alexametrics
22.8 C
Medan
Friday, August 19, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Puncak Kasus Aktif Diprediksi 400 Ribu

iklan-usi

JAKARTA, METRODAILY.id – Satuan Tugas Penanganan (Satgas) Covid-19 memprediksi kemungkinan naiknya kasus Covid-19 di tanah air saat libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru). Terdapat beberapa skenario yang dibuat oleh Satgas Covid-19 yang sumbernya diambil dari data yang dimiliki.

Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan, pihaknya memprediksi dengan memasukkan beberapa faktor risiko sejak awal November hingga 19 Februari 2022. Faktor risiko tersebut adalah mobilitas masyarakat, kepatuhan protokol kesehatan, hingga skenario munculnya varian baru yang lebih menular.

Skenario pertama, kata Dewi, merupakan kondisi yang ideal, yakni dengan telah terbentuknya herd immunity di masyarakat, mobilitas yang terjaga, serta tidak adanya varian baru.

“Namun melihat data sekarang herd immunity belum terbentuk, (vaksinasi) masih 40 persen, Desember juga (vaksinasi) belum terkejar 70 persen selesai, sehingga diprediksi mulai naik, mobilitas tinggi tapi kepatuhan protokol kesehatannya cukup baik,” kata Dewi di acara talkshow Satgas Covid-19, Senin (29/11).

“Naik, tapi maksimalnya hanya sekitar 70.000-an kasus aktifnya saja. Itu puncaknya sekitar 70.000 kasus,” lanjut dia.

Skenario selanjutnya adalah ketika herd immunity belum terbentuk tetapi mobilitas tinggi, dan kepatuhan protokol kesehatannya rendah. Dari skenario tersebut, kasus diprediksi langsung naik hingga di angka 260 ribu puncak kasus aktif.

Baca Juga :  Pencairan Anggaran OPD Palas Dikutip 10 Persen?

Kemudian, dalam skenario herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi, dan kepatuhan rendah yang juga memasukkan varian baru Covid-19 lebih menular, dalam kondisi saat ini kasus aktif diprediksi bisa meningkat hingga 400 ribu kasus.

Namun, ujar dia, angka varian baru yang dimasukkan ke dalam skenario itu hanya sekitar 40-50 persen lebih menular dari varian sebelumnya.

“Puncak kita mungkin tidak akan setinggi yang lebih dari ini karena vaksinasinya mungkin sudah jauh lebih luas cakupannya dibandingkan (kenaikan kasus) saat libur Idul Fitri,” kata dia.

“Jadi kalau yang sekarang naik, cuma angkanya mungkin hanya di kisaran sampai dengan 400 ribuan saja,” lanjut Dewi.

Berdasarkan variabel dari skenario-skenario itu, maka yang harus dikejar adalah penyelesaian vaksinasi, menjaga dan mengendalikan mobilitas dengan memberlakukan PPKM, serta kepatuhan protokol kesehatan masyarakat yang harus dipantau dan disosialisasikan. Tidak kalah penting adalah pencegahan varian baru Covid-19, yakni Omicron yang muncul saat ini dengan menutup pintu-pintu kedatangan, skrining berlapis bagi orang yang datang dari luar atau dari dalam ke luar serta domestik.

“Ini semua untuk menghindari varian-varian yang ada. Dari setiap variabel di sini harus diejawantahkan dalam bentuk strategi,” ucap dia. (net)

JAKARTA, METRODAILY.id – Satuan Tugas Penanganan (Satgas) Covid-19 memprediksi kemungkinan naiknya kasus Covid-19 di tanah air saat libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 (Nataru). Terdapat beberapa skenario yang dibuat oleh Satgas Covid-19 yang sumbernya diambil dari data yang dimiliki.

Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan, pihaknya memprediksi dengan memasukkan beberapa faktor risiko sejak awal November hingga 19 Februari 2022. Faktor risiko tersebut adalah mobilitas masyarakat, kepatuhan protokol kesehatan, hingga skenario munculnya varian baru yang lebih menular.

Skenario pertama, kata Dewi, merupakan kondisi yang ideal, yakni dengan telah terbentuknya herd immunity di masyarakat, mobilitas yang terjaga, serta tidak adanya varian baru.

“Namun melihat data sekarang herd immunity belum terbentuk, (vaksinasi) masih 40 persen, Desember juga (vaksinasi) belum terkejar 70 persen selesai, sehingga diprediksi mulai naik, mobilitas tinggi tapi kepatuhan protokol kesehatannya cukup baik,” kata Dewi di acara talkshow Satgas Covid-19, Senin (29/11).

“Naik, tapi maksimalnya hanya sekitar 70.000-an kasus aktifnya saja. Itu puncaknya sekitar 70.000 kasus,” lanjut dia.

Skenario selanjutnya adalah ketika herd immunity belum terbentuk tetapi mobilitas tinggi, dan kepatuhan protokol kesehatannya rendah. Dari skenario tersebut, kasus diprediksi langsung naik hingga di angka 260 ribu puncak kasus aktif.

Baca Juga :  Ada Gugatan, Yusril Menilai Penetapan Paslon Terpilih Labuhanbatu Kurang Tepat

Kemudian, dalam skenario herd immunity belum terbentuk, mobilitas tinggi, dan kepatuhan rendah yang juga memasukkan varian baru Covid-19 lebih menular, dalam kondisi saat ini kasus aktif diprediksi bisa meningkat hingga 400 ribu kasus.

Namun, ujar dia, angka varian baru yang dimasukkan ke dalam skenario itu hanya sekitar 40-50 persen lebih menular dari varian sebelumnya.

“Puncak kita mungkin tidak akan setinggi yang lebih dari ini karena vaksinasinya mungkin sudah jauh lebih luas cakupannya dibandingkan (kenaikan kasus) saat libur Idul Fitri,” kata dia.

“Jadi kalau yang sekarang naik, cuma angkanya mungkin hanya di kisaran sampai dengan 400 ribuan saja,” lanjut Dewi.

Berdasarkan variabel dari skenario-skenario itu, maka yang harus dikejar adalah penyelesaian vaksinasi, menjaga dan mengendalikan mobilitas dengan memberlakukan PPKM, serta kepatuhan protokol kesehatan masyarakat yang harus dipantau dan disosialisasikan. Tidak kalah penting adalah pencegahan varian baru Covid-19, yakni Omicron yang muncul saat ini dengan menutup pintu-pintu kedatangan, skrining berlapis bagi orang yang datang dari luar atau dari dalam ke luar serta domestik.

“Ini semua untuk menghindari varian-varian yang ada. Dari setiap variabel di sini harus diejawantahkan dalam bentuk strategi,” ucap dia. (net)

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/