Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

China Bangun Pabrik Sarung Tangan di KEK Sei Mangkei

Editor Satu • Kamis, 12 Desember 2024 | 09:20 WIB
KEK Sei Mangkei-Ilustrasi.
KEK Sei Mangkei-Ilustrasi.

MEDAN, METRODAILY - Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei di Kecamatan Bosar Maligas Kabupaten Simalungun semakin diminati investor. Total saat ini sudah ada 24 investor asing yang menanamkan modalnya di KEK Sei Mangkei.

Direktur PT Kawasan Industri Nusantara selaku pengelola KEK Sei Mangkei, VT Moses Situmorang mengatakan, saat ini ada investor dari China yang bergerak di bidang produksi sarung tangan, tengah membangun pabrik di kawasan tersebut. Nilai investasi yang dikucurkan mencapai Rp10 triliun.

"Diperkirakan pabrik sarung tangan ini akan beroperasi tahun 2025. Apabila berdiri, maka kebutuhan karet untuk produksi sarung tangan tersebut akan mencapai 200.000 ton per tahun," ujarnya di sela-sela Forum Diskusi Bisnis Indonesia Outlook Economic 2025 dengan tema Reading The Direction of North Sumatera's Economic Pendulum, di Hotel JW Marriot Medan, Selasa (10/12).

Kegiatan ini berlangsung serentak di 10 kota.

Moses menambahkan, melihat dari besarnya kebutuhan karet sebagai bahan baku produksi, maka jika karet yang dihasilkan di Sumatera tidak mencukupi, pabrik tersebut akan mendatangkan bahan baku tambahan dari Thailand dan Malaysia.

Lebih lanjut dikatakan, jika dilihat dari proposal yang diajukan, pabrik sarung tangan tersebut akan beroperasi September 2025 dan diperkirakan menyerap 9.000 tenaga kerja. Saat ini pembangunan sedang berjalan.

Lebih lanjut dikatakannya, saat ini ada sekitar 24 investor di KEK Sei Mangkei, baik yang sudah eksisting maupun yang tengah dalam tahap pembangunan pabrik. Sedangkan total nilai investasinya mencapai Rp18,57 triliun.

"Sekitar 80 persen merupakan investor asing. Mayoritas dari China dan India. Mereka bergerak di bidang oleochemical, gloves (sarung tangan), dan gas. Dari 24 investor, 10 di antaranya sedang dalam tahap pembangunan," jelasnya.

Saat ini ada sekitar 5.400 orang yang bekerja di KEK Sei Mangkei. Jika 10 pabrik yang tengah dibangun tersebut beroperasi, maka serapan tenaga kerja akan melonjak tajam. Sebagai gambaran, pabrik sarung tangan itu sendiri membutuhkan 9.000 tenaga kerja.

Pemerintah menargetkan PT Kawasan Industri Nusantara selaku pengelola KEK Sei Mangkei dapat mendatangkan investasi sebesar Rp6,5 triliun pada tahun 2025.

"Menarik investor ini tergantung nilai kompetitif kita. Yang paling gampang (menarik investor) adalah berkaitan dengan row material yang ada di kita, seperti CPO, karet. (Diolah) menjadi oleochemical, gloves (sarung tangan), dan ban," jelasnya.

Baca Juga: Guru SMKN 1 Humbahas Tewas Terbakar di Ladang, Diduga Dibunuh

Moses Situmorang juga mengungkapkan, dari KEK yang ada di seluruh Indonesia, KEK Sei Mangkei mengalami pertumbuhan paling tinggi. Jika dilihat dari nilai investasi yang masuk, KEK Sei Mangkei berada di posisi ketiga setelah KEK Gresik dan KEK Batang.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) sendiri menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan akademisi untuk mengembangkan berbagai potensi yang ada di Sumut. Hal ini terutama agar Sumut dapat berkontribusi dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto.

Demikian dikatakan Pj Gubernur Sumut Agus Fatoni diwakili Kepala Dinas Komunikasi dan Digital (Kadis Komdigi) Ilyas S Sitorus, saat tampil sebagai keynote speaker dalam forum diskusi Bisnis Indonesia Outlook Economic 2025 dengan tema Reading The Direction of North Sumatera's Economic Pendulum, di Hotel JW Marriot Medan, Selasa (10/12).

Sejumlah narasumber hadir dalam diskusi tersebut, di antaranya Deputi Direktur KPw BI Sumu Indra Kuspriyadi; Direktur Eksekusi Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah Sumut Ritha F Dalimunthe; Ketua Kadin Sumut Firsal Mutyara; Dirut PT Kawasan Industri Nusantara Moses Situmorang, dan lainnya.

Agus Fatoni mengatakan, Provinsi Sumut berperan penting sebagai salah satu motor ekonomi perekonomian nasional.

"Namun kita juga harus menyadari tantangan yang ada, dinamika ekonomi global yang tidak menentu, perkembangan teknologi yang begitu pesat dan transformasi kebutuhan pasar mengharuskan kita bergerak lebih adaptif, inovatif dan kolaboratif," ujarnya.

Berbagai keunggulan yang dimiliki provinsi ini terus dioptimalkan, seperti di bidang pertanian dan perkebunan dimana Sumut dikenal sebagai penghasil komoditas kelapa sawit, karet dan kopi yang memiliki daya saing tinggi di pasar internasional.

"Di sektor pariwisata, Sumut memiliki Danau Toba yang telah mendapatkan status sebagai UNESCO Global Geopark dan ini merupakan aset tidak ternilai," tuturnya.

Keunggulan lain yang dimiliki Sumut adalah kehadiran KEK Sei Mangke di Kabupaten Simalungun dan Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara, yang diharapkan dapat menjadi peluang besar untuk meningkatkan ekspor dan menarik investasi dari mancanegara

Di samping berbagai keunggulan tersebut, Sumut juga memiliki tantangan yang harus dihadapi. Di antaranya kesenjangan infrastruktur di beberapa wilayah di Sumut, ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompetitif, keterlibatan lebih besar dari dunia usaha dan lainnya. (mbc)

Editor : Editor Satu
#KEK Sei Mangkei