METRODAILY - Kemenangan Timnas Belanda atas Timnas Norwegia dengan skor 2-1 dalam laga uji coba di Johan Cruyff Arena, Sabtu (28/3/2026), tidak sepenuhnya memuaskan pelatih Ronald Koeman.
Dalam laga tersebut, Belanda sempat tertinggal lebih dulu lewat gol Andreas Schjelderup. De Oranje kemudian bangkit dan membalikkan keadaan melalui gol Virgil van Dijk dan Tijjani Reijnders.
Namun, sorotan utama Koeman tertuju pada fase bertahan timnya, khususnya kontribusi Gravenberch yang dimainkan sebagai gelandang bertahan sejak menit awal. Pemain Liverpool itu dinilai gagal menjalankan tugas defensif secara optimal.
Baca Juga: Bukan Lewandowski! Joan Garcia Jadi Kunci Barcelona Puncaki LaLiga, Ter Stegen Tergeser
Koeman secara spesifik menyoroti momen gol Norwegia, di mana Gravenberch dianggap tidak cepat turun membantu Denzel Dumfries di sisi sayap.
“Dia tidak melakukan apa pun di situ. Seharusnya lebih cepat membantu Dumfries. Posisioning-nya terlalu maju,” tegas Koeman.
Secara statistik, performa Gravenberch sebenarnya tidak buruk. Ia mencatatkan dua tembakan, dua dribel sukses, satu intersep, serta memenangi lima duel selama 82 menit sebelum digantikan Jerdy Schouten. Namun bagi Koeman, angka tersebut tidak cukup menutupi kelemahan mendasar dalam disiplin taktik.
Menurutnya, kegagalan membantu bek sayap dalam situasi krusial di area penalti menjadi kesalahan fatal yang tidak bisa ditoleransi di level internasional.
Baca Juga: Nyaris Hengkang, Bernardo Silva Kini Bersyukur Bertahan di Man City
“Bek sayap membutuhkan bantuan dari lini tengah. Dalam momen itu, kami gagal melakukannya,” lanjut Koeman.
Kritik ini menegaskan standar tinggi yang diterapkan Koeman, di mana peran gelandang tidak hanya diukur dari kontribusi ofensif atau statistik individu, tetapi juga kesadaran posisi dan respons defensif.
Meski meraih kemenangan, evaluasi keras ini menunjukkan bahwa De Oranje masih memiliki pekerjaan rumah besar dalam menjaga keseimbangan permainan—terutama menghadapi lawan dengan transisi cepat. (dtc)