alexametrics
27 C
Medan
Tuesday, August 9, 2022

iklanpemko

Webinar Literasi Digital Simalungun: Jangan hanya Baca Judul Berita

SIMALUNGUN, METRODAILY.id- Jika mendapat sebuah berita atau informasi, masyarakat sebagai penerima jangan sampai hanya membaca judulnya. Tetapi harus memastikan benar isi berita tersebut.

Hal itu menjadi salah satu kesimpulan dalam webinar Literasi Digital Kabupaten Simalungun, Selasa (3/8) pukul 09.00 WIB. Webinar digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sesuai arahan Presiden Republik Indonesia tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital.

Selain meningkatkan infrastruktur digital, juga melakukan program pengembangan sumber daya manusia talenta digital. Kemkominfo melalui Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aptika memiliki target hingga tahun 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital dengan secara spesifik untuk tahun 2021.

Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi di bidang digital.

Hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan mengingat penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Internet saat ini sudah semakin masif dan pentingnya peningkatan kemampuan dan pemahaman masyarakat dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan internet yang benar melalui implementasi program literasi digital di daerah.

Berkenaan dengan hal tersebut, Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 kabupaten/kota dari Aceh hingga Lampung.

Sebagai Keynote Speaker, Gubernur Sumatera Utara H Edi Rahmayadi mengatakan, tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing masing oleh putra putri daerah melalui digital platform.

Presiden RI, Joko Widodo  juga memberikan sambutan dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Chika Audhika (Co-Founder dan CMO of Bicara Project), pada sesi Kecakapan Digital memaparkan tema “Inclusive Chit-Chat: Tips Menggunakan Aplikasi Percakapan Sosial Media bagi Difabel”.

Dalam pemaparannya, Chika menjabarkan media sosial yang ramah disabilitas, meliputi voice note, siri, teks bahasa Indonesia, dan video call. Aplikasi khusus disabilitas, seperti signteraktif, DIFA shop, voice dream reader, be my eyes, dan brailliac bakal.

Memaksimalkan dunia digital untuk teman disabilitas, dengan cara mengadakan seminar, workshop, dan training. Satu-satunya keterbatasan dalam hidup ialah dengan berperilaku buruk. Sekarang ini sangat memudahkan sekali untuk penyandang disabilitas menggunakan aplikasi percakapan media sosial karena melewati literasi digital saat ini banyak aplikasi yang digunakan dengan mudah untuk membantu berkomunikasi penyandang disabilitas kepada orang lain.

Dilanjutkan dengan sesi Keamanan Digital oleh Ronny H Mustamu (Directur, Quadrant Consulting). Ronny mengangkat tema “Kenali dan Pahami Rekam Jejak Digital”.

Ronny menjelaskan untuk era digital sekarang ini sangat banyak sekali informasi yang tersebar melalui sosial media, banyak juga berita yang belum tentu benar seperti hoax. Jika masyarakat mendapat sebuah berita atau informasi, masyarakat sebagai penerima jangan sampai hanya membaca melalui judulnya saja tetapi harus pastikan benar isinya seperti apa.

Judul saat ini sering sekali menggunakan click bait agar masyarakat tertarik untuk membuka berita atau informasi tersebut. Jadi benar-benar harus dipastikan lagi, cek dan re-check lagi benar atau tidaknya agar tidak menimbulkan kontroversi. Karena beberapa orang Indonesia sering terpancing berita atau informasi yang belum tentu benar. Kuncinya adalah saring sebelum sharing atau membagikan informasi di media sosial.

Baca Juga :  Bikin Konten Epic ala Sutradara atau Vlogger? Semua Bisa dengan Galaxy S21 Series 5G!

Sesi Budaya Digital oleh Tiarma Marpaung SPd MPd (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas HKBP Nommensen Medan). Tiarma memberikan materi dengan tema “Internet Addiction: How Much is That?”

Tiarma menjelaskan kecanduan internet untuk era literasi digital ini sekarang sering terjadi karena internet sekarang sudah bergeser menjadi kebutuhan pokok manusia. Saat ini, banyak orang yang kecanduan internet seperti cybersex, game online, & kecanduan game online yang membuat membuat hidup menjadi boros karena membeli aplikasi-aplikasi yang ada di game.

Contohnya jika sebelumnya internet belum menjadi kebutuhan pokok, masyarakat bangun tidur langsung melakukan aktivitas lain seperti membereskan tempat tidur atau yang lainnya, jika di era sekarang internet yang sudah menjadi kebutuhan pokok bangun tidur langsung membuka media sosial seperti Instagram, tiktok, ataupun youtube.

Agar masyarakat terhindar dari kecanduan internet masyarakat harus konsisten dan dapat membagi waktu antara aktivitas di dunia nyata dengan aktivitas di dunia internet.

Narasumber terakhir pada sesi Etika Digital oleh Beslina Afriani Siagian SPd MSi  (Ketua Gugus Penjamin Mutu FKIP Universitas HKBP Nommensen). Beslina mengangkat tema “Bebas namun Terbatas: Berekspresi di Media Sosial”.

Beslina membahas, selain di dunia nyata masyarakat juga berinteraksi di dunia maya, masyarakat juga harus menjaga interaksi terhadap orang lain dengan memperhatikan cara bicara, karena masyarakat tidak tau seperti apa dan karakternya bagaimana.

Setiap manusia punya prinsip dan pendapat yang berbeda-beda, sebisa mungkin masyarakat harus saling menghargai, mengerti satu sama lain, dan yang paling pentingnya adalah saling menerima pendapat satu sama lain jadi bisa menyimpulkan semuanya agar aman dan nyaman.

Masyarakat harus memastikan informasi atau berita yang didapatkan agar tidak menimbulkan pro dan kontra. Masyarakat juga harus menjaga cara berbicara agar tidak menggunakan kata-kata yang tidak pantas, kotor, kekerasan, atau berbau konten pornografi.

Webinar diakhiri oleh Nazmia Shahni (Entertainer dan Influencer dengan Followers 11,9 ribu). Nazmia menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, berupa sekarang ini sangat memudahkan sekali untuk penyandang disabilitas menggunakan aplikasi percakapan media sosial karena melewati literasi digital saat ini banyak aplikasi yang digunakan dengan mudah untuk membantu berkomunikasi penyandang disabilitas kepada orang lain. Era digital sekarang ini sangat banyak sekali informasi yang tersebar melalui sosial media, banyak juga berita yang belum tentu benar seperti Hoax.

Jika masyarakat mendapat sebuah berita atau informasi, masyarakat sebagai penerima jangan sampai hanya membaca melalui judulnya saja tetapi harus pastikan benar isinya seperti apa.

Agar masyarakat terhindari dari yang namanya kecanduan internet masyarakat harus konsisten dan dapat membagi waktu antara aktivitas di dunia nyata dengan aktivitas di dunia internet.

Masyarakat harus memastikan informasi atau berita yang didapatkan agar tidak menimbulkan pro dan kontra. Masyarakat juga harus menjaga cara berbicara agar tidak menggunakan kata-kata yang tidak pantas, kotor, kekerasan, atau berbau konten pornografi. (rel/md)

SIMALUNGUN, METRODAILY.id- Jika mendapat sebuah berita atau informasi, masyarakat sebagai penerima jangan sampai hanya membaca judulnya. Tetapi harus memastikan benar isi berita tersebut.

Hal itu menjadi salah satu kesimpulan dalam webinar Literasi Digital Kabupaten Simalungun, Selasa (3/8) pukul 09.00 WIB. Webinar digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sesuai arahan Presiden Republik Indonesia tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital.

Selain meningkatkan infrastruktur digital, juga melakukan program pengembangan sumber daya manusia talenta digital. Kemkominfo melalui Direktorat Pemberdayaan Informatika, Ditjen Aptika memiliki target hingga tahun 2024 untuk menjangkau 50 juta masyarakat agar mendapatkan literasi di bidang digital dengan secara spesifik untuk tahun 2021.

Target yang telah dicanangkan adalah 12,5 juta masyarakat dari berbagai kalangan untuk mendapatkan literasi di bidang digital.

Hal ini menjadi sangat penting untuk dilakukan mengingat penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi dan Internet saat ini sudah semakin masif dan pentingnya peningkatan kemampuan dan pemahaman masyarakat dalam penggunaan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan internet yang benar melalui implementasi program literasi digital di daerah.

Berkenaan dengan hal tersebut, Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 kabupaten/kota dari Aceh hingga Lampung.

Sebagai Keynote Speaker, Gubernur Sumatera Utara H Edi Rahmayadi mengatakan, tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing masing oleh putra putri daerah melalui digital platform.

Presiden RI, Joko Widodo  juga memberikan sambutan dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Chika Audhika (Co-Founder dan CMO of Bicara Project), pada sesi Kecakapan Digital memaparkan tema “Inclusive Chit-Chat: Tips Menggunakan Aplikasi Percakapan Sosial Media bagi Difabel”.

Dalam pemaparannya, Chika menjabarkan media sosial yang ramah disabilitas, meliputi voice note, siri, teks bahasa Indonesia, dan video call. Aplikasi khusus disabilitas, seperti signteraktif, DIFA shop, voice dream reader, be my eyes, dan brailliac bakal.

Memaksimalkan dunia digital untuk teman disabilitas, dengan cara mengadakan seminar, workshop, dan training. Satu-satunya keterbatasan dalam hidup ialah dengan berperilaku buruk. Sekarang ini sangat memudahkan sekali untuk penyandang disabilitas menggunakan aplikasi percakapan media sosial karena melewati literasi digital saat ini banyak aplikasi yang digunakan dengan mudah untuk membantu berkomunikasi penyandang disabilitas kepada orang lain.

Dilanjutkan dengan sesi Keamanan Digital oleh Ronny H Mustamu (Directur, Quadrant Consulting). Ronny mengangkat tema “Kenali dan Pahami Rekam Jejak Digital”.

Ronny menjelaskan untuk era digital sekarang ini sangat banyak sekali informasi yang tersebar melalui sosial media, banyak juga berita yang belum tentu benar seperti hoax. Jika masyarakat mendapat sebuah berita atau informasi, masyarakat sebagai penerima jangan sampai hanya membaca melalui judulnya saja tetapi harus pastikan benar isinya seperti apa.

Judul saat ini sering sekali menggunakan click bait agar masyarakat tertarik untuk membuka berita atau informasi tersebut. Jadi benar-benar harus dipastikan lagi, cek dan re-check lagi benar atau tidaknya agar tidak menimbulkan kontroversi. Karena beberapa orang Indonesia sering terpancing berita atau informasi yang belum tentu benar. Kuncinya adalah saring sebelum sharing atau membagikan informasi di media sosial.

Baca Juga :  BMKG: Penyebab Cuaca Dingin Awal 2022 Bukan Aphelion

Sesi Budaya Digital oleh Tiarma Marpaung SPd MPd (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas HKBP Nommensen Medan). Tiarma memberikan materi dengan tema “Internet Addiction: How Much is That?”

Tiarma menjelaskan kecanduan internet untuk era literasi digital ini sekarang sering terjadi karena internet sekarang sudah bergeser menjadi kebutuhan pokok manusia. Saat ini, banyak orang yang kecanduan internet seperti cybersex, game online, & kecanduan game online yang membuat membuat hidup menjadi boros karena membeli aplikasi-aplikasi yang ada di game.

Contohnya jika sebelumnya internet belum menjadi kebutuhan pokok, masyarakat bangun tidur langsung melakukan aktivitas lain seperti membereskan tempat tidur atau yang lainnya, jika di era sekarang internet yang sudah menjadi kebutuhan pokok bangun tidur langsung membuka media sosial seperti Instagram, tiktok, ataupun youtube.

Agar masyarakat terhindar dari kecanduan internet masyarakat harus konsisten dan dapat membagi waktu antara aktivitas di dunia nyata dengan aktivitas di dunia internet.

Narasumber terakhir pada sesi Etika Digital oleh Beslina Afriani Siagian SPd MSi  (Ketua Gugus Penjamin Mutu FKIP Universitas HKBP Nommensen). Beslina mengangkat tema “Bebas namun Terbatas: Berekspresi di Media Sosial”.

Beslina membahas, selain di dunia nyata masyarakat juga berinteraksi di dunia maya, masyarakat juga harus menjaga interaksi terhadap orang lain dengan memperhatikan cara bicara, karena masyarakat tidak tau seperti apa dan karakternya bagaimana.

Setiap manusia punya prinsip dan pendapat yang berbeda-beda, sebisa mungkin masyarakat harus saling menghargai, mengerti satu sama lain, dan yang paling pentingnya adalah saling menerima pendapat satu sama lain jadi bisa menyimpulkan semuanya agar aman dan nyaman.

Masyarakat harus memastikan informasi atau berita yang didapatkan agar tidak menimbulkan pro dan kontra. Masyarakat juga harus menjaga cara berbicara agar tidak menggunakan kata-kata yang tidak pantas, kotor, kekerasan, atau berbau konten pornografi.

Webinar diakhiri oleh Nazmia Shahni (Entertainer dan Influencer dengan Followers 11,9 ribu). Nazmia menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, berupa sekarang ini sangat memudahkan sekali untuk penyandang disabilitas menggunakan aplikasi percakapan media sosial karena melewati literasi digital saat ini banyak aplikasi yang digunakan dengan mudah untuk membantu berkomunikasi penyandang disabilitas kepada orang lain. Era digital sekarang ini sangat banyak sekali informasi yang tersebar melalui sosial media, banyak juga berita yang belum tentu benar seperti Hoax.

Jika masyarakat mendapat sebuah berita atau informasi, masyarakat sebagai penerima jangan sampai hanya membaca melalui judulnya saja tetapi harus pastikan benar isinya seperti apa.

Agar masyarakat terhindari dari yang namanya kecanduan internet masyarakat harus konsisten dan dapat membagi waktu antara aktivitas di dunia nyata dengan aktivitas di dunia internet.

Masyarakat harus memastikan informasi atau berita yang didapatkan agar tidak menimbulkan pro dan kontra. Masyarakat juga harus menjaga cara berbicara agar tidak menggunakan kata-kata yang tidak pantas, kotor, kekerasan, atau berbau konten pornografi. (rel/md)

iklan-usi
iklanpemko
iklan-usi

Most Read

Artikel Terbaru

/