SAMOSIR, METRODAILY – Di tengah megahnya panorama Danau Toba, berdiri sebuah destinasi spiritual dan wisata yang makin menarik perhatian wisatawan: Menara Doa Sinatapan.
Tak hanya menawarkan pemandangan spektakuler dari ketinggian, menara ini kini jadi lokasi favorit pernikahan bernuansa adat dan religi.
Terletak di Desa Partungko Naginjang, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir, Menara Doa Sinatapan dibangun pada 2017 oleh Brigjen Pol (Purn) Adv. Drs. Jannes Sinurat, S.H. dan dr. Hawani F.R. br. Nadeak, M.Th.
Baca Juga: Beri Kejutan Manis, TNI Datang Bawa Kue ke Polsek SD Hole
Keduanya membuka tempat ini untuk semua kalangan—tanpa memandang usia maupun latar belakang agama.
“Menara Doa ini adalah tempat untuk semua orang yang ingin merasakan ketenangan dan kekuatan doa sambil menikmati keindahan ciptaan Tuhan dari ketinggian Danau Toba,” kata Jannes dalam keterangannya, Kamis (3/7/2025).
Dengan arsitektur sederhana setinggi 10 meter, pengunjung bisa menikmati hamparan biru Danau Toba, Pulau Samosir, dan perbukitan hijau dari satu titik pandang—sekaligus merenung dalam keheningan spiritual.
Namun belakangan, Menara Doa Sinatapan juga jadi favorit baru untuk menggelar pernikahan, terutama bagi pasangan berdarah Batak yang ingin kembali ke akar budaya leluhur.
Baca Juga: Musnahkan Barang Bukti, Kejari Tapsel Bakar Sabu dan Ganja
Seperti yang dilakukan pasangan Hendry Donald Hanesty Sinurat dan Efriska Ginasti Mayangsari Br. Nadeak, yang memilih mengikat janji suci di tempat ini pada 28 Juni 2025.
Meski dibesarkan di luar Pulau Sumatera, keduanya bersikeras menggelar pernikahan di jantung budaya Batak. “Ini adalah bentuk syukur dan kecintaan kami terhadap tanah leluhur. Kami ingin generasi muda juga bangga dan melestarikan budaya Samosir,” ujar Efriska.
Prosesi pernikahan berlangsung khidmat dalam balutan adat Batak, dikelilingi birunya danau, sejuknya angin bukit, serta kehadiran keluarga dan tamu kehormatan, termasuk pejabat Polri dan pemerintahan.
Baca Juga: Kejar Pangulu Korup, Pegawai Muda Kejari Simalungun Tewas Terbawa Arus
Menara Doa Sinatapan kini bukan hanya tempat merenung, tapi telah menjelma menjadi destinasi penuh makna, sarat spiritualitas dan kebanggaan budaya.
“Meski kami lahir dan besar jauh dari Sumatera Utara, hati kami selalu terpanggil pulang,” ungkap Hendry. “Kami ingin pernikahan ini jadi pengingat bahwa cinta pada tanah kelahiran tidak akan pernah hilang.”
Menara ini membuktikan bahwa Samosir bukan hanya indah untuk dinikmati, tapi juga tempat yang tepat untuk merenung, memulai hidup baru, dan menghidupkan kembali akar budaya. (net)
Editor : Editor Satu