Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Langsung Bikin Ladang Ganja setelah Sembuh dari Kanker

Metro Daily • Kamis, 4 Mei 2023 | 12:52 WIB
Foto: HENDRA EKA/Jawa Pos  Wiranpat Thasak bersam putranya, Latthawat Chaivitnon, memeriksa daun ganja di greenhouse perkebunan Firefly Cannabis Farm, Chiang Mai, Thailand.
Foto: HENDRA EKA/Jawa Pos Wiranpat Thasak bersam putranya, Latthawat Chaivitnon, memeriksa daun ganja di greenhouse perkebunan Firefly Cannabis Farm, Chiang Mai, Thailand.

Thailand melegalkan penanaman ganja dan konsumsinya dalam minuman serta makanan, tapi melarang ketat penggunaan di ruang publik. Namun, calon kuat PM Negeri Gajah Putih itu termasuk yang mengkritik dekriminalisasi ini dan bertekad setidaknya menghapus sisi rekreasionalnya.


---
HENDRA EKA, Chiang Mai, Bangkok
---

BAU wangi langsung menguar dari rumah kaca yang baru dibuka. Matahari yang cukup terik di Chiang Mai, kota terbesar kedua di Thailand, tetap tak mampu mengusir aroma khas tanaman ganja tersebut.

”Setelah ibu sembuh dua tahun lalu, saya dan ibu fokus bertani ganja,” jelas Latthawat Chaivitnon.

”Dalam sekali panen di satu greenhouse (rumah kaca), kami bisa mendapatkan sekitar 100 kg tanaman ganja,” imbuh laki-laki yang akrab disapa Up tersebut kepada Jawa Pos yang berkunjung ke perkebunan di kota di bagian utara Negeri Gajah Putih tersebut bulan lalu (11/4/2023).

Ada lima rumah kaca di sana yang masing-masing luasnya 150 meter. Produksi ganja untuk dijual lagi dan dikonsumsi sendiri.

Tahun lalu Thailand secara resmi melegalkan penanaman ganja dan konsumsinya dalam minuman maupun makanan. Baik untuk pengobatan maupun rekreasional. Kendati demikian, pemerintah tetap melarang orang mengisap ganja di ruang publik.

Jadi, hanya boleh di kafe yang menjualnya atau di properti pribadi. Siapa pun yang melanggar siap-siap saja membayar denda sekitar Rp 10 juta.

Thailand sekarang menjadi negara pertama di Asia yang menerapkan kebijakan tersebut dengan tujuan untuk meningkatkan sektor pertanian dan pariwisata. Selama beberapa tahun terakhir, cukup banyak negara di dunia yang telah mengubah sikap terhadap undang-undang seputar penggunaan ”cimeng”. Beberapa di antaranya telah mendekriminalisasi, sedangkan yang lain bahkan menghapus konsekuensi hukum sama sekali.

Selain karena perubahan regulasi itu, keputusan Up dan sang bunda, Wiranpat Thasak, menanam ganja terkait erat dengan pengalaman pribadi. Lima tahun silam, Nui, sapaan akrab ibu 50 tahun itu, adalah seorang peternak lebah madu biasa. Namun, pada 2019, takdir menautkannya dengan kanker stadium awal.

Penyakitnya kronis dan harus disembuhkan segera. Segala macam jenis pengobatan telah dilakukan selama setahun. Mulai obat pemberian dokter hingga radioterapi dengan menggunakan teknologi radiasi.

Semua hasilnya nihil. Sakit yang dideritanya tak jua sembuh. Sampai suatu hari, Up berinisiatif untuk mengobati penyakit sang ibu dengan ”obat” yang tak pernah terbayangkan sebelumnya: tanaman ganja.

Dalam hitungan bulan, Nui mulai menampakkan tanda-tanda positif yang signifikan. ”Saya mengobati ibu memakai minyak CBD dari daun ganja dengan meneteskannya di bawah lidah bersamaan dengan meminum seduhan daun dan bunga ganja setiap hari,” ujar Up.

CBD alias cannabidiol (CBD) adalah senyawa yang ditemukan dalam ganja. Senyawa itu tidak mengakibatkan penggunanya menjadi ”high” sehingga aman untuk digunakan sebagai bahan pengobatan. Hingga kini, keluarga Nui rutin mengonsumsi seduhan ganja yang dituang di tower bir halaman depan rumah.

Kini Nui sudah sembuh dari kanker dan kembali menjalani aktivitas hariannya seperti biasa. Tapi bukan sebagai petani lebah madu, melainkan petani ganja.

”Aturan untuk mendapatkan izin sudah ditentukan dengan jelas oleh pemerintah Thailand. Namun, saya masih berharap ada undang-undang yang lebih baik tentang penggunaan, penanaman, serta penjualan ganja,” tambah Up.

Jika Paetongtarn Shinawatra, kandidat perdana menteri (PM) dari Partai Pheu Thai, sukses memenangi pemilu pada 14 Mei ini, harapan Up itu tidak akan mudah terwujud. Sebab, anak bungsu mantan PM Thaksin Shinawatra itu termasuk yang kritis terhadap kebijakan dekriminalisasi ganja.

Seperti disampaikan dalam wawancara dengan Time, setidaknya politikus 36 tahun itu akan berjuang menghapus sisi rekreasionalnya.

Itu jelas bukan kabar yang menyenangkan bagi Chokwan ”Kitty” Chopaka, pemilik toko ganja rekreasional Chopaka Shop di kawasan Sukhumvit, Bangkok. Di tokonya, Kitty menjual beraneka ragam jenis olahan ganja.

Macam-macam jenis daun dan bunga ganja berjejer di stoples-stoples kaca. Bukan hanya daun dan bunga ganja, Chopaka Shop juga menjual kue ganja, gummy candy beraneka rasa, bong untuk mengisap ganja, hingga berbagai macam aksesori dan suvenir.

”(Legalisasi ganja) ini penting untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, apalagi seusai pandemi Covid-19,” katanya.

Legalisasi ganja di Thailand tak lepas dari political will salah satu partai politik utamanya, Bhumjaithai. Pemimpin partai itu, Anutin Charnvirakul, menjadi menteri kesehatan sejak 2019 setelah mengampanyekan legalisasi penanaman ganja di negeri yang dulu bernama Siam tersebut.

Negeri Gajah Putih ini memang punya sejarah panjang terkait penggunaan ganja sebagai bahan obat. Selain sebagai kegiatan rekreasional, ada yang fokus untuk mengembangkan ganja di dunia medis.

Amber Farm, salah satu perkebunan ganja modern di timur Bangkok, memfokuskan usahanya untuk membantu dunia medis.

Direktur Operasional Amber Farm Chalakorn Choomwan menjelaskan, sejak 2019 Amber Farm kerap melakukan penelitian dan bekerja sama dengan Institut Teknologi King Mongkut Ladkrabang, Thailand.

Mengutip kantor berita Reuters, pada 2025, Kamar Dagang Thailand memperkirakan sektor prioritas itu bernilai USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 1,7 triliun.
Namun, di sisi lain, sejak dibukanya keran legalisasi ganja, ada kekhawatiran sejumlah petani dan pemilik kafe ganja lokal.

Sebab, kini semakin marak investor asing dengan modal besar yang membuka perkebunannya sendiri di Thailand. Banyak pula ganja selundupan ilegal dari luar negeri. (*/c19/ttg/jp) Editor : Metro Daily
#Ganja di Thailand