MEDAN, METRODAILY – Banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjalankan bisnis dengan pola sederhana: belanja, jualan, menerima uang, lalu memutar kembali modal. Persoalan muncul ketika mereka tak tahu pasti berapa keuntungan bersih, biaya produksi, hingga kemampuan menambah modal.
Kondisi itu menjadi salah satu persoalan yang disoroti dalam UMKM Digital Finance Tour – Medan Edition di Hotel Aryaduta Medan, Kamis (27/8/2026).
Ratusan pelaku UMKM diperkenalkan pada UMKM Pintar, platform edukasi dan pengelolaan keuangan digital hasil kolaborasi PT Bank Seabank Indonesia (SeaBank), Women’s World Banking, dan Platform Usaha Sosial (PLUS).
Baca Juga: Penduduk Konghucu di Toba Samosir Tinggal 1 Orang, Proporsinya 0,00054 Persen
Program tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha, khususnya perempuan, membangun tata kelola bisnis yang lebih terukur tanpa harus bergantung pada pencatatan manual.
Dari Bazar ke Bazar, Lupa Menghitung Laba
Miftah Fatimah Salena Nasution, pelaku usaha sambal asal Medan, mengaku sebelumnya lebih banyak berkutat pada aktivitas produksi dan penjualan. Usahanya berpindah dari satu bazar ke bazar lain dengan tim yang tidak tetap.
Persoalan terbesar justru berada di balik transaksi: pengelolaan keuangan.
“Selama ini sistem usaha kami masih berpindah dari bazar ke bazar dengan tim yang tidak tetap. Tantangan terbesarnya di pengelolaan keuangan. Kami hanya berpikir belanja, jualan, dapat uang, lalu diputar lagi tanpa sempat menghitung berapa persen keuntungan bersih yang sebenarnya didapat,” ujar Miftah.
Baca Juga: 14.683 Tanah Wakaf di Sumut, Baru 6.030 Bersertifikat: Bobby Jadi Orang Tua Asuh Nazir
Ia kemudian mencoba fitur Kalkulator Harga Pokok Penjualan (HPP) dalam UMKM Pintar. Fitur tersebut membantunya menghitung biaya produksi sekaligus memperkirakan harga jual dan margin usaha.
“Fitur kalkulator HPP ini sangat bermanfaat dan membantu wirausaha, terutama perempuan yang padat aktivitas dan tidak memiliki tim khusus. Penggunaannya sangat mudah, tinggal input data saja dan menu-menunya mudah dimengerti,” katanya.
Persoalan serupa dialami Eni, pemilik usaha frozen food. Selama ini, pencatatan keuangan dan perhitungan kebutuhan modal masih dilakukan secara manual.
Baca Juga: 469 Tewas di Nepal, Banjir Susulan Mengintai: Danau Raksasa Berisiko Jebol
Menurut Eni, Kalkulator HPP membantunya melihat apakah margin keuntungan yang diperoleh sudah masuk akal. Sementara Kalkulator Pinjaman memberikan gambaran kemampuan usaha ketika membutuhkan tambahan modal.
“Penggunaannya gampang banget, tinggal ketik dan langsung keluar hasilnya. Fitur yang paling bermanfaat buat saya itu Kalkulator HPP dan Kalkulator Pinjaman,” ujarnya.
Dengan simulasi tersebut, kata Eni, pelaku usaha dapat memperkirakan kebutuhan pembiayaan berdasarkan kemampuan omzet sehingga tambahan utang tidak justru membebani arus kas bisnis.
Baca Juga: Jelang Muskab KORMI Labuhanbatu, 16 Inorga Diverifikasi Administrasinya
SeaBank Dorong UMKM Melek Keuangan
Direktur Utama SeaBank Indonesia Sasmaya Tuhuleley mengatakan digitalisasi UMKM tidak cukup hanya dengan menyediakan layanan transaksi perbankan. Pelaku usaha juga perlu memahami kesehatan keuangan bisnisnya.
“Kami tidak hanya berperan menyediakan layanan keuangan, tetapi juga berkomitmen mendorong digitalisasi melalui edukasi manajemen keuangan yang saat ini masih banyak dilakukan secara manual,” kata Sasmaya.
Menurut dia, pemahaman terhadap kinerja bisnis akan membantu pelaku UMKM mengambil keputusan yang lebih tepat, mulai dari menentukan harga, menghitung keuntungan hingga mempertimbangkan kebutuhan modal.
UMKM Pintar, kata Sasmaya, dapat diakses secara gratis melalui umkmpintar.id, termasuk oleh masyarakat yang bukan nasabah SeaBank.
Baca Juga: Banjir Bandang Nepal: 392 Tewas, 1.400 Hilang, Diduga Dipicu Longsoran Gletser
Pendekatan tersebut dirancang agar akses terhadap edukasi dan alat bantu pengelolaan keuangan tidak berhenti pada nasabah bank. SeaBank menargetkan manfaat program dapat menjangkau lebih banyak UMKM, terutama perempuan, di berbagai daerah Indonesia.
Dari Catatan Buku ke Keputusan Bisnis
Bagi Miftah, perubahan paling terasa adalah cara melihat pencatatan keuangan. Catatan yang sebelumnya tersimpan di buku dan berisiko hilang kini dapat dikelola secara lebih terstruktur.
Ia berharap pelaku UMKM lain memanfaatkan platform tersebut untuk memperbaiki fondasi bisnis sebelum mengejar ekspansi.
“Harapan saya teman-teman UMKM lain harus mencoba platform ini karena sangat memudahkan. Pencatatan yang selama ini di buku dan sering hilang, sekarang jadi jauh lebih rapi. Semoga UMKM kita bisa terus berkembang,” katanya.
Baca Juga: Kawal APBD dan Dana Desa, Pemkab Tapteng Gandeng Kejari Sibolga
Melalui UMKM Digital Finance Tour, SeaBank menyatakan akan melanjutkan pendampingan bagi pelaku usaha di Medan dan sejumlah daerah lain. Fokusnya bukan semata meningkatkan transaksi digital, melainkan mendorong UMKM memahami angka-angka di balik bisnis agar dapat tumbuh lebih mandiri dan berdaya saing di pasar digital. (Rel)
Editor : Editor Satu