alexametrics
27 C
Medan
Thursday, August 18, 2022

iklanpemko
iklanpemko

DPO sejak 2020, Inilah Jejak Pencarian Syafaruddin

iklan-usi

METRODAILY.id – Awalnya, mantan Ketua PDIP Padang Lawas Utara (Paluta) Syafaruddin Harahap masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Kejaksaan Negeri Paluta sejak Desember 2020. Dia dinilai tak kooperatif melaksanakan putusan MA nomor: 923 K/Pid/2019, dalam kasus penggelapan.

Syafaruddin menjadi buron usai dijatuhi vonis 2 tahun penjara dalam kasus penggelapan. Kepala Seksi Bidang Intelijen Kejari Paluta, Budi Darmawan menyebut kasus ini terkait surat tanah.

“Kasusnya penggelapan, yang digelapkan surat yang menerangkan soal tanah,” kata Budi Darmawan beberapa waktu lalu.

Kasus ini berawal saat Syafaruddin menerima kuasa mengurus tanah warisan seluas 2.500 hektare oleh seorang warga bernama Mahadewa Harahap. Menurut Budi, warga tersebut meninggal dunia dan tanah itu diserahkan kepada anaknya, Bangsa Alam. “Di kemudian hari Bangsa Alam meninggal dan dilanjutkan oleh Tetty br Harahap,” ujarnya.

Syafaruddin kemudian sempat meminjam surat tanah itu kepada Tetty. Namun, Syafaruddin tidak mau menyerahkannya kembali.

“Tety meminta surat tersebut dan terpidana tidak mau menyerahkan surat tersebut kepada Tetty. Makanya, Tety melaporkan terpidana sehingga naiklah perkara ini,” jelasnya.

Baca Juga :  Pilkada Digelar 2024, Tapteng akan Dipimpin Pj di 2022

Sempat Dicari ke Rumah, Namun Tak Ada

Kejaksaan sempat menyurati Syafruddin, tapi tidak ditanggapi. Kejaksaan juga sudah mendatangi rumah Syafaruddin, namun tidak juga dapat menemukan yang bersangkutan.

Pihak keluarga mengatakan Syafruddin tidak berada di rumah karena sedang pergi untuk berobat. Pihak keluarga disebut tak bisa memperlihatkan surat bukti Syafruddin sedang sakit.

“Bahwa istri terpidana Syafaruddin Harahap menyampaikan bahwa suaminya, Syafaruddin Harahap, sedang berobat untuk pemasangan ring jantung. Namun yang bersangkutan tidak dapat menyampaikan surat sakit yang membenarkan yang bersangkutan sedang berobat serta mencoba memberikan narasi pembenaran atas kasus terpidana tersebut,” tutur Budi.

“Namun pihak Jaksa Eksekutor meminta kepada istri terpidana agar hadir segera di kantor Kejaksaan Negeri Padang Lawas Utara untuk melaksanakan putusan yang sudah inkrah,” imbuhnya.

Budi mengatakan Syafruddin juga tidak ditemukan saat pihaknya datang ke rumah untuk kedua kalinya. Setelah itu, kejaksaan langsung memasukkan Syafaruddin ke daftar pencarian orang. (dc/int)

METRODAILY.id – Awalnya, mantan Ketua PDIP Padang Lawas Utara (Paluta) Syafaruddin Harahap masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) Kejaksaan Negeri Paluta sejak Desember 2020. Dia dinilai tak kooperatif melaksanakan putusan MA nomor: 923 K/Pid/2019, dalam kasus penggelapan.

Syafaruddin menjadi buron usai dijatuhi vonis 2 tahun penjara dalam kasus penggelapan. Kepala Seksi Bidang Intelijen Kejari Paluta, Budi Darmawan menyebut kasus ini terkait surat tanah.

“Kasusnya penggelapan, yang digelapkan surat yang menerangkan soal tanah,” kata Budi Darmawan beberapa waktu lalu.

Kasus ini berawal saat Syafaruddin menerima kuasa mengurus tanah warisan seluas 2.500 hektare oleh seorang warga bernama Mahadewa Harahap. Menurut Budi, warga tersebut meninggal dunia dan tanah itu diserahkan kepada anaknya, Bangsa Alam. “Di kemudian hari Bangsa Alam meninggal dan dilanjutkan oleh Tetty br Harahap,” ujarnya.

Syafaruddin kemudian sempat meminjam surat tanah itu kepada Tetty. Namun, Syafaruddin tidak mau menyerahkannya kembali.

“Tety meminta surat tersebut dan terpidana tidak mau menyerahkan surat tersebut kepada Tetty. Makanya, Tety melaporkan terpidana sehingga naiklah perkara ini,” jelasnya.

Baca Juga :  Serang Polisi, Pencuri Sepedamotor di Labuhanbatu Ditembak

Sempat Dicari ke Rumah, Namun Tak Ada

Kejaksaan sempat menyurati Syafruddin, tapi tidak ditanggapi. Kejaksaan juga sudah mendatangi rumah Syafaruddin, namun tidak juga dapat menemukan yang bersangkutan.

Pihak keluarga mengatakan Syafruddin tidak berada di rumah karena sedang pergi untuk berobat. Pihak keluarga disebut tak bisa memperlihatkan surat bukti Syafruddin sedang sakit.

“Bahwa istri terpidana Syafaruddin Harahap menyampaikan bahwa suaminya, Syafaruddin Harahap, sedang berobat untuk pemasangan ring jantung. Namun yang bersangkutan tidak dapat menyampaikan surat sakit yang membenarkan yang bersangkutan sedang berobat serta mencoba memberikan narasi pembenaran atas kasus terpidana tersebut,” tutur Budi.

“Namun pihak Jaksa Eksekutor meminta kepada istri terpidana agar hadir segera di kantor Kejaksaan Negeri Padang Lawas Utara untuk melaksanakan putusan yang sudah inkrah,” imbuhnya.

Budi mengatakan Syafruddin juga tidak ditemukan saat pihaknya datang ke rumah untuk kedua kalinya. Setelah itu, kejaksaan langsung memasukkan Syafaruddin ke daftar pencarian orang. (dc/int)

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/