Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Omara Esteghlal Ungkap Pesan di Film 'Pengepungan di Bukit Duri': Kita Terbiasa Benci Tanpa Alasan

Admin Metro Daily • Rabu, 16 April 2025 | 08:03 WIB

 

Aktor Omara Esteghlal saat temu pers jelang peluncuran film Pengepungan di Bukit Duri, di Medan.
Aktor Omara Esteghlal saat temu pers jelang peluncuran film Pengepungan di Bukit Duri, di Medan.

MEDAN, METRODAILY - Aktor Omara Esteghlal mengaku memainkan karakter Jefrey dalam film Pengepungan di Bukit Duri menjadi salah satu tantangan terberatnya.

"Karakter Jefrey itu berat banget. Dia bukan jahat karena dia ingin, tapi karena dia produk dari lingkungan yang menyakitinya sejak kecil. Dia tumbuh di keluarga yang abusive, dan satu-satunya bahasa yang dia tahu untuk berinteraksi dengan dunia adalah kekerasan," kata Omara saat temu pers jelang peluncuran film tersebut, di Medan, Senin.

Tokoh Jefrey yang brutal dan kejam, kata dia,  adalah cerminan nyata dari seseorang yang dibentuk oleh kekerasan dan pengabaian lingkungan.

Menurutnya, banyak anak-anak yang tumbuh tanpa kasih sayang dan dihukum secara fisik setiap hari. Mereka pun mencari identitas dan validasi dari luar, tapi yang mereka tahu hanya cara menyakiti.

"Makanya, walaupun kejam, perbuatan Jefrey terasa masuk akal. Karena itu satu-satunya bahasa yang dia pelajari sejak kecil," tambahnya.

Omara juga menekankan bahwa film ini bukan hanya tentang kekacauan dan kerusuhan, tapi soal bagaimana kita sebagai masyarakat punya peran dalam membentuk atau bahkan menyelamatkan mereka yang tumbuh dalam luka.

"Kita bagian dari masyarakat. Jadi kalau ada yang rusak, itu juga karena kita diam atau membiarkan," ujarnya.

Film Pengepungan di Bukit Duri sendiri menyajikan realitas sosial Indonesia dalam bentuk fiksi distopia.

Dalam final trailer-nya, ditampilkan bagaimana keadaan yang tampaknya normal bisa berubah menjadi neraka dalam sekejap—kerusuhan, kekerasan, dan kebencian menjadi dominasi.

“Negara kita itu kayak kaca yang paling tipis,” begitu narasi dari karakter Edwin yang diperankan Morgan Oey.

Bagi Omara, pesan yang ingin disampaikan film ini sangat relevan dengan kondisi Indonesia hari ini.

“Kita sering lupa bahwa Indonesia itu majemuk. Kita sering menganggap perbedaan itu hal kecil, padahal di sanalah awal mula banyak masalah. Ketika mayoritas membenci seseorang tanpa alasan yang jelas, yang lain ikut-ikutan. Rasionalitas hilang,” ucapnya.

Ia menambahkan, akar dari konflik sosial sering kali bukan karena alasan nyata, tapi karena ketidakmampuan kita menghadapi perbedaan.

“Kita dibiasakan ikut arus, bahkan untuk urusan membenci. Ini yang ingin diingatkan oleh film ini—jangan ikut-ikutan kalau nggak tahu kenapa. Jangan ikut membenci hanya karena semua orang melakukannya,” tegasnya.

Bagi Omara dan tim produksi, keberanian film ini adalah menyampaikan pesan yang mungkin tidak nyaman, tapi penting.

Editor : Admin Metro Daily
#Omara Esteghlal #Pengepungan di Bukit Duri