alexametrics
25 C
Medan
Sunday, August 14, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Ditjen Dukcapil: Prosesi Nikah Mesti di Salah Satu Agama

JAKARTA, METRODAILY – Pernikahan beda agama yang viral di Semarang, Jawa Tengah tengah mengundang perdebatan di kalangan publik. Mereka yang berpegang pada prinsip pernikahan satu agama banyak yang menyayangkan kejadian tersebut, sementara pihak-pihak yang lebih progresif mengatakan hal tersebut sama sekali tidak perlu dipergunjingkan karena pernikahan adalah ranah yang sangat personal, terlepas apapun agama yang dianut kedua mempelai.

Mengomentari hal tersebut, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memberikan penjelasan tentang aturan nikah beda agama di Indonesia.
Sebelumnya, sudah dipastikan pernikahan kedua mempelai itu tidak akan tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA), karena KUA hanya bisa mencatat pernikahan dua insan yang beragama Islam.

“Harus menikah dalam kondisi agama yang sama,” kata Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh saat dihubungi, Kamis (10/3/2022).

Zudan menjelaskan, ‘kondisi agama yang sama’ sebagaimana dimaksud olehnya adalah keadaan di mana kedua pasangan memutuskan untuk menikah dengan prosesi pernikahan salah satu agama yang dianut.

“Ada fatwa Mahkamah Agung menikah itu harus dengan agama yang sama. Bila beda agama, salah satu harus mengalah (dalam prosesi pernikahannya, atau memutuskan untuk memeluk agama pasangannya, Red). Baru bisa dicatatkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Gaji ke-13 PNS & THR Tanpa Tunjangan Kinerja

“Untuk penganut agama non-Muslim dan penghayat kepercayaan, ada pemberkatannya oleh pemuka agama atau kepercayaannya. Ada dokumennya, dan ada surat pemberkatannya. Baru bisa dicatatkan,” ujar Zudan.

Sebagai contoh, ada dua pasangan beragama Kristen dan Katolik yang menikah. Supaya bisa tercatat di Dukcapil, maka kedua pasangan ini harus memilih untuk dinikahkan secara Kristen, atau secara Katolik.

Dengan demikian, Dukcapil nantinya akan mencatat pasangan tersebut sudah dinikahkan lewat salah satu prosesi atau kepercayaan yang dianut.

Hal ini pun berlaku bagi penganut agama Islam yang memilih untuk dinikahkan lewat prosesi agama atau kepercayaan lain.

Misalnya, ketika seorang beragama Islam menikah di gereja Katolik, maka pasangan tersebut akan tercatat di Dukcapil sebagai suami-istri yang dinikahkan secara Katolik, sekalipun salah satunya masih memeluk agama Islam.

Zudan menambahkan, pernikahan beda agama juga tidak akan memengaruhi akta kelahiran anak kedua pasangan tersebut.

“Kalau anak tetap bisa dibuatkan akta (walau kedua orang tuanya berbeda agama, Red),” tutupnya. (jp)

JAKARTA, METRODAILY – Pernikahan beda agama yang viral di Semarang, Jawa Tengah tengah mengundang perdebatan di kalangan publik. Mereka yang berpegang pada prinsip pernikahan satu agama banyak yang menyayangkan kejadian tersebut, sementara pihak-pihak yang lebih progresif mengatakan hal tersebut sama sekali tidak perlu dipergunjingkan karena pernikahan adalah ranah yang sangat personal, terlepas apapun agama yang dianut kedua mempelai.

Mengomentari hal tersebut, Direktorat Jenderal Kependudukan dan Catatan Sipil (Ditjen Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memberikan penjelasan tentang aturan nikah beda agama di Indonesia.
Sebelumnya, sudah dipastikan pernikahan kedua mempelai itu tidak akan tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA), karena KUA hanya bisa mencatat pernikahan dua insan yang beragama Islam.

“Harus menikah dalam kondisi agama yang sama,” kata Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh saat dihubungi, Kamis (10/3/2022).

Zudan menjelaskan, ‘kondisi agama yang sama’ sebagaimana dimaksud olehnya adalah keadaan di mana kedua pasangan memutuskan untuk menikah dengan prosesi pernikahan salah satu agama yang dianut.

“Ada fatwa Mahkamah Agung menikah itu harus dengan agama yang sama. Bila beda agama, salah satu harus mengalah (dalam prosesi pernikahannya, atau memutuskan untuk memeluk agama pasangannya, Red). Baru bisa dicatatkan,” jelasnya.

Baca Juga :  Gaji ke-13 PNS & THR Tanpa Tunjangan Kinerja

“Untuk penganut agama non-Muslim dan penghayat kepercayaan, ada pemberkatannya oleh pemuka agama atau kepercayaannya. Ada dokumennya, dan ada surat pemberkatannya. Baru bisa dicatatkan,” ujar Zudan.

Sebagai contoh, ada dua pasangan beragama Kristen dan Katolik yang menikah. Supaya bisa tercatat di Dukcapil, maka kedua pasangan ini harus memilih untuk dinikahkan secara Kristen, atau secara Katolik.

Dengan demikian, Dukcapil nantinya akan mencatat pasangan tersebut sudah dinikahkan lewat salah satu prosesi atau kepercayaan yang dianut.

Hal ini pun berlaku bagi penganut agama Islam yang memilih untuk dinikahkan lewat prosesi agama atau kepercayaan lain.

Misalnya, ketika seorang beragama Islam menikah di gereja Katolik, maka pasangan tersebut akan tercatat di Dukcapil sebagai suami-istri yang dinikahkan secara Katolik, sekalipun salah satunya masih memeluk agama Islam.

Zudan menambahkan, pernikahan beda agama juga tidak akan memengaruhi akta kelahiran anak kedua pasangan tersebut.

“Kalau anak tetap bisa dibuatkan akta (walau kedua orang tuanya berbeda agama, Red),” tutupnya. (jp)

iklan-usi
iklanpemko
iklanpemko
iklan-usi

Most Read

Artikel Terbaru

/