Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Gerhana Bulan Total Terjadi Malam Ini, Cek Jadwal, Durasi, dan Wilayah Terbaik Mengamati

Editor Satu • Selasa, 3 Maret 2026 | 09:10 WIB

Worm Moon terlihat selama gerhana bulan total pada 13 Maret 2025 di atas Vancouver, Kanada.
Worm Moon terlihat selama gerhana bulan total pada 13 Maret 2025 di atas Vancouver, Kanada.

JAKARTA, METRODAILY – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) akan terjadi pada Selasa (3/3/2026) malam dan dapat diamati dari berbagai wilayah Indonesia, selama kondisi cuaca mendukung.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan gerhana bulan terjadi akibat dinamika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan saat fase purnama.

Secara khusus, Gerhana Bulan Total terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, sehingga Bulan sepenuhnya masuk ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.

“Fenomena ini menyajikan pemandangan yang indah. Jika langit cerah, Bulan akan terlihat berwarna merah saat puncak gerhana terjadi,” ujar Nelly dalam keterangan resmi BMKG, Senin (2/3).

Jadwal dan Durasi Gerhana

Plt Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Fachri Radjab, menyampaikan Gerhana Bulan Total dimulai pada pukul 18.03 WIB.

Puncak gerhana terjadi pada:

Secara keseluruhan, durasi gerhana dari awal hingga akhir mencapai 5 jam 41 menit 51 detik.

Rinciannya:

Fenomena berakhir sepenuhnya pada pukul 21.24 WIB atau sekitar tengah malam di wilayah WIT, saat Bulan keluar dari bayangan penumbra Bumi.

Mengapa Bulan Berwarna Merah?

Warna merah saat puncak gerhana terjadi akibat hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi. Cahaya Matahari dengan panjang gelombang pendek (biru) tersebar di atmosfer, sedangkan cahaya dengan panjang gelombang panjang (merah) tetap diteruskan hingga mencapai permukaan Bulan.

Inilah yang membuat Bulan tampak kemerahan, sering disebut sebagai “Blood Moon”.

Wilayah Terbaik untuk Pengamatan

BMKG menyebut wilayah Indonesia bagian Timur memiliki peluang pengamatan lebih baik karena dapat menyaksikan fase awal gerhana sejak Bulan terbit.

Sementara itu, wilayah Indonesia bagian Barat baru dapat melihat Bulan saat fase gerhana sudah berlangsung, bahkan mendekati atau memasuki fase totalitas.

BMKG juga meminta masyarakat memantau informasi prakiraan cuaca terkini melalui kanal resmi sebelum melakukan pengamatan.

Satu-Satunya yang Terlihat di Indonesia Tahun Ini

Sepanjang 2026 diperkirakan terjadi empat gerhana, yakni dua Gerhana Matahari dan dua Gerhana Bulan. Namun, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia.

Secara astronomis, peristiwa ini merupakan anggota ke-27 dari 71 anggota dalam seri Saros 133. Gerhana dengan seri yang sama sebelumnya terjadi pada 21 Februari 2008 dan akan kembali terjadi pada 13 Maret 2044.

BMKG menegaskan komitmennya untuk terus menyediakan informasi tanda waktu dan fenomena astronomi secara akurat kepada masyarakat. (Net)

Editor : Editor Satu
#gerhana bulan total