
Lahan yang terbakar diketahui ditumbuhi berbagai vegetasi seperti bambu, ubi, kelapa sawit, serta tanaman liar. Area tersebut juga merupakan bekas lokasi kremasi yang kini tidak terkelola dengan baik.
Kapolres Simalungun, Marganda Aritonang, melalui Kasi Humas Verry Purba, menyebut kebakaran diduga dipicu suhu panas ekstrem yang membakar rumput kering.
“Api dengan cepat membesar karena tiupan angin dan kondisi lahan yang kering,” ujarnya.
Kondisi vegetasi yang mudah terbakar serta minimnya perawatan lahan mempercepat penyebaran api ke sejumlah titik.
Dua personel Polsek Bangun langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan penanganan awal serta mencegah api merambat ke permukiman warga dan lahan produktif di sekitarnya.
Seorang warga bernama Josen (49) dilaporkan terdampak dalam kejadian ini, sementara saksi mata Kamiran (64) melihat langsung peristiwa kebakaran tersebut.
Meski diklasifikasikan sebagai peristiwa non-pidana, kebakaran ini menjadi peringatan serius terhadap meningkatnya potensi karhutla di tengah cuaca panas.
Polres Simalungun mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu api, seperti membuang puntung rokok sembarangan di area kering.
“Segera laporkan jika menemukan titik api. Pencegahan karhutla adalah tanggung jawab bersama,” tegas Verry.
Dengan potensi musim kemarau yang memperpanjang kondisi kering, kewaspadaan kolektif menjadi kunci untuk mencegah kebakaran serupa meluas dan berdampak lebih besar terhadap lingkungan maupun ekonomi warga. (rel)
Artikel Terkait
5 Hektare Lahan di Simangaronsang Terbakar, TNI dan Damkar Turun
Sekitar 5 hektare lahan warga di Simangaronsang, Humbahas, terbakar. Damkar Pemkab dan Yonif TP 955/HS berjibaku memadamkan api.

