Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Jembatan Arboreal Martabe: Jalan Tol Mini Lutung dan Monyet di Atas Tambang

Editor Satu • Rabu, 29 Oktober 2025 | 11:00 WIB
Lutung: Dua ekor lutung melintas di atas jembatan arboreal di kawasan Tambang Emas Martabe, Sumatera Utara. Jembatan ini menghubungkan dua sisi hutan yang terfragmentasi akibat tambang.
Lutung: Dua ekor lutung melintas di atas jembatan arboreal di kawasan Tambang Emas Martabe, Sumatera Utara. Jembatan ini menghubungkan dua sisi hutan yang terfragmentasi akibat tambang.

BATANG TORU, METRODAILY – Di tengah rimbunnya hutan tropis Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, hadir sebuah inovasi menarik di Tambang Emas Martabe: jembatan arboreal. Tali-tali panjang melintang menghubungkan dua sisi hutan yang terfragmentasi akibat aktivitas tambang. Bukan untuk manusia, melainkan untuk satwa arboreal — lutung, monyet, tupai, dan lainnya — agar mereka tetap bisa bergerak bebas di kanopi tanpa terganggu oleh kegiatan tambang.

Bagi para primata, jembatan ini ibarat jalan tol mini yang menghubungkan habitat-habitat mereka. Satwa kini tidak lagi terjebak pada dua sisi hutan yang terpotong. Mereka kembali punya pilihan. Dan di hutan, punya pilihan berarti peluang bertahan hidup.

“Lutung dan monyet sering kehilangan jalur alami karena pembangunan jalan tambang. Dengan jembatan ini, satwa bisa hidup normal, meski hutan di sekitarnya digunakan untuk operasi tambang,” ujar Mahmud Subagya, Manager Environmental PT Agincourt Resources (PTAR) -- pengelola Tambang Emas Martabe.

Sebelum tambang berdiri, hutan Batang Toru adalah habitat primata arboreal, termasuk Orangutan Tapanuli. Kini, hutan yang dulunya belantara sebagian menjadi blok-blok akibat adanya jalan tambang. Untuk itu, sejak empat tahun lalu, PTAR membentuk Panel Penasihat Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Advisory Panel/BAP), yang terdiri dari para ahli habitat, fauna, dan konservasi ekosistem.

“Setelah mendengarkan masukan dari tim BAP inilah PTAR membuat jembatan arboreal. Arboreal menjadi jalur aman bagi satwa yang sehari-hari hidup di pepohonan agar tetap dapat melintas tanpa harus turun ke tanah,” lanjut Mahmud.

Kalau para satwa turun ke jalan tambang, risikonya tinggi. Bisa bertemu kendaraan berat atau terjebak di area operasional. “Dengan jembatan arboreal, kita ciptakan jalan tol khusus satwa,” tambahnya.

 

Huliap: Seekor huliap terlihat meniti tali jembatan arboreal di Tambang Emas Martabe. Jembatan ini memberi akses aman bagi satwa arboreal untuk menjelajah habitat tanpa terganggu aktivitas manusia.
Huliap: Seekor huliap terlihat meniti tali jembatan arboreal di Tambang Emas Martabe. Jembatan ini memberi akses aman bagi satwa arboreal untuk menjelajah habitat tanpa terganggu aktivitas manusia.

Inovasi yang Ramah Alam

Jembatan arboreal dibangun dari sabuk kelapa dan polypropylene ramah lingkungan. Bahan tali ini dipilih karena kuat, lentur, tahan cuaca lembap tropis, dan tidak melukai cakar atau telapak satwa.

Desain jembatan dirancang agar tidak membebani pohon penyangga. Konstruksi juga memperhatikan kestabilan terhadap angin kencang dan hujan tropis, sambil tetap menjaga tanah dan akar pohon di bawahnya.

“Setiap jembatan arboreal yang digunakan dikalkulasi agar beban gravitasi dan getaran minimal, sehingga pepohonan tetap sehat,” kata Syaiful Anwar, Superintendent Environmental Site Support PTAR.

Sebelum pemasangan, tim lingkungan PTAR membuat peta pergerakan satwa (animal movement mapping). Mereka mengidentifikasi pohon penopang, jalur jelajah satwa, ketinggian kanopi, dan jarak lompatan alami primata. Titik penahan dipasang secara fleksibel agar tetap stabil ketika dipijak atau dilompati.

Tujuannya jelas: jembatan harus selaras dengan jalan alami satwa, bukan memaksa satwa beradaptasi dengan jalur baru.

“Primata punya ingatan lanskap yang kuat. Jika jembatan dipasang sembarangan — terlalu rendah, terlalu jauh dari kanopi, atau di rute yang salah — mereka tidak akan memakainya,” jelas Syaiful.

Rata-rata jembatan dipasang pada ketinggian kanopi natural crossing, sehingga satwa merasa ‘sedang berada di atas pohon’, bukan di ruang terbuka.

Pemasangan oleh tim teknis kerap memakan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari, karena harus dilakukan tanpa merusak vegetasi sekitar. Di lokasi Tambang Emas Martabe yang dikelola PTAR, jembatan arboreal dipasang di beberapa area, dengan total 13 jembatan. Panjang jembatan mencapai puluhan meter, menghubungkan dua area hutan yang sebelumnya terputus.

Setelah pemasangan selesai, PTAR memasang kamera trap di setiap jembatan arboreal untuk memantau pergerakan primata yang melintas. Data direkam dan dianalisis secara berkala. Bila satwa belum lewat, posisi atau ketinggian bisa disesuaikan.

“Prinsipnya, pemasangan hanya 10 persen dari pekerjaan. Monitoring adalah 90 persennya,” kata Syaiful.

Hasilnya mulai terlihat: beberapa primata terekam menyeberang dengan aman.

“Rekaman kamera trap menunjukkan lutung, monyet, dan tupai memanfaatkan jembatan secara rutin. Tupai raksasa Malaya, musang palem bergigi kecil, hingga burung hutan kecil juga menggunakan jembatan sebagai sarana berpindah dan bertengger,” ungkapnya.

Setahun terakhir, monitoring menunjukkan pola menarik: beberapa spesies primata memilih lewat menjelang subuh, sementara yang lain setelah matahari tinggi. Ada pula yang melintas berkelompok, seolah memastikan ada penjaga di depan dan belakang.

Data ini menjadi bahan penting bagi studi keanekaragaman hayati Batang Toru, memperlihatkan bahwa tali sederhana adalah hasil perpaduan biologi konservasi, etologi, dan manajemen tambang modern.

Seekor monyet hitam Sumatera menyeberang jembatan arboreal di hutan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Infrastruktur ini meminimalkan risiko satwa turun ke tanah dan bertemu kendaraan tambang.
Seekor monyet hitam Sumatera menyeberang jembatan arboreal di hutan Batang Toru, Tapanuli Selatan. Infrastruktur ini meminimalkan risiko satwa turun ke tanah dan bertemu kendaraan tambang.

Mitigasi Fragmentasi Habitat

Jembatan arboreal juga memiliki fungsi edukatif bagi pekerja tambang. Para pekerja mendapat pengalaman unik saat melintas di sekitar jembatan: lutung yang bergelantungan, monyet yang lincah melompat di atas tali, hingga tupai raksasa menjadi pemandangan menarik.

“Pas jam makan siang, tanpa sengaja menoleh ke arah arboreal yang terlihat dari tempat makan. Kadang-kadang ada keluarga lutung yang lewat. Mereka santai saja meniti tali-tali itu,” ujar Nova Malinda Harahap, staf keuangan tambang.

Melihat ibu lutung menggendong anaknya, didampingi jantan yang memandu pergerakan, membuat Nova menyadari jembatan arboreal sebagai simbol harmoni antara industri dan alam. “Ternyata kegiatan ekonomi dan konservasi dapat berjalan berdampingan,” katanya seraya tersenyum.

Rekaman kamera jebak yang menunjukkan berbagai primata memanfaatkan jembatan sepanjang hari dan malam, membuktikan efektivitas jembatan dalam mitigasi fragmentasi, sehingga primata dan hewan arboreal lainnya dapat hidup berdampingan dengan manusia.

“Melalui jembatan ini, kami belajar menghargai ekosistem. Penting untuk membangun infrastruktur tanpa merusak habitat satwa,” kata Katarina Siburian, Manajer Komunikasi PTAR.

Selain membangun jembatan, PTAR juga menjalankan berbagai program rehabilitasi dan konservasi: survei biodiversitas flora dan fauna, pemulihan habitat hutan, studi pohon pakan primata, pengayaan tanaman lokal dan pakan primata, serta laboratorium mikologi, biodiversitas, dan mikrobiologi.

“Perusahaan juga mengedukasi karyawan dan masyarakat agar tidak berburu atau memberi makan satwa,” tegas Mahmud Subagya. “Primata seharusnya lebih takut bertemu warga dibanding seragam oranye karyawan. Kalau bertemu karyawan, ambil foto saja,” ujarnya.

Dengan jembatan arboreal dan program konservasi, Tambang Martabe menunjukkan bahwa ekstraksi sumber daya alam dapat berjalan selaras dengan pelestarian. Arboreal bridge bukan proyek simbolis, melainkan benar-benar bekerja sebagai solusi. “Bagi kita, itu hanyalah tali. Tapi bagi satwa, itu jembatan hidup,” ujar Mahmud.

 

Biodiversitas: Napas Hutan Batang Toru

Hutan Batang Toru adalah kantong biodiversitas penting, habitat spesies arboreal endemik. Keberadaan satwa seperti owa, lutung hitam, dan kukang sumatera menjadi penanda bahwa hutan masih berfungsi baik.

Pembangunan jembatan arboreal merupakan bagian dari Program Konservasi Keanekaragaman Hayati PTAR, termasuk inventarisasi satwa, penanaman pohon pakan alami, dan pelatihan masyarakat untuk memantau keberadaan satwa.

“Kami tidak sekadar menanam pohon. Jenis-jenis yang dipilih memang untuk mendukung hidup satwa arboreal,” jelas Mahmud.

Dengan filosofi Living in Harmony, Agincourt menggabungkan kegiatan tambang dengan perlindungan biodiversitas melalui riset dan keterlibatan masyarakat. “Kalau tambang selesai, yang harus tertinggal bukan lubang, tapi hutan yang tetap hidup dan satwa arboreal yang masih bisa melintas bebas,” tutup Mahmud.

Kini, jembatan arboreal Martabe menjadi ikon inovasi hijau, bukti bahwa industri tambang dapat beroperasi berdampingan dengan alam.

“Ke depan, model konservasi seperti ini bisa diterapkan di lokasi lain. Ini bukan hanya soal tambang, tapi soal masa depan ekosistem kita,” tambah Mahmud.

Melalui pendekatan ilmiah, pemantauan ketat, dan desain ramah lingkungan, PTAR menunjukkan bahwa koeksistensi manusia dan primata bukan sekadar idealisme, tetapi praktik nyata. (dame ambarita)

Editor : Editor Satu
#Tambang Emas Martabe #PTAR #primata #jembatan arboreal #Agincourt Resources