Solar Subsidi Langka, Nelayan Tapteng Terancam Tak Bisa Melaut
Editor Satu• Senin, 17 Maret 2025 | 13:50 WIB
Kapal-kapal nelayan di Kota Sibolga. Melayan terancam tidak melaut karena kelangkaan solar bersubsidi.
SIBOLGA, METRODAILY – Kelangkaan solar subsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) di Tapanuli Tengah (Tapteng) membuat nelayan kesulitan beroperasi.
Selain harus antre panjang, banyak nelayan kini hanya mendapat jatah BBM lebih sedikit dari biasanya, menghambat mereka untuk melaut dan berdampak langsung pada penghasilan.
Seorang tekong kapal bagan kapasitas 30 GT, Silalahi, mengeluhkan sulitnya mendapatkan solar di SPBN kawasan PPN Sibolga. Ia bahkan harus menunggu selama seminggu tanpa kepastian pasokan.
"Yang kita kejar itu trip sebelum lebaran, supaya anggota bisa punya bekal untuk hari raya. Tapi kalau minyak tidak ada, bagaimana kami bisa bekerja?" ungkapnya, Sabtu (14/3/2025).
Keluhan serupa datang dari Ebit Simatupang, pengurus KM Jefri, yang mendapati jatah solar subsidi kapalnya mengalami pengurangan drastis. Biasanya ia mendapat 4,5 ton per bulan, sesuai rekomendasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan Tapteng, namun kini hanya menerima 3 ton.
"Kapal bagan ini biasa berlayar 20 hari, tapi kalau hanya dapat 3 ton, jelas tidak cukup. Kalau terlambat melaut, penghasilan pun turun drastis," katanya.
Ebit mempertanyakan kebijakan PT Pertamina Fuel Terminal Sibolga yang justru mengurangi jatah solar nelayan di saat kebutuhan meningkat, terutama menjelang Lebaran. Ia berharap Pertamina segera menyelesaikan persoalan ini agar nelayan tidak semakin dirugikan.
"Kami nelayan kecil tidak mampu beli solar nonsubsidi. Kalau jatah terus dikurangi, bagaimana kami bisa bertahan?" ketusnya.
Pengurus SPBN DKS Pondok Batu, Siahaan, membenarkan adanya pengurangan jatah solar nelayan. Menurutnya, hal ini terpaksa dilakukan karena lambatnya distribusi BBM dari Pertamina.
"Tidak ada kepastian kapan mobil tangki datang, jadi kami harus membagi stok yang ada agar semua nelayan bisa tetap melaut," jelasnya.
Ia mengungkapkan, dalam 15 hari kerja, SPBN hanya menerima dua kali pengiriman, masing-masing 16 ton. Jumlah ini jauh dari cukup, mengingat banyaknya nelayan yang bergantung pada SPBN tersebut.
"Tanggal 5 Maret kami dapat 16 ton, hari ini 16 ton lagi, tapi langsung jadi rebutan. Stok selalu kurang," tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, PT Pertamina Fuel Terminal Sibolga belum memberikan keterangan resmi terkait kendala distribusi BBM yang berdampak pada nasib nelayan. (net)