alexametrics
26 C
Medan
Monday, June 27, 2022

iklanpemko

TOT ‘Numerasi Kelas Awal’ Tanoto Foundation

Pakai Numerasi Pecahkan Masalah Sehari-hari

KISARAN, METRODAILY –  Dua orang anggota Fasilitator Daerah (Fasda) Kabupaten Asahan mengaku senang ikut menyelesaikan program Training of Trainer (TOT) bagi para Fasda yang ada di sekolah mitra Tanoto Foundation. Pada TOT dengan tema Numerasi Kelas Awal skala nasional tersebut, mereka belajar menggunakan berbagai macam bilangan dan simbol yang terkait dengan Matematika dasar, untuk memecahkan masalah praktis.

“Tiap hari, materi yang dibagikan selama TOT berbeda-beda. Hari pertama membahas ‘Pemahaman Konsep Matematika’ dan ‘ Pola dan Pola Bilangan’. Hari kedua membahas tentang ‘Eksplorasi Bilangandan ‘Nilai Tempat. Dan hari terakhir, membahas ‘Soal Cerita,” kata Elida SPd, Fasda Tanoto Foundation tingkat Madrasah se-Kabupaten Asahan, yang juga guru kelas di MIN 10 Asahan, kepada Siti Marlina, guru bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di sekolah yang sama, belum lama ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Dahlia SPd, Fasda Tanoto Foundation tingkat SD se-Kabupaten Asahan, yang juga guru di SDN 014641 Simpang Empat Asahan.

Kepada Siti Marlina, Elida mengungkapkan, dari TOT ‘Numerasi Kelas Awal’ yang digelar lewat Zoom tersebut, banyak ilmu yang diperolehnya. “Saya jadi paham, bahwa Literasi Numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan menggunakan berbagai macam bilangan dan simbol yang terkait dengan Matematika dasar, untuk memecahkan masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari.  Juga kecakapan menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk,” katanya.

Sederhananya, kata dia, Literasi Numerasi juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari.

“Numerasi tidaklah sama dengan kompetensi Matematika. Keduanya berlandaskan pada pengetahuan dan keterampilan yang sama, tetapi berbeda. Perbedaannya terletak pada pemberdayaan pengetahuan dan keterampilan tersebut. Pengetahuan Matematika saja tidak otomatis membuat seseorang langsung memiliki kemampuan numerasi,” katanya.

Kata dia, literasi numerasi bukan hanya tanggung jawab guru Matematika saja, tetapi tanggung jawab seluruh guru melalui lintas mata pelajaran atau tematik. “Kami belajar bahwa strategi pengembangan Literasi Numerasi dapat dilaksanakan untuk tingkat kelas dan tingkat sekolah, yang kemudian dievaluasi atau dimonitoring,” katanya.

Dari lima tema yang dibahas selama TOT, Elida mengaku paling tertarik dengan tema Eksplorasi Bilangan. Dalam tema ini, pemateri yang dihadirkan Tanoto Foundation memberikan penguatan materi dengan memberikan kuis berupa tebak gambar, yang harus diingat oleh peserta.

Gambar pertama berjumlah 10 gambar. Peserta harus mengingat gambar apa saja yang tertera selama kurang lebih satu menit. Kemudian, pemateri menampilkan gambar kedua yang sama seperti gambar pertama, namun jumlah gambar sudah berkurang. Dari sebelumnya 10 gambar, kini menjadi hanya 7 gambar. Lalu pemateri meminta peserta untuk menebak berapa banyak gambar yang hilang, dan gambar apa saja yang sudah tidak ada.

Baca Juga :  Guru di Asahan Belajar Menulis Praktik Baik Pendidikan

“Dengan kuis tebak gambar itu, kita dilatih mengeksplorasi bilangan secara menarik. Saya kira, praktek kuis tebak gambar ini menarik untuk diterapkan di dalam kelas,” katanya.

Praktek alat peraga TOT Kelas Numerasi Awal, yang digelar
Tanoto Foundation kepada para Fasda di sekolah miitra Tanoto via Zoom, belum lama ini.

Rekan Elida sesama Fasda Tanoto Foundation di, yakni Dahlia SPd, yang juga peserta TOT Kelas Numerasi Awal tersebut, mengungkapkan dirinya paling terarik dengan tema Nilai Tempat, yang menurutnya mudah diterapkan dalam pemeblajaran numerasi kepada siswa.

Untuk materi Nilai Tempat ini, kata dia, guru dapat mengajak siswa untuk mempersiapkan media, seperti kartu domino, untuk dijadikan bingkai bilangan.

“Lalu kartu tersebut disusun sesuai bilangan yang ditentukan. Misalnya, lambang bilangan 12. Guru menjelaskan nilai tempat puluhan itu angka 10, dan satuan itu angka 2. Dengan menggunakan media domino, disusunlah jumlah kartu domino dengan jumlah bilangan yang sesuai. Disusunlah kartu domino berisi 4 bulatan dan 6 bulatan untuk menjadi bingkai nilai tempat angka 10. Dan kartu domino yang berisi 2 bulatan untuk menjadi bingkai nilai satuan angka 2,” kata Dahlia yang juga guru di SDN 014641 Simpang Empat Asahan ini,

Dengan metode pembelajaran memakai media, kata dia, anak didik akan lebih tertarik dan lebih mudah mengingatnya.

Sebagai Fasda untuk jenjang SDN se-Asahan, Dahlia juga mengaku mendapatkan ide-ide baru untuk memberikan materi kepada anak didik. Menurutnya, banyak hal unik dan menarik terjadi dalam kegiatan ini. Salahsatunya, peserta diminta sekreatif mungkin untuk menggunakan alat peraga yang tak biasa. Seperti tutup botol, manik-manik, kancing baju, mangkok, dsb.

“Keberagaman alat peraga dari puluhan peserta berbeda daerah, membuat kreativitas semakin mengembang. Misalnya, alat peraga bisa didapat dari bekas mainan anak-anak, alat berhitung sempoa yang sudah rusak, barang-barang daur ulang seperti tutup botol bekas air mineral yang diberi angka 1-20, dan sebagainya,” kata dia.

Ibu Elida dan Ibu Dahlia, Fasda Asahan yang menjadi peserta TOT Kelas Numerasi Awal yang digelar Tanoto Foundation.

Melihat peserta didik saat ini makin melekat dengan gadget, menurutnya, Dan materi pemeblajaran mengenal bilangan dan nilai tempat dengan alat peraga, akan lebih menarik minat siswa belajar.

Meski mengakui materi TOT Kelas Numerasi Awal sangat menarik dan bermanfaat, Elida dan Dahlia menyebutkan, ilmu hasil TOT belum dapat diterapkan, karena bersamaan dengan pelaksanaan Ujian Akhir Semester di sekolah. “Semoga di awal tahun ajaran baru nanti, berbagai ilmu yang kami dapat, bisa diterapkan dengan sebaik-baiknya,” kata mereka berdua dengan nada bersemangat.

Sementara itu, pihak Tanoto Foundation berharap, program TOT Numerasi Kelas Awal ini dapat memotivasi seluruh pendidik di Indonesia, agar dapat menjadi pendidik yang lebih kreatif dan inovatif dalam mencerdaskan peserta didiknya. “Program ini diharapkan bukan sekedar transfer of knowledge saja, namun dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-sehari di lingkungan pendidik dan peserta didik,” kata pihak Tanoto. (Siti Marlina)

KISARAN, METRODAILY –  Dua orang anggota Fasilitator Daerah (Fasda) Kabupaten Asahan mengaku senang ikut menyelesaikan program Training of Trainer (TOT) bagi para Fasda yang ada di sekolah mitra Tanoto Foundation. Pada TOT dengan tema Numerasi Kelas Awal skala nasional tersebut, mereka belajar menggunakan berbagai macam bilangan dan simbol yang terkait dengan Matematika dasar, untuk memecahkan masalah praktis.

“Tiap hari, materi yang dibagikan selama TOT berbeda-beda. Hari pertama membahas ‘Pemahaman Konsep Matematika’ dan ‘ Pola dan Pola Bilangan’. Hari kedua membahas tentang ‘Eksplorasi Bilangandan ‘Nilai Tempat. Dan hari terakhir, membahas ‘Soal Cerita,” kata Elida SPd, Fasda Tanoto Foundation tingkat Madrasah se-Kabupaten Asahan, yang juga guru kelas di MIN 10 Asahan, kepada Siti Marlina, guru bidang studi Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di sekolah yang sama, belum lama ini.

Hal senada juga disampaikan oleh Dahlia SPd, Fasda Tanoto Foundation tingkat SD se-Kabupaten Asahan, yang juga guru di SDN 014641 Simpang Empat Asahan.

Kepada Siti Marlina, Elida mengungkapkan, dari TOT ‘Numerasi Kelas Awal’ yang digelar lewat Zoom tersebut, banyak ilmu yang diperolehnya. “Saya jadi paham, bahwa Literasi Numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan menggunakan berbagai macam bilangan dan simbol yang terkait dengan Matematika dasar, untuk memecahkan masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari.  Juga kecakapan menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk,” katanya.

Sederhananya, kata dia, Literasi Numerasi juga dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari.

“Numerasi tidaklah sama dengan kompetensi Matematika. Keduanya berlandaskan pada pengetahuan dan keterampilan yang sama, tetapi berbeda. Perbedaannya terletak pada pemberdayaan pengetahuan dan keterampilan tersebut. Pengetahuan Matematika saja tidak otomatis membuat seseorang langsung memiliki kemampuan numerasi,” katanya.

Kata dia, literasi numerasi bukan hanya tanggung jawab guru Matematika saja, tetapi tanggung jawab seluruh guru melalui lintas mata pelajaran atau tematik. “Kami belajar bahwa strategi pengembangan Literasi Numerasi dapat dilaksanakan untuk tingkat kelas dan tingkat sekolah, yang kemudian dievaluasi atau dimonitoring,” katanya.

Dari lima tema yang dibahas selama TOT, Elida mengaku paling tertarik dengan tema Eksplorasi Bilangan. Dalam tema ini, pemateri yang dihadirkan Tanoto Foundation memberikan penguatan materi dengan memberikan kuis berupa tebak gambar, yang harus diingat oleh peserta.

Gambar pertama berjumlah 10 gambar. Peserta harus mengingat gambar apa saja yang tertera selama kurang lebih satu menit. Kemudian, pemateri menampilkan gambar kedua yang sama seperti gambar pertama, namun jumlah gambar sudah berkurang. Dari sebelumnya 10 gambar, kini menjadi hanya 7 gambar. Lalu pemateri meminta peserta untuk menebak berapa banyak gambar yang hilang, dan gambar apa saja yang sudah tidak ada.

Baca Juga :  Murid: Apakah Ibu Kartini Meninggal Dibunuh Penjajah?

“Dengan kuis tebak gambar itu, kita dilatih mengeksplorasi bilangan secara menarik. Saya kira, praktek kuis tebak gambar ini menarik untuk diterapkan di dalam kelas,” katanya.

Praktek alat peraga TOT Kelas Numerasi Awal, yang digelar
Tanoto Foundation kepada para Fasda di sekolah miitra Tanoto via Zoom, belum lama ini.

Rekan Elida sesama Fasda Tanoto Foundation di, yakni Dahlia SPd, yang juga peserta TOT Kelas Numerasi Awal tersebut, mengungkapkan dirinya paling terarik dengan tema Nilai Tempat, yang menurutnya mudah diterapkan dalam pemeblajaran numerasi kepada siswa.

Untuk materi Nilai Tempat ini, kata dia, guru dapat mengajak siswa untuk mempersiapkan media, seperti kartu domino, untuk dijadikan bingkai bilangan.

“Lalu kartu tersebut disusun sesuai bilangan yang ditentukan. Misalnya, lambang bilangan 12. Guru menjelaskan nilai tempat puluhan itu angka 10, dan satuan itu angka 2. Dengan menggunakan media domino, disusunlah jumlah kartu domino dengan jumlah bilangan yang sesuai. Disusunlah kartu domino berisi 4 bulatan dan 6 bulatan untuk menjadi bingkai nilai tempat angka 10. Dan kartu domino yang berisi 2 bulatan untuk menjadi bingkai nilai satuan angka 2,” kata Dahlia yang juga guru di SDN 014641 Simpang Empat Asahan ini,

Dengan metode pembelajaran memakai media, kata dia, anak didik akan lebih tertarik dan lebih mudah mengingatnya.

Sebagai Fasda untuk jenjang SDN se-Asahan, Dahlia juga mengaku mendapatkan ide-ide baru untuk memberikan materi kepada anak didik. Menurutnya, banyak hal unik dan menarik terjadi dalam kegiatan ini. Salahsatunya, peserta diminta sekreatif mungkin untuk menggunakan alat peraga yang tak biasa. Seperti tutup botol, manik-manik, kancing baju, mangkok, dsb.

“Keberagaman alat peraga dari puluhan peserta berbeda daerah, membuat kreativitas semakin mengembang. Misalnya, alat peraga bisa didapat dari bekas mainan anak-anak, alat berhitung sempoa yang sudah rusak, barang-barang daur ulang seperti tutup botol bekas air mineral yang diberi angka 1-20, dan sebagainya,” kata dia.

Ibu Elida dan Ibu Dahlia, Fasda Asahan yang menjadi peserta TOT Kelas Numerasi Awal yang digelar Tanoto Foundation.

Melihat peserta didik saat ini makin melekat dengan gadget, menurutnya, Dan materi pemeblajaran mengenal bilangan dan nilai tempat dengan alat peraga, akan lebih menarik minat siswa belajar.

Meski mengakui materi TOT Kelas Numerasi Awal sangat menarik dan bermanfaat, Elida dan Dahlia menyebutkan, ilmu hasil TOT belum dapat diterapkan, karena bersamaan dengan pelaksanaan Ujian Akhir Semester di sekolah. “Semoga di awal tahun ajaran baru nanti, berbagai ilmu yang kami dapat, bisa diterapkan dengan sebaik-baiknya,” kata mereka berdua dengan nada bersemangat.

Sementara itu, pihak Tanoto Foundation berharap, program TOT Numerasi Kelas Awal ini dapat memotivasi seluruh pendidik di Indonesia, agar dapat menjadi pendidik yang lebih kreatif dan inovatif dalam mencerdaskan peserta didiknya. “Program ini diharapkan bukan sekedar transfer of knowledge saja, namun dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-sehari di lingkungan pendidik dan peserta didik,” kata pihak Tanoto. (Siti Marlina)

iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/