alexametrics
30.6 C
Medan
Friday, August 19, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Siswi SD Olah Minyak Jelantah jadi Sabun

iklan-usi

Bagi banyak orang, jelantah dianggap sampah yang tak berguna. Namun, bagi Shaqilla, itu jadi benda berharga. Di tangan siswi kelas V SDN Kaliasin I tersebut, jelantah disulap jadi sabun. Tidak hanya itu, dia juga membuat kampung binaan untuk mengedukasi masyarakat di tempat tinggalnya, Legundi.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

SHAQILLA terlihat sibuk kemarin saat mengumpulkan jelantah dari warga di sekitar rumahnya. Sehari-hari Chilla, sapaan Shaqilla Calysta Shaki, memang rutin menerima donasi jelantah. Baik dalam ukuran kecil, sedang, maupun besar. Lokasi penerimaan jelantah itu dinamainya STMJ Station. Singkatan dari Sabun Terkini Minyak Jelantah Station.

Dari sanalah, jelantah-jelantah itu dikelola olehnya menjadi sabun yang sebagian besar tidak dijualnya, tetapi diberikan kepada warga. ”Jadi, ini murni kerja-kerja aktivis lingkungan. Dari awal, saya tidak mengejar keuntungan,” ungkapnya.

Setiap warga yang menyerahkan jelantah akan diberi sabun padat atau cair. ”Sabun itu layak pakai. Dan sangat bagus untuk membiasakan masyarakat bersih dan taat prokes,” katanya.

Hal itulah yang membuat dia memantapkan diri untuk membuat sabun.
”Awalnya, mau buat aromaterapi. Tapi, saya pikir-pikir, ini kan pandemi, kenapa enggak buat sabun aja. Kan lebih berguna,” ujarnya.
Saat ditanya apakah sabun tersebut steril atau tidak, Chilla memastikan aman. Hanya, ke depan dia perlu mematangkan usaha tersebut.

”Sehingga, saat ini sedang diuji di Kementerian Kesehatan. Saya masih menunggu hasil uji labnya keluar. Itu juga arahan dari wali kota,” tuturnya.

Sembari menunggu hasil itu, Chilla terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat, tidak hanya di kampungnya. Setidaknya, dia juga melakukan sosialisasi ke kampung lain seperti Kedung Klinter, Medokan Semampir, Kedung Antar, Manukan Subur, Krembangan Utara, Jetis Kulon, dan Lempung.

Baca Juga :  Cerita-cerita Para Pengoleksi Tusuk Gigi

”Semakin banyak yang dijangkau. Semakin banyak yang peduli,” ujarnya.
Bagaimanapun, jelantah merupakan limbah berbahaya jika terbuang ke tanah, terlebih ke laut/sungai. Seperti diketahui, 1 liter minyak jelantah ternyata bisa mencemari 100 juta liter air. Bahkan, limbah minyak jelantah yang dibuang di perairan dapat merusak ekosistem dalam air. ”Kan kalau 1 liter itu dikumpulkan ke saya, bisa saya olah,” paparnya.

Dia menerangkan, bahan sabun yang digunakannya terdiri atas 300 gr minyak jelantah yang sudah disaring dengan arang aktif, 65 gr KaOH yang sudah dilarutkan dengan air, pewangi, pewarna, 1.650 gr air, serta daun sirih atau binahong sebagai antibakteri. ”Semua bahan itu sudah pada kadar yang aman,” tambahnya.

Hingga saat ini, program tersebut didukung penuh oleh masyarakat. Bahkan, mereka tidak hanya mengumpulkan jelantah, tapi juga belajar cara pengolahannya jadi sabun. ”Saya senang. Semakin banyak kampung yang berpartisipasi, semakin berkurang pencemaran lingkungan. Dari yang kecil dulu, lalu jadi besar,” kata siswi yang hobi public speaking itu.

Atas upayanya sejak Februari 2021 itu, kini Chilla diganjar penghargaan sebagai Putri Lingkungan Hidup 2021 Kategori SD oleh Tunas Hijau dan Pemkot Surabaya. ”Lewat amanah ini, saya punya tugas yang lebih besar lagi dalam mengedukasi masyarakat luas,” jelasnya.

Chilla berharap warga, pemerintah, dan sekolah terus mendukung upayanya dalam mengampanyekan pengelolaan jelantah tersebut. (jp)

Bagi banyak orang, jelantah dianggap sampah yang tak berguna. Namun, bagi Shaqilla, itu jadi benda berharga. Di tangan siswi kelas V SDN Kaliasin I tersebut, jelantah disulap jadi sabun. Tidak hanya itu, dia juga membuat kampung binaan untuk mengedukasi masyarakat di tempat tinggalnya, Legundi.

FAJAR ANUGRAH TUMANGGOR, Surabaya

SHAQILLA terlihat sibuk kemarin saat mengumpulkan jelantah dari warga di sekitar rumahnya. Sehari-hari Chilla, sapaan Shaqilla Calysta Shaki, memang rutin menerima donasi jelantah. Baik dalam ukuran kecil, sedang, maupun besar. Lokasi penerimaan jelantah itu dinamainya STMJ Station. Singkatan dari Sabun Terkini Minyak Jelantah Station.

Dari sanalah, jelantah-jelantah itu dikelola olehnya menjadi sabun yang sebagian besar tidak dijualnya, tetapi diberikan kepada warga. ”Jadi, ini murni kerja-kerja aktivis lingkungan. Dari awal, saya tidak mengejar keuntungan,” ungkapnya.

Setiap warga yang menyerahkan jelantah akan diberi sabun padat atau cair. ”Sabun itu layak pakai. Dan sangat bagus untuk membiasakan masyarakat bersih dan taat prokes,” katanya.

Hal itulah yang membuat dia memantapkan diri untuk membuat sabun.
”Awalnya, mau buat aromaterapi. Tapi, saya pikir-pikir, ini kan pandemi, kenapa enggak buat sabun aja. Kan lebih berguna,” ujarnya.
Saat ditanya apakah sabun tersebut steril atau tidak, Chilla memastikan aman. Hanya, ke depan dia perlu mematangkan usaha tersebut.

”Sehingga, saat ini sedang diuji di Kementerian Kesehatan. Saya masih menunggu hasil uji labnya keluar. Itu juga arahan dari wali kota,” tuturnya.

Sembari menunggu hasil itu, Chilla terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat, tidak hanya di kampungnya. Setidaknya, dia juga melakukan sosialisasi ke kampung lain seperti Kedung Klinter, Medokan Semampir, Kedung Antar, Manukan Subur, Krembangan Utara, Jetis Kulon, dan Lempung.

Baca Juga :  Kampung Bendera Darmokali Tetap Bertahan di Tengah PPKM Berjilid-jilid

”Semakin banyak yang dijangkau. Semakin banyak yang peduli,” ujarnya.
Bagaimanapun, jelantah merupakan limbah berbahaya jika terbuang ke tanah, terlebih ke laut/sungai. Seperti diketahui, 1 liter minyak jelantah ternyata bisa mencemari 100 juta liter air. Bahkan, limbah minyak jelantah yang dibuang di perairan dapat merusak ekosistem dalam air. ”Kan kalau 1 liter itu dikumpulkan ke saya, bisa saya olah,” paparnya.

Dia menerangkan, bahan sabun yang digunakannya terdiri atas 300 gr minyak jelantah yang sudah disaring dengan arang aktif, 65 gr KaOH yang sudah dilarutkan dengan air, pewangi, pewarna, 1.650 gr air, serta daun sirih atau binahong sebagai antibakteri. ”Semua bahan itu sudah pada kadar yang aman,” tambahnya.

Hingga saat ini, program tersebut didukung penuh oleh masyarakat. Bahkan, mereka tidak hanya mengumpulkan jelantah, tapi juga belajar cara pengolahannya jadi sabun. ”Saya senang. Semakin banyak kampung yang berpartisipasi, semakin berkurang pencemaran lingkungan. Dari yang kecil dulu, lalu jadi besar,” kata siswi yang hobi public speaking itu.

Atas upayanya sejak Februari 2021 itu, kini Chilla diganjar penghargaan sebagai Putri Lingkungan Hidup 2021 Kategori SD oleh Tunas Hijau dan Pemkot Surabaya. ”Lewat amanah ini, saya punya tugas yang lebih besar lagi dalam mengedukasi masyarakat luas,” jelasnya.

Chilla berharap warga, pemerintah, dan sekolah terus mendukung upayanya dalam mengampanyekan pengelolaan jelantah tersebut. (jp)

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/