JAKARTA, METRODAILY — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang berpotensi melanda sebagian besar wilayah Indonesia hingga 19 Januari 2026.
Sejumlah fenomena atmosfer diperkirakan memicu peningkatan curah hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat, disertai angin kencang.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengungkapkan, dalam beberapa hari terakhir curah hujan ekstrem telah tercatat di sejumlah daerah.
“Hujan dengan intensitas sangat lebat tercatat di Makassar mencapai 126,7 mm per hari, Jawa Barat 129,0 mm, Nusa Tenggara Timur 126,0 mm, dan Bali 120,0 mm,” ujar Andri dalam keterangannya, Selasa (13/1).
BMKG menjelaskan, kondisi cuaca ekstrem tersebut dipicu oleh dinamika atmosfer regional yang saling memperkuat.
Salah satu faktor dominan adalah penguatan Monsun Asia, yang membawa massa udara lembap dan angin kencang dari Laut Cina Selatan menuju wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, melalui Selat Karimata.
Pola angin ini membentuk daerah pertemuan angin (konvergensi) yang mendukung pertumbuhan awan hujan secara intensif.
Selain itu, tekanan rendah di wilayah timur Australia turut memperlambat aliran udara di selatan Indonesia, sehingga memicu proses naiknya udara secara berkelanjutan.
“Kondisi ini mendukung pembentukan awan hujan yang lebih intens dan berlangsung lama, terutama di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara,” jelas Andri.
Memasuki pertengahan Januari 2026, BMKG juga memantau indikasi La Niña lemah serta aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) yang aktif melintasi wilayah Indonesia bagian tengah hingga timur.
Kedua fenomena ini turut meningkatkan potensi hujan lebat di sejumlah daerah.
BMKG menetapkan status Siaga Hujan Lebat untuk beberapa wilayah dengan rincian:
Periode 13–15 Januari: Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Papua Pegunungan.
Periode 16–19 Januari: Sumatera Barat, Jawa Timur, NTT, dan Papua Pegunungan.
Selain hujan lebat, hampir seluruh provinsi di Indonesia dari Sumatera hingga Papua juga berpotensi mengalami angin kencang.
BMKG turut mewaspadai keberadaan Bibit Siklon 91W di Samudra Pasifik utara Papua, yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di sepanjang wilayah konvergensi.
Seiring meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Masyarakat diharapkan lebih berhati-hati dalam merencanakan aktivitas, terutama perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang seperti ibadah, wisata, dan aktivitas massal,” tegas Andri.
BMKG juga menyediakan layanan Digital Weather for Traffic (DWT) melalui aplikasi InfoBMKG maupun laman signature.bmkg.go.id/dwt, guna membantu masyarakat memantau kondisi cuaca secara real time di sepanjang rute perjalanan. (jp)
Editor : Editor Satu