30.6 C
Medan
Monday, January 30, 2023

35 Ribu Pengguna PayPal Korban Hacker

JAKARTA, METRODAILY – Saat ini isu keamanan siber menjadi semakin sensitif di tengah tumbuhnya berbagai platform digital. Penggunaannya yang sangat massif sekarang juga menjadi kelemahan tersendiri.

Nggak hanya bagi pengguna akhir atau level konsumen, di kalangan pemilik platform IT, hal ini juga menjadi masalah serius. Ancaman oleh para hacker membuat penyedia platform digital saat ini ketar-ketir.

Bahkan sekelas Facebook, Twitter, WhatsApp, dan petinggi teknologi lainnya menghadapi masalah tersebut. Sekarang giliran PayPal.

Baru-baru ini malahan PayPal telah mengirimkan pesan kepada pengguna tentang kebocoran data yang mereka alami. Karena serangan peretas, 35.000 data pengguna PayPal dikabarkan jatuh ke tangan oknum jahat.

The Sun mengabarkan bahwa serangan yang menimpa PayPal terjadi antara 6 dan 8 Desember 2022 lalu. Kemudian PayPal mengklaim telah mengambil tindakan dan mulai meninjau cara para peretas memperoleh akses ke akun tersebut.

Itu berakhir beberapa hari yang lalu. Pada 20 Desember, layanan keamanan platform mengatakan bahwa pihak ketiga mengakses akun pengguna PayPal. Tapi ini bukan karena kerentanan PayPal.

Baca Juga :  Arab Saudi Cari Cara Rujuk dengan Israel

Peretas menggunakan metode “pengisian kredensial”. Di dalamnya, perangkat lunak melewati kombinasi kredensial yang diperoleh peretas selama kebocoran sebelumnya.

Artinya, login dan password pengguna PayPal bisa “digabung” dari situs lain tadi. Mereka dapat mengakses data pengguna dari akun yang tidak menggunakan autentikasi dua faktor.

Menanggapi hal ini, PayPal juga telah mengatur ulang kata sandi akun PayPal yang rentan dan mulai mengharuskan pengguna untuk mengatur kata sandi baru saat berikutnya mereka masuk ke akun mereka.

Seperti sudah disinggung di atas, insiden keamanan siber belakangan memang banyak terjadi. Pada akhir Desember lalu, dilaporkan bahwa penjahat siber menjual data pribadi dari 400 juta akun pengguna Twitter.

Messenger WhatsApp juga menghadapi masalah seperti itu dengan sekitar 487 juta nomor pengguna disiapkan untuk dijual di forum web gelap. Pada akhir November, kumpulan data berisi jumlah pengguna WhatsApp dari 84 negara di seluruh dunia, hampir seperempat dari semua pengguna aplikasi. (jp)

JAKARTA, METRODAILY – Saat ini isu keamanan siber menjadi semakin sensitif di tengah tumbuhnya berbagai platform digital. Penggunaannya yang sangat massif sekarang juga menjadi kelemahan tersendiri.

Nggak hanya bagi pengguna akhir atau level konsumen, di kalangan pemilik platform IT, hal ini juga menjadi masalah serius. Ancaman oleh para hacker membuat penyedia platform digital saat ini ketar-ketir.

Bahkan sekelas Facebook, Twitter, WhatsApp, dan petinggi teknologi lainnya menghadapi masalah tersebut. Sekarang giliran PayPal.

Baru-baru ini malahan PayPal telah mengirimkan pesan kepada pengguna tentang kebocoran data yang mereka alami. Karena serangan peretas, 35.000 data pengguna PayPal dikabarkan jatuh ke tangan oknum jahat.

The Sun mengabarkan bahwa serangan yang menimpa PayPal terjadi antara 6 dan 8 Desember 2022 lalu. Kemudian PayPal mengklaim telah mengambil tindakan dan mulai meninjau cara para peretas memperoleh akses ke akun tersebut.

Itu berakhir beberapa hari yang lalu. Pada 20 Desember, layanan keamanan platform mengatakan bahwa pihak ketiga mengakses akun pengguna PayPal. Tapi ini bukan karena kerentanan PayPal.

Baca Juga :  Persiapan W-20 di Parapat Sesuai Skedul Pusat

Peretas menggunakan metode “pengisian kredensial”. Di dalamnya, perangkat lunak melewati kombinasi kredensial yang diperoleh peretas selama kebocoran sebelumnya.

Artinya, login dan password pengguna PayPal bisa “digabung” dari situs lain tadi. Mereka dapat mengakses data pengguna dari akun yang tidak menggunakan autentikasi dua faktor.

Menanggapi hal ini, PayPal juga telah mengatur ulang kata sandi akun PayPal yang rentan dan mulai mengharuskan pengguna untuk mengatur kata sandi baru saat berikutnya mereka masuk ke akun mereka.

Seperti sudah disinggung di atas, insiden keamanan siber belakangan memang banyak terjadi. Pada akhir Desember lalu, dilaporkan bahwa penjahat siber menjual data pribadi dari 400 juta akun pengguna Twitter.

Messenger WhatsApp juga menghadapi masalah seperti itu dengan sekitar 487 juta nomor pengguna disiapkan untuk dijual di forum web gelap. Pada akhir November, kumpulan data berisi jumlah pengguna WhatsApp dari 84 negara di seluruh dunia, hampir seperempat dari semua pengguna aplikasi. (jp)

Most Read

Artikel Terbaru

Lazio Gagal Kudeta Inter

Atletico Menang Tipis

Liverpool Tersingkir di Piala FA

Ronaldo akan Kembali ke Eropa

Arema FC Pertimbangkan Bubar