alexametrics
28.9 C
Medan
Thursday, October 6, 2022

RDP Forkopimda Madina Bahas Gas: PT SMGP ‘Mengelak’

MADINA, METRODAILY – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal menggelar rapat antar Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, Warga Desa Sibanggor Julu, dan Pimpinan PT Sorik Marapi Geothermal Power dan KS Orka, Rabu (21/9/2022) di Aula Kantor Bupati.

RDP ini membahas peristiwa keracunan gas yang berulang terjadi mendera warga di sekitar proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPb) itu.

Peristiwa terakhir, Jumat (16/9/2022) malam. PT SMGP menolak tegas, aktivitas yang mereka kerjakan yang menyebabkan 9 warga desa harus dirawat setelah pingsan, mual dan muntah. Alasannya, kata Kepala Komunikasi Publik KS Orka Yani Siskartika, aktivitas malam itu ada di Wellpad T hanya Logging Test di Sumur T-11. Logging test merupakan pengerjaan memasukkan alat untuk mengukur suhu di dalam sumur.

“Kondisi sumur tertutup, dan tidak ada aliran fluid sama sekali yang keluar dari sumur sepanjang logging dilakukan,” ujar Yani.

Menilik insiden pada 25 Januari 2021 lalu. PT SMGP melakukan pengetesan sumur nomor 02 di kompleks sumur panas (Wellpad) Tango yang berada di Desa Sibanggor Julu. Warga yang kala itu tidak mendapat informasi, melakukan aktivitas seperti biasanya, bertani.

Gas dilepas. Menyergap puluhan manusia yang umumnya kaum ibu dan anak-anak itu. Lima orang seketika meregang nyawa. Dan puluhan lainnya tergeletak tak berdaya di atas sawahnya, yang berjarak hanya batas pagar dengan Wellpad tersebut. Belakangan, gas pembunuh lima warga itu disebut sebagai Hidrogen Sulfida (H2S).

Sejak saat itu, hingga kasus terakhir ini. Gas yang terus mengancam dan membuat warga harus dirawat, kerap diduga dan disebut H2S.

Dalam rapat bersama Bupati Madina, Forkopimda dan warga itu hadir Presiden Direktur KS Orka dr Yan Tang dan Direktur Utama Riza Pasikki, serta Yani Siskartika. Dari PT SMGP ada Ali Sahid sebagai Wakil Kepala Teknik Panas Bumi.

Ali Sahid memaparkan sejumlah peristiwa di mana warga mencium aroma yang bahkan menyebabkan sesak nafas hingga pingsan. Tetapi katanya, sama sekali hampir tidak berkaitan dengan aktivitas mereka.

“Tapi sayangnya. Setelah kejadian 25 Januari, 16 Mei 2021 sama kasusnya ada orang yang mencium bau. Terus mengatakan kena H2S. Kejadian 8 Januari 2022 kita di AE 07 dapat laporan katanya puluhan siswa kena H2S. Kebetulan waktu Itu saya sama Pak Ade Roby ada di Sibanggor Julu ,” ceritanya. Beberapa kasus warga mencium bau mereka simpan karena khawatir akan menjadi isu yang merugikan.

Baca Juga :  Tapsel Tuan Rumah Pelatihan Souvenir Zona Pantai Barat Sumut

 

Ali Sahid sendiri yakin ada aroma bau yang menyebar di lingkungan permukiman yang kemudian menyebabkan harus dirawat. Namun ia sendiri masih bertanya bau gas itu berasal dari mana. Dan ini yang menggelitik baginya. Dan menduga-duga ada yang mempermainkannya.

Kemudian pada persoalan 24 April 2022. Di mana insiden semburan lumpur dan gas keluar saat pengeboran untuk sumur T-12. Ali Sahid menyebut ada 120 orang di sekitar sumur tidak mengalami apa-apa dari semburan itu.

“Tetapi ada masyarakat kita 300 meter lari ke rumahnya terus merasakan bau sesak nafas dan dibawa ke rumah sakit. Masih bisa dimengerti mungkin dari Pak Aswat tadi bilang karena psikomatik. Ya. Kita akui bisa terjadi. Tetapi apakah gas H2S ini juga menggelitik perasaan kami semua,” katanya.

Dari sejumlah kasus ini, Ali Sahid kembali mengungkapkan dugaan ada permainan tidak sehat yang mengarah pada tindakan fitnah terhadap mereka. Ia pun sepakat, jika tim independen yang akan dibentuk pemerintah daerah melakuman observasi dan penelitian kemungkinan-kemungkinan lain.

Sebelumnya, dari Gerakan Pemuda Islam mengaku sangat kecewa dengan penyangkalan PT SMGP dan seakan menuduh warga berbohong. Ia pun mempertanyakan apakah ada gas lain yang menyebabkan keracunan dari aktivitas yang berhubungan dengan geothermal.

“Karena sepengetahuan kami, ada beberapa gas yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia itu di gunung berapi, tidak hanya H2S,” katanya.

Dari sejumlah pernyataan perusahaan. Salah satu warga yang menjadi korban, Parwis, pun menuduh banyak kebohongan yang disampaikan, karena mengaku langsung merasakan dampaknya. Bahkan dua kali saat aktivitas logging test di Wellpad T itu.

“Itu juga bohong, jarak tidak 750 meter. Ke tempat saya, kurang lebih hanya 50 meter. Itu di warung saya, saya dan dua anak saya yang menjadi korban. Terus yang disosialisasikan sama kami hanya H2S. Kami tidak mengerti gas lain. Jadi kami bingung mau kemana, orang itu yang berbuat tetapi bukan orang itu,” katanya yang terbata menahan murka.

Ia pun menyebut selama ini yang terjadi di sana merupakan pencemaran udara. Tidak hanya H2S.

Selama ini warga trauma dan terancam dengan aroma-aroma busuk yang baunya lebih menyengat dari aroma belerang. Warga bahkan menggambarkan, pada Jumat (16/9/2022) malam kemarin, seperti kambing yang keluar dari kandang berhamburan keluar dari rumahnya.(san)

MADINA, METRODAILY – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal menggelar rapat antar Forum Komunikasi Pimpinan Daerah, Warga Desa Sibanggor Julu, dan Pimpinan PT Sorik Marapi Geothermal Power dan KS Orka, Rabu (21/9/2022) di Aula Kantor Bupati.

RDP ini membahas peristiwa keracunan gas yang berulang terjadi mendera warga di sekitar proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPb) itu.

Peristiwa terakhir, Jumat (16/9/2022) malam. PT SMGP menolak tegas, aktivitas yang mereka kerjakan yang menyebabkan 9 warga desa harus dirawat setelah pingsan, mual dan muntah. Alasannya, kata Kepala Komunikasi Publik KS Orka Yani Siskartika, aktivitas malam itu ada di Wellpad T hanya Logging Test di Sumur T-11. Logging test merupakan pengerjaan memasukkan alat untuk mengukur suhu di dalam sumur.

“Kondisi sumur tertutup, dan tidak ada aliran fluid sama sekali yang keluar dari sumur sepanjang logging dilakukan,” ujar Yani.

Menilik insiden pada 25 Januari 2021 lalu. PT SMGP melakukan pengetesan sumur nomor 02 di kompleks sumur panas (Wellpad) Tango yang berada di Desa Sibanggor Julu. Warga yang kala itu tidak mendapat informasi, melakukan aktivitas seperti biasanya, bertani.

Gas dilepas. Menyergap puluhan manusia yang umumnya kaum ibu dan anak-anak itu. Lima orang seketika meregang nyawa. Dan puluhan lainnya tergeletak tak berdaya di atas sawahnya, yang berjarak hanya batas pagar dengan Wellpad tersebut. Belakangan, gas pembunuh lima warga itu disebut sebagai Hidrogen Sulfida (H2S).

Sejak saat itu, hingga kasus terakhir ini. Gas yang terus mengancam dan membuat warga harus dirawat, kerap diduga dan disebut H2S.

Dalam rapat bersama Bupati Madina, Forkopimda dan warga itu hadir Presiden Direktur KS Orka dr Yan Tang dan Direktur Utama Riza Pasikki, serta Yani Siskartika. Dari PT SMGP ada Ali Sahid sebagai Wakil Kepala Teknik Panas Bumi.

Ali Sahid memaparkan sejumlah peristiwa di mana warga mencium aroma yang bahkan menyebabkan sesak nafas hingga pingsan. Tetapi katanya, sama sekali hampir tidak berkaitan dengan aktivitas mereka.

“Tapi sayangnya. Setelah kejadian 25 Januari, 16 Mei 2021 sama kasusnya ada orang yang mencium bau. Terus mengatakan kena H2S. Kejadian 8 Januari 2022 kita di AE 07 dapat laporan katanya puluhan siswa kena H2S. Kebetulan waktu Itu saya sama Pak Ade Roby ada di Sibanggor Julu ,” ceritanya. Beberapa kasus warga mencium bau mereka simpan karena khawatir akan menjadi isu yang merugikan.

Baca Juga :  PT SSS dan KP USU Bagikan Paket Bantuan Duafa di Muara Batang Gadis

 

Ali Sahid sendiri yakin ada aroma bau yang menyebar di lingkungan permukiman yang kemudian menyebabkan harus dirawat. Namun ia sendiri masih bertanya bau gas itu berasal dari mana. Dan ini yang menggelitik baginya. Dan menduga-duga ada yang mempermainkannya.

Kemudian pada persoalan 24 April 2022. Di mana insiden semburan lumpur dan gas keluar saat pengeboran untuk sumur T-12. Ali Sahid menyebut ada 120 orang di sekitar sumur tidak mengalami apa-apa dari semburan itu.

“Tetapi ada masyarakat kita 300 meter lari ke rumahnya terus merasakan bau sesak nafas dan dibawa ke rumah sakit. Masih bisa dimengerti mungkin dari Pak Aswat tadi bilang karena psikomatik. Ya. Kita akui bisa terjadi. Tetapi apakah gas H2S ini juga menggelitik perasaan kami semua,” katanya.

Dari sejumlah kasus ini, Ali Sahid kembali mengungkapkan dugaan ada permainan tidak sehat yang mengarah pada tindakan fitnah terhadap mereka. Ia pun sepakat, jika tim independen yang akan dibentuk pemerintah daerah melakuman observasi dan penelitian kemungkinan-kemungkinan lain.

Sebelumnya, dari Gerakan Pemuda Islam mengaku sangat kecewa dengan penyangkalan PT SMGP dan seakan menuduh warga berbohong. Ia pun mempertanyakan apakah ada gas lain yang menyebabkan keracunan dari aktivitas yang berhubungan dengan geothermal.

“Karena sepengetahuan kami, ada beberapa gas yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia itu di gunung berapi, tidak hanya H2S,” katanya.

Dari sejumlah pernyataan perusahaan. Salah satu warga yang menjadi korban, Parwis, pun menuduh banyak kebohongan yang disampaikan, karena mengaku langsung merasakan dampaknya. Bahkan dua kali saat aktivitas logging test di Wellpad T itu.

“Itu juga bohong, jarak tidak 750 meter. Ke tempat saya, kurang lebih hanya 50 meter. Itu di warung saya, saya dan dua anak saya yang menjadi korban. Terus yang disosialisasikan sama kami hanya H2S. Kami tidak mengerti gas lain. Jadi kami bingung mau kemana, orang itu yang berbuat tetapi bukan orang itu,” katanya yang terbata menahan murka.

Ia pun menyebut selama ini yang terjadi di sana merupakan pencemaran udara. Tidak hanya H2S.

Selama ini warga trauma dan terancam dengan aroma-aroma busuk yang baunya lebih menyengat dari aroma belerang. Warga bahkan menggambarkan, pada Jumat (16/9/2022) malam kemarin, seperti kambing yang keluar dari kandang berhamburan keluar dari rumahnya.(san)

iklan simalungun
iklan simalungun

Most Read

Artikel Terbaru

/