
SIANTAR,METRODAILY - Survei Kepuasan Pelanggan dan Real Demand Survey yang dilaksanakan Perumda Air Minum Tirta Uli Pematangsiantar bersama Pusat Studi Kebijakan Publik dan Politik (PUSTAKA) Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar mencatat indeks kepuasan pelanggan aktif mencapai 78,50 persen.
Survei tersebut melibatkan 408 responden, termasuk 365 pelanggan aktif yang tersebar di 10 unit wilayah. Pengumpulan data dilakukan secara langsung untuk mengukur tingkat kepuasan sekaligus menyerap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan air bersih.
Direktur PUSTAKA Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar Rindu E Marpaung MAP mengatakan, hasil survei tersebut memberikan gambaran mengenai kualitas pelayanan sekaligus berbagai persoalan yang masih menjadi perhatian pelanggan.
Salah satu aspirasi masyarakat adalah permintaan agar biaya pemasangan sambungan baru dapat dibayar secara mencicil. Kebijakan tersebut dinilai dapat meringankan beban calon pelanggan yang belum mampu membayar biaya pemasangan sekaligus.
Selain itu, masyarakat berharap Perumda Air Minum Tirta Uli mempertimbangkan kebijakan pemutihan atau keringanan tunggakan rekening air sesuai ketentuan yang berlaku.
Pelanggan juga mengharapkan perbaikan kerusakan pipa distribusi dapat dilakukan maksimal dalam waktu 1 x 24 jam. Tidak kalah penting, masyarakat meminta tersedianya layanan pengaduan yang dapat dihubungi setiap saat dengan respons cepat terhadap setiap keluhan.
"Berbagai masukan ini merupakan bagian penting dari hasil survei untuk mengetahui kebutuhan riil masyarakat. Kami berharap hasil survei ini menjadi bahan evaluasi bagi Perumda Tirta Uli dalam meningkatkan kualitas pelayanan, mempercepat penanganan pengaduan, serta memberikan kemudahan akses air bersih bagi masyarakat," ujar Rindu.
Menanggapi aspirasi tersebut, Direktur Utama (Dirut) Perumda Air Minum Tirta Uli Arianto ST MM menjelaskan biaya pemasangan sambungan baru saat ini sebesar Rp2 juta. Menurutnya, biaya tersebut masih relatif murah dibandingkan sejumlah daerah lain yang telah mencapai Rp2,5 juta. Harga tersebut dapat dipertahankan karena perusahaan memberikan subsidi terhadap biaya pemasangan.
Namun, apabila jarak pemasangan melebihi 10 meter, pelanggan dikenakan biaya tambahan sesuai ketentuan. Hal ini karena jaringan pipa distribusi belum seluruhnya menjangkau hingga ke depan rumah masyarakat.
Terkait permintaan pembayaran secara cicilan, Arianto menegaskan untuk saat ini perusahaan belum dapat menerapkan sistem angsuran.



