fatiya.

Pemilihan penelitian huliap di kedua hutan ini untuk membandingkan perilaku huliap di hutan yang bersebelahan dengan kompleks perkantoran dan tempat tinggal manusia, dengan huliap yang tinggal di hutan yang lebih liar dan dekat dengan aktivitas pertambangan.

Menggunakan metode Scan Animal Sampling, para mahasiswa didampingi supervisor dari PT Agincourt Resources, setiap hari berangkat ke hutan pada pukul 06.00, dan mengamati aktivitas harian huliap hingga pukul 17.00 WIB sore. “Dua minggu pertama, kita melakukan habituasi yakni proses pembiasaan untuk mengenali kelompok huliap yang akan diteliti,” kata Fatiya.

Untuk mengenali kelompok huliap itu, mereka menghitung anggota kawanan seperti yang mana jantan alfa, berapa ekor jantan dewasa beta dan gamma, jumlah betina dewasa, remaja, dan anak-anak. Juga mengenali daerah yang sering dijelajahi huliap di hutan New Magazine dan di Barani.

Dengan cara itu, mereka dapat mengenali bahwa kawanan yang mereka lihat sebelumnya adalah juga kawanan yang sama yang dilihat di hari berikutnya. “Wilayah jelajah kawanan huliap sudah tertentu. Paling berpindah hingga jarak sekian kilometer. Tidak akan lebih,” kata Dimas.

Habituasi dilakukan selama dua minggu. Setelah mengenali pola perilaku kawanan huliap, berikutnya mereka melakukan pengambilan data dengan membagi waktu penelitian: dua minggu di New Magazine, dan dua minggu berikutnya di Barani. Berganti-ganti selama 4 bulan.

Peneliti mengikuti pergerakan huliap sejak pagi hingga sore sampai ke pohon tidurnya. Dimas fokus mengamati penggunaan ruang vertikal dan horizontal kawanan, serta sebaran pohon pakan dan pohon tidur lutung huliap di New Magazine dan Barani. Ia memetakan daerah jelajah dan menandai koordinat pohon yang digunakan untuk makan dan tidur dengan GPS.

Sementara Fatiya fokus mengamati dan mendokumentasikan aktivitas harian dan perilaku makan huliap.

“Kita sangat difasilitasi oleh tim PTAR. Di lapangan kita selalu didampingi. Kalau misalnya pergerakan huliap melewati lokasi yang tidak ada jalannya, kita dibukain jalan,” kata Dimas.

Untuk menentukan area jelajah dan distribusi pohon yang dipilih huliap dalam mencari makan dan tidur, Dimas mengambil data jarak yang diplot setiap 30 menit di QGIS 3.34.0.

Dalam aktivitas harian itu, Huliap ditemukan berpindah atau bergerak di pohon yang memiliki ketinggian mulai 11 hingga 15 meter. Di pohon itu, mereka cenderung berada di posisi 10 sampai 12 meter itu. “Jadi di atas pertengahan pohon, tapi tidak terlalu atas. Jadi di antara tengah ke atas,” kata Dimas.

Kawanan lutung huliap yang mereka teliti di New Magazine sebagian besar menggunakan ruang vertikal pada ketinggian 11-15 meter (61,49%). Sementara di Barani menggunakan ruang vertical pada ketinggian 6-10 meter (60,16%).

“Pohon di New Magazine jauh lebih tinggi dibanding di Barani. Hal itu berkaitan dengan struktur atau penyusun habitat hutan. Diduga, karena hutan New Magazine dekat camp karyawan, akses masuk masyarakat lebih sulit sehingga pohonnya lebih aman dari aktivitas penebangan. Sementara akses masyarakat ke hutan Barani lebih terbuka,” kata Dimas.

Adapun rata-rata wilayah jelajah harian huliap secara horizontal adalah 0,56 km² di New Magazine, berkisar dari 0,13 km² hingga 1,11 km². Sementara di Barani sekitar 0,30 km², berkisar dari 0,1 km² hingga 0,68 km².

“Wilayah jelajah kelompok New Magazine 17,7 hektar, sudah termasuk camp karyawan. Sedangkan kelompok Barani 14,9 hektar,” kata Dimas. ‘

Luas hutan New Magazine sendiri diperkirakan mencapai 24,39 hektare. Sementara luas hutan Barani mencapai 84,60 hektare.

Huliap ditemukan cenderung tidak membuat sarang, tapi punya pohon-pohon tidur. Pohon-pohon yang biasa mereka pilih untuk tidur adalah pohon-pohon yang lebih rindang dan lebih rimbun. Umumnya pohon jenis ficus, salahsatunya jenis beringin.

Kawanan huliap tidur tersebar di beberapa pohon yang berdekatan. “Biasanya pohon tidur mereka tetap, karena kalau kita datangi langsung titik-titik pohon tidurnya pada pagi hari, mereka masih di sana. Kadang jam 6 belum bangun ,” kata Fatiya.

Kedua kelompok huliap memanfaatkan rata-rata 4 pohon pakan per hari, dengan pohon tidur sering kali terletak di dekat konsentrasi pohon pakan tertinggi.

Huliap sendiri belum masuk kategori satwa yang dilindungi, meski status konservasinya udah terancam punah.

Temuan ini memberikan wawasan penting tentang perilaku jarak (spacing behavior) huliap di hutan terfragmentasi. “Dapat menjadi salah satu dasar pengelolaan keanekaragaman hayati, khususnya primata dilindungi di konsesi PTAR,” kata Dimas.

Penelitian ini juga menjadi pertimbangan manajemen PTAR membangun koridor buatan untuk menghubungkan satwa-satwa primata di hutan. (mea/bersambung)

Editor : Editor Satu
#huliap #Tambang Emas Martabe #Agincourt Resources #lutung tapanuli