Unimed Pasang Aerator Tenaga Surya di Samosir, Biaya Budidaya Ikan Diklaim Bisa Hemat 50 Persen

Editor Satu • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 11:30 WIB
Tim PKM Unimed memasang aerator bertenaga surya di kolam budidaya ikan BUMDes Gorat Pallombuan, Kabupaten Samosir.
Tim PKM Unimed memasang aerator bertenaga surya di kolam budidaya ikan BUMDes Gorat Pallombuan, Kabupaten Samosir.

SAMOSIR, METRODAILY – Universitas Negeri Medan (Unimed) membawa teknologi energi terbarukan ke sektor budidaya ikan di Kabupaten Samosir.

Melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Unimed menerapkan konsep Green Aquaculture berbasis aerator tenaga surya di Desa Gorat Pallombuan, Kecamatan Palipi.

Program Kemitraan Masyarakat (PKM) tersebut menyasar kolam ikan milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gorat Pallombuan yang selama ini menghadapi dua persoalan utama: suplai oksigen yang tidak stabil dan tingginya biaya listrik.

Baca Juga: Wajah Baru Hari Jadi Tapteng: Siapkan Adminduk hingga Tukar Sampah

Ketua Tim PKM Unimed, Arwadi Sinuraya, mengatakan kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen) pada kolam budidaya cenderung turun, terutama pada malam hingga dini hari. Kondisi itu dapat mengganggu pertumbuhan ikan.

“Kondisi ini bisa memicu stres, menurunkan nafsu makan, memperlambat pertumbuhan, bahkan meningkatkan risiko kematian pada ikan,” kata Arwadi dalam keterangannya, Senin (24/8/2026).

PLTS Jadi Penggerak Aerator

Masalah tersebut coba diatasi dengan mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan aerator kolam.

Baca Juga: Karhutla Mengintai, Pemkab Simalungun Perketat Mitigasi di Wilayah Rawan

Sebelumnya, penggunaan aerator konvensional bergantung pada pasokan listrik PLN. Selain menambah biaya operasional, pemadaman listrik berpotensi mengganggu suplai oksigen di kolam pada waktu-waktu kritis.

Dengan sistem tenaga surya, aerator dapat bekerja menggunakan energi yang dihasilkan panel surya sehingga ketergantungan terhadap listrik PLN ditekan.

“Pemanfaatan PLTS ini direncanakan dapat menghemat biaya energi sekitar 30 hingga 50 persen dan memastikan suplai oksigen tetap aman tanpa khawatir gangguan pemadaman listrik,” ujar Arwadi.

Menurutnya, teknologi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan persoalan teknis budidaya, tetapi juga menekan biaya produksi sehingga pengelolaan usaha perikanan BUMDes menjadi lebih efisien.

Baca Juga: Beli Pertalite Pakai Jerigen di Simalungun Kena ‘Pajak’ Rp20 Ribu

Bukan Sekadar Pasang Alat

Program PKM Unimed tidak berhenti pada instalasi perangkat. Tim juga memberikan pelatihan kepada pengelola BUMDes dan masyarakat mengenai pengoperasian panel surya dan aerator.

Mereka juga dibekali pengetahuan mengenai pemeriksaan serta pemeliharaan sistem secara berkala agar teknologi tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan.

Arwadi didampingi anggota tim Denny Haryanto Sinaga, Rudi Salman dan Michael Fritz Immanuel Sibarani. Program tersebut juga menggandeng PUI-PT INNERWISE serta melibatkan mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektro yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Sistem Tenaga Listrik (Matriks).

Baca Juga: Simalungun Digitalisasi Pajak: QRIS Dinamis, QRISPATI dan Smart Cash Resmi Diluncurkan

Diharapkan Jadi Model Energi Terbarukan

Kepala Desa Gorat Pallombuan, Hutri Sinaga, menyambut penerapan teknologi tersebut. Ia berharap inovasi Unimed dapat memperkuat usaha budidaya ikan BUMDes sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat.

“Kami berharap program ini juga menjadi percontohan penerapan energi terbarukan di sektor perikanan yang bisa diterapkan di wilayah lainnya,” katanya.

Penerapan Green Aquaculture di Samosir tersebut mempertemukan dua kebutuhan sekaligus: menjaga kualitas lingkungan budidaya dan menekan ongkos energi. Jika efisiensi 30–50 persen dapat terealisasi, teknologi tenaga surya berpotensi menjadi alternatif bagi usaha perikanan desa yang menghadapi keterbatasan akses dan biaya energi. (net)

Editor : Editor Satu
Tim PKM Unimed aerator tenaga surya samosir