Libur Lebaran Sepi, Parapat Perlu Strategi Baru Hadapi Persaingan Wisata
Editor Satu• Selasa, 8 April 2025 | 12:30 WIB
Suasana Kota Parapat. Selama libur Lebaran, kunjungan wisatawan menurun.
SIMALUNGUN, METRODAILY – Libur panjang Idul Fitri 1446 H yang dirangkai dengan cuti bersama sejak 28 Maret hingga 7 April 2025 ternyata tidak mampu mendongkrak kunjungan wisata ke Kota Parapat, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Destinasi andalan Danau Toba ini mulai kehilangan daya saing, kalah bersaing dengan daerah tetangga seperti Samosir.
Ketua PHRI Simalungun Robert Pardede menyampaikan, tingkat hunian hotel di Parapat pada tiga hari pertama Lebaran hanya berkisar 10–20 persen.
Meski terjadi kenaikan pada akhir pekan (5–6 April), hanya sebagian hotel berbintang yang mengalami peningkatan signifikan, sementara penginapan lainnya tetap sepi atau bahkan kosong.
“Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, kunjungan kali ini jauh menurun. Bahkan saat libur panjang seperti ini, Parapat tetap tidak ramai,” ujar Robert, Senin (7/4).
Penurunan kunjungan juga dibenarkan oleh Ferri Ndraha, pemandu wisata Danau Toba. Ia menyoroti bahwa libur Lebaran kali ini terasa seperti akhir pekan biasa, tanpa peningkatan signifikan di lokasi-lokasi wisata.
Menurut Ferri, biasanya menjelang dan selama Lebaran, kunjungan dari pejabat kementerian beserta rombongan keluarga turut mendongkrak sektor wisata. Namun tahun ini, pola tersebut tidak tampak.
“Mungkin karena kebijakan efisiensi anggaran, juga karena cuaca buruk dan kabar banjir bandang jelang Lebaran,” ujarnya.
Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Ekonomi Kreatif Simalungun, Muhammad Fikri Fanani Damanik, juga mengakui hal itu. Ia menyebut beberapa faktor penyebab turunnya kunjungan, mulai dari cuaca ekstrem, bencana alam, hingga kompetisi dengan objek wisata baru di sekitar Danau Toba.
“Objek wisata seperti Jembatan Layang Menara Tele di Samosir menjadi magnet baru. Banyak wisatawan memilih destinasi lain yang sedang naik daun,” kata Fikri.
Lebih lanjut, Fikri mengungkapkan tahun ini tidak ada kegiatan seni dan musik di Parapat, yang biasanya diadakan untuk menarik wisatawan saat Lebaran. Hal ini merupakan bagian dari kebijakan refocusing anggaran pemerintah daerah.
“Kami tidak bisa menggelar event besar tahun ini karena keterbatasan anggaran. Ini tentu berdampak terhadap minat kunjungan wisatawan,” ungkapnya.
Penurunan ini menjadi sinyal bahwa Parapat perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap strategi pariwisata. Penguatan daya tarik lokal, promosi digital, hingga kolaborasi dengan pelaku industri kreatif menjadi langkah yang bisa ditempuh untuk menghidupkan kembali sektor pariwisata.
Pemkab Simalungun diharapkan segera menyusun langkah strategis untuk mengembalikan posisi Parapat sebagai salah satu destinasi unggulan Danau Toba. (ant)