alexametrics
27 C
Medan
Thursday, August 18, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Bela HRS, Perempuan Muda Tabrak Kantor Polres Pematangsiantar

iklan-usi

SIANTAR, METRODAILY – Mengaku mendadak benci, seorang perempuan berusia 29 tahun, Fitri Arni Matondang, menabrakkan diri menggunakan sepeda motor ke pintu kaca  SPKT Mako Polres Pematangsiantar, Jalan Jend. Sudirman No. 08 Kel. Proklamasi Kec. Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Senin (21/2/2022) sekira pukul 07.25 pagi WIB.

Fitri yang saat itu mengenakan baju gamis dan jilbab warna hitam, melaju kencang di atas sepeda motor Honda Scoopy warna pink No. Pol BK 5856 TAK, dari arah Jalan Sutomo langsung masuk ke Mako Polres Pematangsiantar.

Penabrakan itu mengakibatkan pintu dan dinding kaca SPKT Polres Pematangsiantar pecah. Beruntung, personil polri yang saat itu sedang bertugas tidak mengalami luka-luka. Sedangkan pelaku yang tinggal di Jalan Hok Salamuddin Kelurahan Siantar Estate, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun itu mengalami luka lecet pada dahi kiri, dan langsung dibawa ke Klinik Polres Pematangsiantar untuk dilakukan tindakan medis.

Saat diinterogasi, pelaku mengaku saat itu berangkat dari rumahnya di Jalan Hok Salamuddin mengendarai sepeda motor menuju pesantren Mahabaturrosul SAW Jln. Sidomulyo Kel. Simarimbun Kec. Siantar Marimbun Kota Pematangsiantar. Ia berniat mengundang H Ustad. Syahban Siregar selaku pimpinan Ponpes Mahabaturrosul SAW, untuk rencana pernikahan pelaku.

Perempuan muda yang menabrak Kantor SPKT Polres Pematangsiantar, Senin (21/3/2022) pagi. Ia mengaku benci karena laskar FPI ditembak dan HRS ditangkap.

Dalam perjalanan menuju pesantren, tepatnya di Jalan Sutomo, pelaku melihat polisi yang sedang melaksanakan gatur lalu-lintas pagi. Tiba-tiba pelaku merasa benci dan langsung berniat melakukan penyerangan. Selanjutnya, pelaku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi menuju Mako Polres Pematangsiantar, dan menerobos gerbang hingga menabrak pintu kaca SPKT Polres Pematangsiantar.

“Pelaku mengaku sakit hati terhadap polisi yang melakukan penembakan terhadap laskar FPI di KM 50, beberapa waktu lalu,” kata sumber di kepolisian.

Pelaku yang sudah menikah dua kali itu juga mengaku tidak terima terhadap aparat kepolisian yang menangkap Habib Rizieq Shihab. Pelaku mengaku melakukan aksi pengerusakan dalam keadaan sadar dengan tujuan masuk surge, demi membela Habib Rizieq Shihab yang dianggap nabi.

Baca Juga :  Tiga Pencuri Sawit Afd IX Kebun Bah Jambi Tertangkap

Adapun pelaku sehari-hari belajar agama melalui media sosial Youtube, dengan menonton Channel Youtube Nabawi TV.

Orangtua pelaku berinisial MS, saat diperiksa mengaku putrinya itu pernah bersekolah di SD Negeri di Jalan Kertas Kel. Siopat Suhu Kec. Siantar Timur. Selanjutnya melanjutkan sekolah ke SMP Sultan Agung Jalan Surabaya, dan SMA di Sultan Agung namun kemudian pindah ke SMA Kartika karena menghina agama lain.

Kelas 1 SMA, pelaku mengalami kecelakaan, dan saat duduk di kelas 3 SMA, menurut orangtuanya Fitri mulai bertingkah yang tidak wajar. Selanjutnya tahun 2014, pelaku masuk ke UISU  Jalan Johor mengambil jurusan Kedokteran, namun bertahan hanya atu semester karena tidak mampu mengikuti pelajaran.

Keluar dari Fakulatas Kedokteran UISU, pelaku berjualan tas online selama satu tahun. Selanjutnya tahun 2015, pelaku masuk ke UISU Kabupaten Simalungun mengambil jurusan Agama Islam, dan tamat tahun 2019 dengan gelar SPDI (Sarjana Pendidikan Agama Islam).

Tahun 2019, pelaku menikah dengan teman kuliahnya berinisial RF, mengaku mengalami KDRT, mengadukan suami ke Polres Simalungun, dan mengajukan cerai.

Tahun itu juga, pelaku masuk Pesantren Annur di Karangbangun selama tiga bulan.

Selanjutnya, pelaku menikah siri dengan WTG, seorang jemaat tabligh dari Binjai, yang dijodohkan oleh temannya ketika di pesantren. Selama menikah, pelaku mengikuti WTG dan menetap di Binjai. Namun sang suami hanya berdakwah (tidak bekerja) dan tidak mampu menafkahi pelaku, bahkan sang suami menjual 1 unit mobil milik pelaku, pelaku memilih berpisah dengan WTG.

Belakangan, WTG kembali mengajak rujuk pelaku, dengan syarat harus menikah kembali dengan seorang laki-laki yang berasal dari Pekanbaru, yang dipilih langsung oleh WTG.

Hasil penggeledahan unit identifikasi Sat Reskrim Polres Pematangsiantar di kamar pelaku di rumahnya di Jalan Hok Salammudin, ditemukan kitab suci dan buku-buku lainnya. Termasuk buku catatan harian. Selanjutnya pelaku diamankan di Unit Reskrim untuk pemeriksaan lebih lanjut. (rel/mea)

SIANTAR, METRODAILY – Mengaku mendadak benci, seorang perempuan berusia 29 tahun, Fitri Arni Matondang, menabrakkan diri menggunakan sepeda motor ke pintu kaca  SPKT Mako Polres Pematangsiantar, Jalan Jend. Sudirman No. 08 Kel. Proklamasi Kec. Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Senin (21/2/2022) sekira pukul 07.25 pagi WIB.

Fitri yang saat itu mengenakan baju gamis dan jilbab warna hitam, melaju kencang di atas sepeda motor Honda Scoopy warna pink No. Pol BK 5856 TAK, dari arah Jalan Sutomo langsung masuk ke Mako Polres Pematangsiantar.

Penabrakan itu mengakibatkan pintu dan dinding kaca SPKT Polres Pematangsiantar pecah. Beruntung, personil polri yang saat itu sedang bertugas tidak mengalami luka-luka. Sedangkan pelaku yang tinggal di Jalan Hok Salamuddin Kelurahan Siantar Estate, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun itu mengalami luka lecet pada dahi kiri, dan langsung dibawa ke Klinik Polres Pematangsiantar untuk dilakukan tindakan medis.

Saat diinterogasi, pelaku mengaku saat itu berangkat dari rumahnya di Jalan Hok Salamuddin mengendarai sepeda motor menuju pesantren Mahabaturrosul SAW Jln. Sidomulyo Kel. Simarimbun Kec. Siantar Marimbun Kota Pematangsiantar. Ia berniat mengundang H Ustad. Syahban Siregar selaku pimpinan Ponpes Mahabaturrosul SAW, untuk rencana pernikahan pelaku.

Perempuan muda yang menabrak Kantor SPKT Polres Pematangsiantar, Senin (21/3/2022) pagi. Ia mengaku benci karena laskar FPI ditembak dan HRS ditangkap.

Dalam perjalanan menuju pesantren, tepatnya di Jalan Sutomo, pelaku melihat polisi yang sedang melaksanakan gatur lalu-lintas pagi. Tiba-tiba pelaku merasa benci dan langsung berniat melakukan penyerangan. Selanjutnya, pelaku mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi menuju Mako Polres Pematangsiantar, dan menerobos gerbang hingga menabrak pintu kaca SPKT Polres Pematangsiantar.

“Pelaku mengaku sakit hati terhadap polisi yang melakukan penembakan terhadap laskar FPI di KM 50, beberapa waktu lalu,” kata sumber di kepolisian.

Pelaku yang sudah menikah dua kali itu juga mengaku tidak terima terhadap aparat kepolisian yang menangkap Habib Rizieq Shihab. Pelaku mengaku melakukan aksi pengerusakan dalam keadaan sadar dengan tujuan masuk surge, demi membela Habib Rizieq Shihab yang dianggap nabi.

Baca Juga :  L-300 Vs Truk, Dua Warga Humbahas Tewas

Adapun pelaku sehari-hari belajar agama melalui media sosial Youtube, dengan menonton Channel Youtube Nabawi TV.

Orangtua pelaku berinisial MS, saat diperiksa mengaku putrinya itu pernah bersekolah di SD Negeri di Jalan Kertas Kel. Siopat Suhu Kec. Siantar Timur. Selanjutnya melanjutkan sekolah ke SMP Sultan Agung Jalan Surabaya, dan SMA di Sultan Agung namun kemudian pindah ke SMA Kartika karena menghina agama lain.

Kelas 1 SMA, pelaku mengalami kecelakaan, dan saat duduk di kelas 3 SMA, menurut orangtuanya Fitri mulai bertingkah yang tidak wajar. Selanjutnya tahun 2014, pelaku masuk ke UISU  Jalan Johor mengambil jurusan Kedokteran, namun bertahan hanya atu semester karena tidak mampu mengikuti pelajaran.

Keluar dari Fakulatas Kedokteran UISU, pelaku berjualan tas online selama satu tahun. Selanjutnya tahun 2015, pelaku masuk ke UISU Kabupaten Simalungun mengambil jurusan Agama Islam, dan tamat tahun 2019 dengan gelar SPDI (Sarjana Pendidikan Agama Islam).

Tahun 2019, pelaku menikah dengan teman kuliahnya berinisial RF, mengaku mengalami KDRT, mengadukan suami ke Polres Simalungun, dan mengajukan cerai.

Tahun itu juga, pelaku masuk Pesantren Annur di Karangbangun selama tiga bulan.

Selanjutnya, pelaku menikah siri dengan WTG, seorang jemaat tabligh dari Binjai, yang dijodohkan oleh temannya ketika di pesantren. Selama menikah, pelaku mengikuti WTG dan menetap di Binjai. Namun sang suami hanya berdakwah (tidak bekerja) dan tidak mampu menafkahi pelaku, bahkan sang suami menjual 1 unit mobil milik pelaku, pelaku memilih berpisah dengan WTG.

Belakangan, WTG kembali mengajak rujuk pelaku, dengan syarat harus menikah kembali dengan seorang laki-laki yang berasal dari Pekanbaru, yang dipilih langsung oleh WTG.

Hasil penggeledahan unit identifikasi Sat Reskrim Polres Pematangsiantar di kamar pelaku di rumahnya di Jalan Hok Salammudin, ditemukan kitab suci dan buku-buku lainnya. Termasuk buku catatan harian. Selanjutnya pelaku diamankan di Unit Reskrim untuk pemeriksaan lebih lanjut. (rel/mea)

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/