alexametrics
28.9 C
Medan
Thursday, October 6, 2022

FGD LPM USI dan SBR

Maestro Seni Tortor Simalungun Itu Bernama Raminah Garingging

SIANTAR, METRODAILY – Perempuan berumur 88 tahun, Raminah Saragih Garingging, sangat menginspirasi generasi muda untuk kembali melestarikan seni tradisi Simalungun agar tidak hilang.

Perempuan yang belajar tor-tor secara otodidak ini menguasai banyak jenis tor-tor yang merupakan peninggalan budaya Simalungun yang akhir-akhir ini sudah nyaris hilang, karena tidak pernah dipertunjukkan lagi.

Selain tor-tor, perempuan yang dipanggil Oppung ini juga menguasai pengetahuan penyembuh tradisional menggunakan herbal, penutur legenda cerita rakyat yang fasih, memijat tradisional, menyanyi inggou tradisional  rakyat simalungun, juga merupakan ‘orang pintar’.

Dalam Focus Group Discussion berjudul ‘Op. Raminah Garingging, Perempuan Inspiratif, Jejak Generasi Terakhir Era Rumah Bolon Pematang Purba’ di Aula FKIP USI , Jalan Sisingamangaraja XII Pematang Siantar, Sabtu (10/9) lalu, narasumber DR Corry Purba MSi ( Rektor USI), Dr Sarmedi Purba SpOG ( Budayawan Simalungun), Sultan Saragih (Seniman, Penulis buku biography Op. Raminah Garingging), Thompson HS (Seniman, Penerima Anugerah Kebudayaan, Pelestari Opera Batak), dan Juita Manurung (Pelaku Tradisi, Penari dan Pimpinan Ruma Parsiajaran Inang Nauli Basa di Kabupaten Toba), sepakat untuk mendorong Op Raminah Garingging menpadat penghargaan Maestro Seni Tradisi Anugerah Kebudayaan Indonesia 2022. FGD ini merupakan kerjasama LPM USI dan Sanggar Budaya Rayantara (SBR).

Thompson HS, berpendapat Op Raminah Garingging dinilai layak mendapat penghargaan dari Negara, karena sudah berbagi pengetahuan kepada orang lain. Menjadi kamus berjalan, melatih para generasi muda menari tanpa kenal lelah, dengan tujuan pengetahuan itu nantinya tetap lestari.

Mereka-mereka yang aktif dalam membagikan pengetahuan tradisi bisa mendapat penghargaan dari negara, untuk membantu biaya hidup termasuk biaya operasional saat melakukan tugas-tugasnya. Namun dalam proses pengajuannya, nantinya akan dilakukan verifikasi, apakah benar atau tidak.

Thomson HS , selaku penerima Anugerah Kebudayaan kategori Pelestari Opera Batak menyampaikan bahwa Maestro adalah ahli di bidangnya, setidaknya dua generasi sudah mengetahui dinamika kebudayaan. Pada tahun 2007 , Kemendikbud masa Menteri Jero Wacik membuat program bagaimana  seorang Maestro bisa dihargai, dibuat ketentuan dan syarat, selain ahli hingga dua generasi, ia tidak memiliki penghasilan tetap, masih memberikan pengetahuannya kepada generasi baru.

“Saya pernah diberi kepercayaan melakukan verifikasi calon Maestro dari Aceh, Syeh Lagenta ahli Tari Seudati. Akhirnya Syeh Lagenta mendapat gelar Maestro dan dana hibah, modal untuk hidup dan membagi pengetahuannya. Mulai saat itu, sanggar yang mendampingi tidak lagi sibuk terbeban untuk membiayai kerja dan karya Maestro. PLOt melakukan MoU dengan Zulkaida Harahap dan Alister Nainggolan untuk terus berbagi pengetahuan dan berkarya. Tapi bila absen dan tidak membagi pengetahuan, hibah akan ditunda,”kata Thomson.

Sementara Juita Manurung, budayawan dari Toba, mengungkapkan Raminah Garingging menari karena ingin menari, ia menari dengan jiwanya. Sehingga dia dapat menari karena menyatu dengan musik dan alam. Lolos tidak lolos pendaftaran Kemendikbud, ia  tetap Maestro.  Ia seorang organizer, walau lansia tidak duduk diam di rumah, tapi masih berbagi mewariskan pengetahuannya. Tor tor dapat menjadi katarsis, doa, ekspresi sedih dan marah. Dalam tradisi, Tor Tor memiliki pakem, makna, cerita dan filosofi sendiri. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, Raminah Garingging meninggalkan jejak karya dan pengasuhan.

Baca Juga :  Asyekk... Ada Komunitas Pengendara Kendaraan Listrik di Siantar

Sementara Rektor USI Dr Corry Purba MSi, memaparkan bahwa Raminah Garingging dikenalnya memiliki pola hidup sehat, suka makan sayur, bahkan harus lebih banyak sayur dari nasi.

“Saya mengenal nya sebagai Mak Tua yang bisa mangalut atau memijat , baru belakangan ini tahu bahwa ia bisa menari dan mewariskan tari yang bahkan nyaris hilang. Sebagai antropolog, saya memahami tari memiliki arti dan makna, doa dan pemujaan, bukan hanya untuk pertunjukan panggung. Raminah Garingging merupakan sosok perempuan, gigih sebentar ke sana sebentar ke sini, waktunya ia korbankan untuk membimbing dan membina generasi. Bila tidak bisa berdiri, masih bisa duduk sambil mengajar. Harimau mati meninggalkan belang, RG meninggalkan semua perbutan baik dalam membina budaya Simalungun,”katanya.

FGD dibuka dengan penampilan  permainan tradisional Simalungun Sap Sap Sere dan Tor Tor Balang Sahua dari anak anak SD RK7 Jl Medan Km 6, asuhan Suster Trophia sebagai  hasil workshop bersama Opung Raminah Garingging yang telah dilakukan 2 bulan sebelumnya. Program tersebut akan berlanjut meliputi 5 Desa Wisata Siantar Simalungun, dalam pendampingan BPNB (Balai Pelestarian Nila Budaya) Aceh.

Sementara Sultan Saragih menyampaikan kilas balik perjalanan Op. Raminah Garingging, sejak lahir, remaja, dewasa dan lansia. Raminah Garingging lahir 10 Oktober 1934 di Sorbadolog. Merupakan cucu Tuan Sorbadolog, Tuan Likkar Saragih Garingging. Tuan Likkar Saragih Garingging tercatat dalam silsilah buku “Saragih Garingging” disusun oleh Taralamsyah Saragih, pengantar Mansen Purba (1981), garis silsilah di bawah generasi Raja Raya, Tuan Rondahaim Saragih. Ia penganut habonaron, segala sesuatu berdasarkan petunjuk n rekomendasi leluhur baik membuka lahan ladang, menanam, bekerja, panen, maniti ari, dan melaksanakan adat istiadat.

Generasi selanjutnya Tuan Likkar, Tuan Marton Saragih Garingging gelar Tuan Ikan (ayah) juga memiliki pengetahuan tradisi, tempat bertanya berbagai hal, memiliki kemampuan dihar (bela diri tradisional) dan penyembuh tradisional. Ia dikenal dengan Tuan Ikan,  karena ia bisa mengambil ikan dengan menadahkan tangan ke dalam air, kemudian ikan akan berdatangan.

Ketua Umum DPP PMS Dr Sarmedi Purba SpOG mengatakan, dirinya memiliki minat dan empati dengan kebudayaan. Kalau kita hendak melompat lebih tinggi dengan cita cita tinggi, harus mengetahui dimana asal usul dan akar budaya. Bila tidak, ia akan kehilangan identitas. Nenek moyang sudah jauh memiliki pengetahuan dan peradaban yang tinggi, sehingga generasi bisa percaya diri untuk tampil maju hingga melintasi negara.

Satu keuntungan, Raminah Garingging ada untuk mewariskan pengetahuan kebudayaan Rumah Bolon, setelah hilang sebab sejak revolusi sosial 1946, tidak ada lagi raja sebagai pemangku dan pelaksana budaya.

“Kita berupaya agar meraih gelar maestro sebagai kebanggaan bersama Simalungun,” harap Sarmedi.(rel/esa)

SIANTAR, METRODAILY – Perempuan berumur 88 tahun, Raminah Saragih Garingging, sangat menginspirasi generasi muda untuk kembali melestarikan seni tradisi Simalungun agar tidak hilang.

Perempuan yang belajar tor-tor secara otodidak ini menguasai banyak jenis tor-tor yang merupakan peninggalan budaya Simalungun yang akhir-akhir ini sudah nyaris hilang, karena tidak pernah dipertunjukkan lagi.

Selain tor-tor, perempuan yang dipanggil Oppung ini juga menguasai pengetahuan penyembuh tradisional menggunakan herbal, penutur legenda cerita rakyat yang fasih, memijat tradisional, menyanyi inggou tradisional  rakyat simalungun, juga merupakan ‘orang pintar’.

Dalam Focus Group Discussion berjudul ‘Op. Raminah Garingging, Perempuan Inspiratif, Jejak Generasi Terakhir Era Rumah Bolon Pematang Purba’ di Aula FKIP USI , Jalan Sisingamangaraja XII Pematang Siantar, Sabtu (10/9) lalu, narasumber DR Corry Purba MSi ( Rektor USI), Dr Sarmedi Purba SpOG ( Budayawan Simalungun), Sultan Saragih (Seniman, Penulis buku biography Op. Raminah Garingging), Thompson HS (Seniman, Penerima Anugerah Kebudayaan, Pelestari Opera Batak), dan Juita Manurung (Pelaku Tradisi, Penari dan Pimpinan Ruma Parsiajaran Inang Nauli Basa di Kabupaten Toba), sepakat untuk mendorong Op Raminah Garingging menpadat penghargaan Maestro Seni Tradisi Anugerah Kebudayaan Indonesia 2022. FGD ini merupakan kerjasama LPM USI dan Sanggar Budaya Rayantara (SBR).

Thompson HS, berpendapat Op Raminah Garingging dinilai layak mendapat penghargaan dari Negara, karena sudah berbagi pengetahuan kepada orang lain. Menjadi kamus berjalan, melatih para generasi muda menari tanpa kenal lelah, dengan tujuan pengetahuan itu nantinya tetap lestari.

Mereka-mereka yang aktif dalam membagikan pengetahuan tradisi bisa mendapat penghargaan dari negara, untuk membantu biaya hidup termasuk biaya operasional saat melakukan tugas-tugasnya. Namun dalam proses pengajuannya, nantinya akan dilakukan verifikasi, apakah benar atau tidak.

Thomson HS , selaku penerima Anugerah Kebudayaan kategori Pelestari Opera Batak menyampaikan bahwa Maestro adalah ahli di bidangnya, setidaknya dua generasi sudah mengetahui dinamika kebudayaan. Pada tahun 2007 , Kemendikbud masa Menteri Jero Wacik membuat program bagaimana  seorang Maestro bisa dihargai, dibuat ketentuan dan syarat, selain ahli hingga dua generasi, ia tidak memiliki penghasilan tetap, masih memberikan pengetahuannya kepada generasi baru.

“Saya pernah diberi kepercayaan melakukan verifikasi calon Maestro dari Aceh, Syeh Lagenta ahli Tari Seudati. Akhirnya Syeh Lagenta mendapat gelar Maestro dan dana hibah, modal untuk hidup dan membagi pengetahuannya. Mulai saat itu, sanggar yang mendampingi tidak lagi sibuk terbeban untuk membiayai kerja dan karya Maestro. PLOt melakukan MoU dengan Zulkaida Harahap dan Alister Nainggolan untuk terus berbagi pengetahuan dan berkarya. Tapi bila absen dan tidak membagi pengetahuan, hibah akan ditunda,”kata Thomson.

Sementara Juita Manurung, budayawan dari Toba, mengungkapkan Raminah Garingging menari karena ingin menari, ia menari dengan jiwanya. Sehingga dia dapat menari karena menyatu dengan musik dan alam. Lolos tidak lolos pendaftaran Kemendikbud, ia  tetap Maestro.  Ia seorang organizer, walau lansia tidak duduk diam di rumah, tapi masih berbagi mewariskan pengetahuannya. Tor tor dapat menjadi katarsis, doa, ekspresi sedih dan marah. Dalam tradisi, Tor Tor memiliki pakem, makna, cerita dan filosofi sendiri. Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama, Raminah Garingging meninggalkan jejak karya dan pengasuhan.

Baca Juga :  Reckitt Indonesia Raih Gelar 'Perusahaan Terbaik untuk Bekerja" di Asia 2022

Sementara Rektor USI Dr Corry Purba MSi, memaparkan bahwa Raminah Garingging dikenalnya memiliki pola hidup sehat, suka makan sayur, bahkan harus lebih banyak sayur dari nasi.

“Saya mengenal nya sebagai Mak Tua yang bisa mangalut atau memijat , baru belakangan ini tahu bahwa ia bisa menari dan mewariskan tari yang bahkan nyaris hilang. Sebagai antropolog, saya memahami tari memiliki arti dan makna, doa dan pemujaan, bukan hanya untuk pertunjukan panggung. Raminah Garingging merupakan sosok perempuan, gigih sebentar ke sana sebentar ke sini, waktunya ia korbankan untuk membimbing dan membina generasi. Bila tidak bisa berdiri, masih bisa duduk sambil mengajar. Harimau mati meninggalkan belang, RG meninggalkan semua perbutan baik dalam membina budaya Simalungun,”katanya.

FGD dibuka dengan penampilan  permainan tradisional Simalungun Sap Sap Sere dan Tor Tor Balang Sahua dari anak anak SD RK7 Jl Medan Km 6, asuhan Suster Trophia sebagai  hasil workshop bersama Opung Raminah Garingging yang telah dilakukan 2 bulan sebelumnya. Program tersebut akan berlanjut meliputi 5 Desa Wisata Siantar Simalungun, dalam pendampingan BPNB (Balai Pelestarian Nila Budaya) Aceh.

Sementara Sultan Saragih menyampaikan kilas balik perjalanan Op. Raminah Garingging, sejak lahir, remaja, dewasa dan lansia. Raminah Garingging lahir 10 Oktober 1934 di Sorbadolog. Merupakan cucu Tuan Sorbadolog, Tuan Likkar Saragih Garingging. Tuan Likkar Saragih Garingging tercatat dalam silsilah buku “Saragih Garingging” disusun oleh Taralamsyah Saragih, pengantar Mansen Purba (1981), garis silsilah di bawah generasi Raja Raya, Tuan Rondahaim Saragih. Ia penganut habonaron, segala sesuatu berdasarkan petunjuk n rekomendasi leluhur baik membuka lahan ladang, menanam, bekerja, panen, maniti ari, dan melaksanakan adat istiadat.

Generasi selanjutnya Tuan Likkar, Tuan Marton Saragih Garingging gelar Tuan Ikan (ayah) juga memiliki pengetahuan tradisi, tempat bertanya berbagai hal, memiliki kemampuan dihar (bela diri tradisional) dan penyembuh tradisional. Ia dikenal dengan Tuan Ikan,  karena ia bisa mengambil ikan dengan menadahkan tangan ke dalam air, kemudian ikan akan berdatangan.

Ketua Umum DPP PMS Dr Sarmedi Purba SpOG mengatakan, dirinya memiliki minat dan empati dengan kebudayaan. Kalau kita hendak melompat lebih tinggi dengan cita cita tinggi, harus mengetahui dimana asal usul dan akar budaya. Bila tidak, ia akan kehilangan identitas. Nenek moyang sudah jauh memiliki pengetahuan dan peradaban yang tinggi, sehingga generasi bisa percaya diri untuk tampil maju hingga melintasi negara.

Satu keuntungan, Raminah Garingging ada untuk mewariskan pengetahuan kebudayaan Rumah Bolon, setelah hilang sebab sejak revolusi sosial 1946, tidak ada lagi raja sebagai pemangku dan pelaksana budaya.

“Kita berupaya agar meraih gelar maestro sebagai kebanggaan bersama Simalungun,” harap Sarmedi.(rel/esa)

iklan simalungun
iklan simalungun

Most Read

Artikel Terbaru

/