alexametrics
27 C
Medan
Thursday, August 18, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Man City dan Liverpool Layaknya Juara Bersama

iklan-usi

METRODAILY – Liverpool dan Manchester City bersaing ketat memperebutkan gelar Liga Inggris musim ini. Melihat level permainan kedua tim, sungguh disayangkan salah satunya harus berakhir menjadi runner-up.

Bersama Pep Guardiola, Man City menjuarai Liga Inggris tiga kali dalam empat musim terakhir, dan kini berpeluang meraih trofi keempat dalam lima tahun usai memimpin klasemen dengan 74 poin dari 31 laga.

Sedangkan Liverpool, yang ada di urutan kedua dengan selisih satu poin, adalah satu-satunya tim yang mampu menandingi dominasi Man City di Premier League dengan menjadi juara di tahun 2020. Setahun sebelumnya, mereka juga memenangi Liga Champions.

onsistensi Man City dan Liverpool sulit ditandingi oleh Chelsea, Tottenham, atau Manchester United. Seiring waktu, keduanya bagaikan kuda balap yang berlari paling depan, sementara yang lain semakin tertinggal jauh di belakang.

Di akhir musim nanti, keduanya pun masih bisa mencetak rekor. Man City masih berpeluang meraih treble musim ini, sebab masih bertahan di semifinal Piala FA (melawan Liverpool) dan perempatfinal Liga Champions.

Sedangkan Liverpool di bawah Juergen Klopp masih berpeluang menjadi tim Inggris pertama dalam sejarah yang meraih quadruple. Setelah memenangi Piala Liga Inggris pada akhir Februari lalu, mereka juga masih berada di tiga kompetisi yang sama dengan Man City.

Saat Liverpool dan Man City bertemu, adu taktik yang menarik pun disajikan kepada penonton. Mereka yang bukan penggemar kedua tim pun merasa terhibur melihat tingginya tempo permainan kedua tim, namun dengan tensi rivalitas yang lebih bersahabat dari El Clasico atau Derby della Madonnina.

Tak ada yang bermain bertahan di belakang. Masing-masing tim saling meladeni lawannya. Skor identik 2-2 dalam dua pertemuan di Liga Inggris menunjukkan betapa satu sama lain saling memanfaatkan kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Baca Juga :  Man City 3 Vs 0 Brighton: Kembali ke Puncak

Legenda Timnas Inggris, Alan Shearer dalam kolomnya di BBC berpendapat, setelah tak bisa mengalahkan satu sama lain, maka hasil-hasil di laga lain akan menjadi penentu. Dengan tujuh laga tersisa, Man City kini ada sedikit di depan.

Tujuh laga tersisa untuk Manchester City dan Liverpool di Liga Inggris musim ini. Foto: Dok. BBC
Tak cuma unggul satu poin, lawan-lawan yang tersisa untuk Man City pun relatif lebih gampang dari Liverpool yang masih harus berjumpa Manchester United dan Everton. Namun sekali terpeleset saja, The Reds siap mengambil alih takhta.

Pada akhirnya, gelar juara Liga Inggris diyakini akan ditentukan oleh momen-momen kecil di setiap laga. Shearer bahkan tak tega melihat salah satunya harus puas menjadi runner-up di akhir musim, mengingat betapa digdayanya kedua tim.

“Kita sangat beruntung bisa memiliki dua tim kelas dunia, saling berhadapan satu sama lain, dengan begitu banyak yang dipertaruhkan,” ujar Shearer.

“Meski Man City punya sedikit keuntungan, saya pikir akan ada plot twist di akhir musim untuk kedua klub.”

“Siapapun yang akan menang di Wembley (semifinal Piala FA) dan melaju ke semifinal Liga Champions akan menghadapi jadwal padat ke depannya, tapi mereka punya skuad yang mampu mengatasi masalah itu dan (sebagai tim besar) mereka sudah memperkirakan hal ini sejak awal musim.”

“Saya masih tak tahu siapa yang akan memenangi Premier League. Tapi seperti tahun 2019, sangat disayangkan salah satu dari mereka harus finis kedua, dan tak ada satu pun di antara mereka yang pantas finis kedua,” tutup Shearer. (net)

METRODAILY – Liverpool dan Manchester City bersaing ketat memperebutkan gelar Liga Inggris musim ini. Melihat level permainan kedua tim, sungguh disayangkan salah satunya harus berakhir menjadi runner-up.

Bersama Pep Guardiola, Man City menjuarai Liga Inggris tiga kali dalam empat musim terakhir, dan kini berpeluang meraih trofi keempat dalam lima tahun usai memimpin klasemen dengan 74 poin dari 31 laga.

Sedangkan Liverpool, yang ada di urutan kedua dengan selisih satu poin, adalah satu-satunya tim yang mampu menandingi dominasi Man City di Premier League dengan menjadi juara di tahun 2020. Setahun sebelumnya, mereka juga memenangi Liga Champions.

onsistensi Man City dan Liverpool sulit ditandingi oleh Chelsea, Tottenham, atau Manchester United. Seiring waktu, keduanya bagaikan kuda balap yang berlari paling depan, sementara yang lain semakin tertinggal jauh di belakang.

Di akhir musim nanti, keduanya pun masih bisa mencetak rekor. Man City masih berpeluang meraih treble musim ini, sebab masih bertahan di semifinal Piala FA (melawan Liverpool) dan perempatfinal Liga Champions.

Sedangkan Liverpool di bawah Juergen Klopp masih berpeluang menjadi tim Inggris pertama dalam sejarah yang meraih quadruple. Setelah memenangi Piala Liga Inggris pada akhir Februari lalu, mereka juga masih berada di tiga kompetisi yang sama dengan Man City.

Saat Liverpool dan Man City bertemu, adu taktik yang menarik pun disajikan kepada penonton. Mereka yang bukan penggemar kedua tim pun merasa terhibur melihat tingginya tempo permainan kedua tim, namun dengan tensi rivalitas yang lebih bersahabat dari El Clasico atau Derby della Madonnina.

Tak ada yang bermain bertahan di belakang. Masing-masing tim saling meladeni lawannya. Skor identik 2-2 dalam dua pertemuan di Liga Inggris menunjukkan betapa satu sama lain saling memanfaatkan kekuatan dan kelemahan masing-masing.

Baca Juga :  SEA Games 2021: Tiga Pesilat Indonesia ke Final

Legenda Timnas Inggris, Alan Shearer dalam kolomnya di BBC berpendapat, setelah tak bisa mengalahkan satu sama lain, maka hasil-hasil di laga lain akan menjadi penentu. Dengan tujuh laga tersisa, Man City kini ada sedikit di depan.

Tujuh laga tersisa untuk Manchester City dan Liverpool di Liga Inggris musim ini. Foto: Dok. BBC
Tak cuma unggul satu poin, lawan-lawan yang tersisa untuk Man City pun relatif lebih gampang dari Liverpool yang masih harus berjumpa Manchester United dan Everton. Namun sekali terpeleset saja, The Reds siap mengambil alih takhta.

Pada akhirnya, gelar juara Liga Inggris diyakini akan ditentukan oleh momen-momen kecil di setiap laga. Shearer bahkan tak tega melihat salah satunya harus puas menjadi runner-up di akhir musim, mengingat betapa digdayanya kedua tim.

“Kita sangat beruntung bisa memiliki dua tim kelas dunia, saling berhadapan satu sama lain, dengan begitu banyak yang dipertaruhkan,” ujar Shearer.

“Meski Man City punya sedikit keuntungan, saya pikir akan ada plot twist di akhir musim untuk kedua klub.”

“Siapapun yang akan menang di Wembley (semifinal Piala FA) dan melaju ke semifinal Liga Champions akan menghadapi jadwal padat ke depannya, tapi mereka punya skuad yang mampu mengatasi masalah itu dan (sebagai tim besar) mereka sudah memperkirakan hal ini sejak awal musim.”

“Saya masih tak tahu siapa yang akan memenangi Premier League. Tapi seperti tahun 2019, sangat disayangkan salah satu dari mereka harus finis kedua, dan tak ada satu pun di antara mereka yang pantas finis kedua,” tutup Shearer. (net)

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/