PR Harahap, warga Marihat Bandar, Kecamatan Bandar, Kabupaten Simalungun, Selasa (7/6) menjelaskan, sapi warga yang terindikasi terkena serangan penyakit mulut dan kuku ini kian hari semakin bertambah. Bahkan jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan ekor dan kasus yang sama juga terjadi dibeberapa nagori, khususnya daerah yang berbatasan dengan areal perkebunan kelapa sawit.
Dikatakan, akibat adanya serangan penyakit mulut dan kuku ini membuat warga khususnya pemilik ternak sapi (lembu) menjadi resah.
” Sejauh ini belum ada perhatian pihak terkait. Bahkan sudah ada 7 ekor sapi yang mati. Lain lagi yang dijual karena sakit. Dan kondisi ini membuat warga pemilik menjadi stress karena sapinya tiba-tiba lemas, tidak mau makan dan minum serta tak sanggup berdiri. Suhu badan meninggi. Dari mulut sapi keluar busa seperti keracunan. Kuku sapi bernanah sampai berdarah bahkan mengeluarkan bau tidak sedap,” ucap Harahap, seraya mengatakan dirinya khawatir kalau tidak ada perhatian dan pengawasan, hewan qurban nanti akan banyak yang sudah terjangkit.
Hal senada disampaikan Jumadi, 46, juga warga Nagori Marihat Bandar. Mereka sebagai pemilik sapi dirundung keresahan akibat serangan penyakit mulut dan kuku terhadap ternak sapi. Awalnya, mereka tidak begitu respon soal penyakit mulut dan kuku tersebut, karena kejadian pertama diketahui terjadi di Pulau Jawa.
” Awalnya kami tidak percaya. Kami merasa penyakit itu tidak akan sampai ke ternak sapi kami disini. Tetapi kenyataannya, saat ini penyakit itu sudah merambah hingga keberbagai pelosok kampung dan membuat ratusan pemilik ternak menjadi resah berkepanjangan,” ucap Jumadi.
Sesungguhnya, keresahan pemilik ternak sudah berlangsung sekitar 2 minggu terakhir, terhitung sejak terdengarnya informasi terkait berjangkitnya penyakit mulut dan kuku pada sapi yang terjadi diberbagai daerah di Sumut.
” Sapi yang terindikasi sudah terserang PMK, gejalanya tiba-tiba tidak mau makan, lemah tidak bisa berdiri, mulut berbuih, sedang kukunya bernanah selalu dihinggapi lalat,” cetus Jumadi.
Sedangkan upaya yang mereka lakukan untuk mengatasi atau mengobati sapi yang terindikasi terkena PMK, mereka hanya memberi jamu, sebagian ada yang menyuntikkan vaksin dan vitamin.
Pemilik sapi lainnya, M Khairul warga Kecamatan Bandar Huluan, juga mengakui bahwa gejala penyakit mulut dan kuku ini sudah merambah kemana-mana. Sejak dua pekan lalu gejala ini sudah terlihat pada ternak sapinya, bahkan dirinya sudah panik, karena tiba-tiba seekor sapinya tidak mau makan dan berdiri.
Merasa curiga sapinya sudah terjangkit PMK, dia langsung menghubungi mantri hewan untuk memberi vaksin dan vitamin terhadap seluruh ternak lembunya.
” Alhamdulillah, kini ternak sapi kami sudah kembali mau makan dan sudah bisa berdiri. Selain diberi vaksin dan vitamin, sapinya juga kami beri minum jamu buatan sendiri,” kata Khairul.
Dia berharap, pihak Pemerintah Kabupaten Simalungun segera turun tangan mengatasinya, sehingga ternak-ternak sapi yang belum terkena penyakit mulut dan kuku dapat terselamatkan. Begitupun ternak yang sudah terindikasi kena PMK dapat diberi suntikan obat dan vitamin.
Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Peternakan Pemerintah Kabupaten Simalungun, Robert Pangaribuan yang dihubungi via telepon seluler mengaku, pihaknya sudah mendapat laporan dan sudah melakukan penanganan untuk hewan ternak sapi terindikasi PMK di Simalungun sejak 15 Mei lalu.
“Ada beberapa peternak yang melaporkan ternaknya terindikasi PMK. Maka petugas dari Dinas sudah mengecek langsung, dan melakukan penanganan. Setelah dirawat sekitar dua minggu, ada yang sudah mengalami perubahan dan pulih kembali,” kata Robert Pangaribuan.
Dijelaskan Robert, ternak di Dolok Ilir, Sidotani, Syahkuda dan Sayur Matinggi yang terindikasi PMK sudah mendapat penanganan dari petugas.
“Jika cepat ditangani, kemungkinan sembuh semakin besar,” katanya.
Pemkab Simalungun melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan, lanjut Robert, sudah berusaha mencegah masuknya PMK pada ternak hewan. Diantaranya; melakukan pengawasan lalulintas masuk dan keluar hewan beserta produknya, meminimalisir pergerakan lintas kabupaten, melakukan pendampingan peternak, melarang masuknya hewan yang sudah ada wabah PMK, terutama Jawa Timur dan Aceh.(esa/md) Editor : Metro-Esa