alexametrics
31.7 C
Medan
Monday, August 15, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Tonaziduhu Zebua Kepala SMAN 1 Gunungsitoli Pembicara di Webinar Literasi Digital

iklan-usi
Webinar literasi digital di Kota Gunung Sitoli.

GUNUNGSITOLI, METRODAILY.id – Kepala SMA Negeri 1 Kota Gunungsitoli Tonaziduhu Zebua SPd MM menjadi salah satu pembicara di webinar Literasi Digital Kota Gunungsitoli, Senin (26/7) pukul 09.00 WIB. Webinar diselenggarakan oleh Kementerian Informasi dan Informatika (Kominfo) dalam  rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang paham Literasi Digital.

Tujuannya, mengedukasi dan mewujudkan masyarakat agar paham Literasi Digital lebih dalam dan menyikapi secara bijaksana dalam menggunakan digital platform di 77 kota/kabupaten area Sumatera II, mulai Aceh sampai Lampung dengan 600 peserta di setiap kegiatan yang ditujukan kepada PNS, TNI/Polri, orang tua, pelajar, penggiat usaha, pendakwah, dan sebagainya.

Empat kerangka digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, yaitu Digital Skill, Digital Safety, Digital Ethic, dan Digital Culture. Masing-masing kerangka mempunyai beragam tema.

Sebagai Keynote Speaker, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) H Edy Rahmayadi. Edy mengatakan tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing-masing oleh putra putri daerah melalui digital platform. Presiden RI, Joko Widodo juga memberikan sambutan dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Melanie Soebono, aktivis dan seniman, pada sesi Kecakapan Digital memaparkan tema “Pentingnya Memiliki Digital Skill di Masa Pandemi”.

Dalam pemaparannya, Melanie memberikan tips apa saja yang dapat dilakukan saat ini lewat digital seperti, seminar dan edukasi dari rumah, toko menjadi online, gerakan sosial atau berdonasi, liburan 3D atau virtual tour, dan mengetahui kadar oksigen.

Cakap digital di era pandemi memudahkan masyarakat karena dapat dilakukan dimana saja dan kapanpun, dapat menghasilkan uang dari hobi digital, dan berguna tanpa membahayakan kesehatan. Dengan memanfaatkan internet secara sehat dan positif dapat membuat hidup lebih sehat dan menjalani aktivitas dengan senang.

Dilanjutkan dengan sesi Keamanan Digital oleh Edi Purwanto SPsi, pegiat Literasi Komunikasi Digital. Edi mengangkat tema “Memahami Aturan Perlindungan Data Pribadi”.

Edi menjelaskan pelanggaran privasi di dunia digital, meliputi menandai unggah di facebook tanpa izin, penyedia layanan informasi online dengan mitranya, menyebarkan foto pribadi tanpa izin, memberikan nomor kontak tanpa izin pemilik, serta pihak pengembang aplikasi mengakses semua data pribadi.

Data pribadi merupakan setiap data tentang seseorang baik yang teridentifikasi atau dapat diidentifikasi secara tersendiri atau dikombinasi dengan informasi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung melalui sistem elektronik dan nonelektronik.

Cracking dimaknai sebagai peretasan dengan cara merusak sebuah sistem elektronik. Selain merusak, cracking merupakan pembajakan data pribadi maupun akun pribadi seseorang, sehingga mengakibatkan hilang atau berubah dan digunakan tanpa persetujuan pemilik. Oleh karena itu, penggunaan data pribadi oleh cracker dengan tujuan sebagaimana dimaksud di atas dapat dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran Pasal 26 ayat (1) UU 19/2016.

Tips dan trik melindungi data pribadi, antara lain gunakan password yang sulit dan ganti secara periodik, gunakan password yang berbeda untuk setiap akun, jangan membagikan informasi yang sifatnya pribadi, teliti URL yang dikunjungi sebelum belanja online, jika akan instal aplikasi baru, pastikan aplikasi tidak bisa mengakses data yang tidak dibutuhkan.

Hargai privasi orang, jangan membagikan data pribadi tanpa seizin pemilik, jangan pernah membagikan data penting dan transaksi keuangan di wifi publik, berhati-hati jika mendapatkan link melalui email atau pesan singkat, dan lakukan seting privasi pada setiap akun medsos yang digunakan.

Sesi Budaya Digital oleh Martinus Gea MM, Dosen STIE Pembnas Nias. Martinus memberikan materi dengan tema “Memahami Batasan dalam Kebebasan Berekspresi di Dunia Digital”.

Baca Juga :  Pendidik Harus Tabayun dalam Mencerna Berita

Martinus menjelaskan kebebasan berekspresi dan berpendapat baik secara langsung maupun melalui media sosial dan internet merupakan hak konstitusional setiap individu. Tingginya pengguna media sosial di Indonesia akan memudahkan penyebaran hoax, konten negatif, pesan provokasi dan ujaran kebencian yang bisa menimbulkan konflik.

Dengan tingkat literasi digital yang seperti ini, membuat arus informasi di media sosial  cenderung konten negatif dan hoax. Kebebasan berekspresi tidak dimaknai sebagai tindakan atau perbuatan yang sesuka hati.

Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang ITE menjelaskan pada Pasal 28 ayat (1) bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam TE yang dapat diancam pidana berdasarkan pasal 45A ayat (1) UU No 19 Tahun 2016, yaitu dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.

Cara menyampaikan pendapat dan ekspresi di era digital, antara lain saring terlebih dahulu sebelum mengunggah, hindari opini provokatif, ketahui isu atau informasi secara detail, memikirkan kembali pendapat yang disampaikan, serta sopan dan santun.

Narasumber terakhir pada sesi Etika Digital oleh Tonaziduhu Zebua SPd MM, Kepala SMAN 1 Gunungsitoli. Tonaziduhu mengangkat tema “Bijak sebelum Mengunggah di Media Sosial”.

Tonaziduhu menjelaskan media sosial merupakan sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Orang yang bijak dalam bersosial media adalah orang yang selalu menggunakan akal budinya dalam menggunakan media sosial.

Bijak bersosial media dapat dikaitkan dengan etika berinternet. Etika internet merupakan seperangkat prinsip moral yang mengatur individu atau kelompok tentang perilaku yang dapat diterima saat menggunakan internet dan media sosial.

Bijak dalam mengunggah di media sosial dengan memperhatikan hal berikut, antara lain hindari mengunggah sesuatu saat emosi, tidak menelan mentah-mentah seluruh informasi yang diperoleh, bertanggung jawab atas apa sudah diunggah di media sosial, unggah sesuatu sesuai data dan fakta, serta tidak menyerang berdasarkan fisik atau perasaan.

Webinar diakhir oleh Sri Ayu Wahyuni, influencer dengan followers 10 ribu. Sri menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, berupa cakap digital di era pandemi memudahkan masyarakat karena dapat dilakukan di mana saja dan kapanpun, dapat menghasilkan uang dari hobi digital, dan berguna tanpa membahayakan kesehatan.

Tips dan trik melindungi data pribadi, antara lain gunakan password yang sulit dan ganti secara periodik, jangan membagikan informasi yang sifatnya pribadi, teliti URL yang dikunjungi sebelum belanja online, jika akan instal aplikasi baru, pastikan aplikasi tidak bisa mengakses data yang tidak dibutuhkan, dan hargai privasi orang.

Cara menyampaikan pendapat dan ekspresi di era digital, antara lain saring terlebih dahulu sebelum mengunggah, hindari opini provokatif, ketahui isu atau informasi secara detail, memikirkan kembali pendapat yang disampaikan, juga sopan dan santun.

Serta, bijak dalam mengunggah di media sosial dengan memperhatikan hal berikut, antara lain hindari mengunggah sesuatu saat emosi, tidak menelan mentah-mentah seluruh informasi yang diperoleh, bertanggung jawab atas apa sudah diunggah di media sosial, unggah sesuatu sesuai data dan fakta, juga tidak menyerang berdasarkan fisik atau perasaan. (rel/md)

Webinar literasi digital di Kota Gunung Sitoli.

GUNUNGSITOLI, METRODAILY.id – Kepala SMA Negeri 1 Kota Gunungsitoli Tonaziduhu Zebua SPd MM menjadi salah satu pembicara di webinar Literasi Digital Kota Gunungsitoli, Senin (26/7) pukul 09.00 WIB. Webinar diselenggarakan oleh Kementerian Informasi dan Informatika (Kominfo) dalam  rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang paham Literasi Digital.

Tujuannya, mengedukasi dan mewujudkan masyarakat agar paham Literasi Digital lebih dalam dan menyikapi secara bijaksana dalam menggunakan digital platform di 77 kota/kabupaten area Sumatera II, mulai Aceh sampai Lampung dengan 600 peserta di setiap kegiatan yang ditujukan kepada PNS, TNI/Polri, orang tua, pelajar, penggiat usaha, pendakwah, dan sebagainya.

Empat kerangka digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, yaitu Digital Skill, Digital Safety, Digital Ethic, dan Digital Culture. Masing-masing kerangka mempunyai beragam tema.

Sebagai Keynote Speaker, Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) H Edy Rahmayadi. Edy mengatakan tujuan Literasi Digital agar masyarakat cakap dalam menggunakan teknologi digital, bermanfaat dalam membangun daerahnya masing-masing oleh putra putri daerah melalui digital platform. Presiden RI, Joko Widodo juga memberikan sambutan dalam mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Melanie Soebono, aktivis dan seniman, pada sesi Kecakapan Digital memaparkan tema “Pentingnya Memiliki Digital Skill di Masa Pandemi”.

Dalam pemaparannya, Melanie memberikan tips apa saja yang dapat dilakukan saat ini lewat digital seperti, seminar dan edukasi dari rumah, toko menjadi online, gerakan sosial atau berdonasi, liburan 3D atau virtual tour, dan mengetahui kadar oksigen.

Cakap digital di era pandemi memudahkan masyarakat karena dapat dilakukan dimana saja dan kapanpun, dapat menghasilkan uang dari hobi digital, dan berguna tanpa membahayakan kesehatan. Dengan memanfaatkan internet secara sehat dan positif dapat membuat hidup lebih sehat dan menjalani aktivitas dengan senang.

Dilanjutkan dengan sesi Keamanan Digital oleh Edi Purwanto SPsi, pegiat Literasi Komunikasi Digital. Edi mengangkat tema “Memahami Aturan Perlindungan Data Pribadi”.

Edi menjelaskan pelanggaran privasi di dunia digital, meliputi menandai unggah di facebook tanpa izin, penyedia layanan informasi online dengan mitranya, menyebarkan foto pribadi tanpa izin, memberikan nomor kontak tanpa izin pemilik, serta pihak pengembang aplikasi mengakses semua data pribadi.

Data pribadi merupakan setiap data tentang seseorang baik yang teridentifikasi atau dapat diidentifikasi secara tersendiri atau dikombinasi dengan informasi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung melalui sistem elektronik dan nonelektronik.

Cracking dimaknai sebagai peretasan dengan cara merusak sebuah sistem elektronik. Selain merusak, cracking merupakan pembajakan data pribadi maupun akun pribadi seseorang, sehingga mengakibatkan hilang atau berubah dan digunakan tanpa persetujuan pemilik. Oleh karena itu, penggunaan data pribadi oleh cracker dengan tujuan sebagaimana dimaksud di atas dapat dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran Pasal 26 ayat (1) UU 19/2016.

Tips dan trik melindungi data pribadi, antara lain gunakan password yang sulit dan ganti secara periodik, gunakan password yang berbeda untuk setiap akun, jangan membagikan informasi yang sifatnya pribadi, teliti URL yang dikunjungi sebelum belanja online, jika akan instal aplikasi baru, pastikan aplikasi tidak bisa mengakses data yang tidak dibutuhkan.

Hargai privasi orang, jangan membagikan data pribadi tanpa seizin pemilik, jangan pernah membagikan data penting dan transaksi keuangan di wifi publik, berhati-hati jika mendapatkan link melalui email atau pesan singkat, dan lakukan seting privasi pada setiap akun medsos yang digunakan.

Sesi Budaya Digital oleh Martinus Gea MM, Dosen STIE Pembnas Nias. Martinus memberikan materi dengan tema “Memahami Batasan dalam Kebebasan Berekspresi di Dunia Digital”.

Baca Juga :  Tengku Muhammad Husyairi Bicara Budaya Digital di Webinar Literasi Digital Asahan

Martinus menjelaskan kebebasan berekspresi dan berpendapat baik secara langsung maupun melalui media sosial dan internet merupakan hak konstitusional setiap individu. Tingginya pengguna media sosial di Indonesia akan memudahkan penyebaran hoax, konten negatif, pesan provokasi dan ujaran kebencian yang bisa menimbulkan konflik.

Dengan tingkat literasi digital yang seperti ini, membuat arus informasi di media sosial  cenderung konten negatif dan hoax. Kebebasan berekspresi tidak dimaknai sebagai tindakan atau perbuatan yang sesuka hati.

Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang ITE menjelaskan pada Pasal 28 ayat (1) bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam TE yang dapat diancam pidana berdasarkan pasal 45A ayat (1) UU No 19 Tahun 2016, yaitu dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.

Cara menyampaikan pendapat dan ekspresi di era digital, antara lain saring terlebih dahulu sebelum mengunggah, hindari opini provokatif, ketahui isu atau informasi secara detail, memikirkan kembali pendapat yang disampaikan, serta sopan dan santun.

Narasumber terakhir pada sesi Etika Digital oleh Tonaziduhu Zebua SPd MM, Kepala SMAN 1 Gunungsitoli. Tonaziduhu mengangkat tema “Bijak sebelum Mengunggah di Media Sosial”.

Tonaziduhu menjelaskan media sosial merupakan sebuah media daring yang digunakan satu sama lain yang para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, berbagi, dan menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Orang yang bijak dalam bersosial media adalah orang yang selalu menggunakan akal budinya dalam menggunakan media sosial.

Bijak bersosial media dapat dikaitkan dengan etika berinternet. Etika internet merupakan seperangkat prinsip moral yang mengatur individu atau kelompok tentang perilaku yang dapat diterima saat menggunakan internet dan media sosial.

Bijak dalam mengunggah di media sosial dengan memperhatikan hal berikut, antara lain hindari mengunggah sesuatu saat emosi, tidak menelan mentah-mentah seluruh informasi yang diperoleh, bertanggung jawab atas apa sudah diunggah di media sosial, unggah sesuatu sesuai data dan fakta, serta tidak menyerang berdasarkan fisik atau perasaan.

Webinar diakhir oleh Sri Ayu Wahyuni, influencer dengan followers 10 ribu. Sri menyimpulkan hasil webinar dari tema yang sudah diangkat oleh para narasumber, berupa cakap digital di era pandemi memudahkan masyarakat karena dapat dilakukan di mana saja dan kapanpun, dapat menghasilkan uang dari hobi digital, dan berguna tanpa membahayakan kesehatan.

Tips dan trik melindungi data pribadi, antara lain gunakan password yang sulit dan ganti secara periodik, jangan membagikan informasi yang sifatnya pribadi, teliti URL yang dikunjungi sebelum belanja online, jika akan instal aplikasi baru, pastikan aplikasi tidak bisa mengakses data yang tidak dibutuhkan, dan hargai privasi orang.

Cara menyampaikan pendapat dan ekspresi di era digital, antara lain saring terlebih dahulu sebelum mengunggah, hindari opini provokatif, ketahui isu atau informasi secara detail, memikirkan kembali pendapat yang disampaikan, juga sopan dan santun.

Serta, bijak dalam mengunggah di media sosial dengan memperhatikan hal berikut, antara lain hindari mengunggah sesuatu saat emosi, tidak menelan mentah-mentah seluruh informasi yang diperoleh, bertanggung jawab atas apa sudah diunggah di media sosial, unggah sesuatu sesuai data dan fakta, juga tidak menyerang berdasarkan fisik atau perasaan. (rel/md)

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/