Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Awal Puasa 2026 Berpotensi Beda, BRIN Ungkap Penyebabnya

Editor Satu • Selasa, 10 Februari 2026 | 10:30 WIB
Ilustrasi pengamatan hilal sebagai penentuan awal Ramadan yang berpotensi berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah pada 2026.
Ilustrasi pengamatan hilal sebagai penentuan awal Ramadan yang berpotensi berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah pada 2026.

JAKARTA, METRODAILY — Awal Ramadhan 1447 Hijriah berpotensi tidak seragam.

Peneliti Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyebut perbedaan kemungkinan terjadi akibat penggunaan kriteria penetapan hilal yang berbeda, yakni antara konsep hilal global dan hilal lokal.

Muhammadiyah sebelumnya telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagaimana tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia belum menetapkan awal puasa. Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat penentuan 1 Ramadhan 1447 H di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kemenag, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Sidang isbat akan memaparkan data hisab astronomi dan laporan hasil rukyatul hilal dari 37 titik pengamatan di seluruh Indonesia.

Keputusan awal Ramadhan akan ditetapkan setelah pembahasan bersama para pemangku kepentingan.

Thomas menjelaskan, perbedaan penetapan Ramadhan tahun ini bukan disebabkan perbedaan visibilitas hilal semata, melainkan perbedaan pendekatan penentuan awal bulan.

“Akan ada potensi perbedaan penentuan awal Ramadhan. Sumber perbedaannya adalah penggunaan konsep hilal lokal dan hilal global,” ujar Thomas, Minggu (8/2).

Ia memprediksi pemerintah bersama sebagian besar organisasi masyarakat Islam di Indonesia akan menetapkan 1 Ramadhan pada Kamis, 19 Februari 2026, karena posisi hilal di wilayah Asia Tenggara saat maghrib 17 Februari belum memenuhi kriteria MABIMS, yakni tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

“Pada saat maghrib 17 Februari, posisi bulan masih di bawah ufuk sehingga tidak mungkin dirukyat. Maka awal Ramadhan berpotensi jatuh 19 Februari 2026,” jelasnya.

Sebaliknya, menurut kriteria Turkiye yang menggunakan konsep hilal global, posisi bulan telah memenuhi syarat visibilitas di wilayah lain dunia. Kriteria ini juga digunakan Muhammadiyah.

“Asalkan hilal memenuhi kriteria di mana pun di dunia dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka keesokan harinya sudah masuk awal bulan,” kata Thomas.

Berdasarkan perhitungan tersebut, hilal telah memenuhi syarat di wilayah Alaska, dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, sehingga Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan pada 18 Februari 2026.

Thomas juga menyebut Arab Saudi berpotensi memulai puasa pada Rabu, 18 Februari 2026, meski negara tersebut menggunakan rukyat yang kerap dipengaruhi Kalender Ummul Qura.

“Jika Arab Saudi memulai puasa 18 Februari, itu lebih bersifat kebetulan,” ujarnya.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Falak UIN Walisongo Semarang Prof. Ahmad Izzuddin menyatakan, berdasarkan hisab dan kriteria MABIMS, posisi hilal saat matahari terbenam masih di bawah ufuk.

Karena itu, awal Ramadhan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Pemerintah sendiri melalui kalender resmi Kemenag 2026 juga memproyeksikan awal Ramadhan pada 19 Februari 2026, namun tetap menunggu hasil sidang isbat sebagai penetapan resmi. (int)

Editor : Editor Satu
#Awal Ramadan 2026 #BRIN