23.9 C
Medan
Monday, December 5, 2022

Mengejar Mimpi jadi Petarung Indonesia Pertama di UFC

Jeka Saragih: Di Atas Ring, Lawan Siapa Saja Saya Santai

Mengenal bela diri lewat wushu dengan tujuan agar tidak dipalak, Jeka Saragih hanya butuh satu kemenangan lagi di final untuk memastikan kontrak dari UFC. Berharap bisa bertemu Presiden Jokowi untuk menyampaikan kondisi kampungnya yang jalannya rusak.

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

JEKA…Jeka…Jeka. Teriakan tersebut lantang disuarakan puluhan fans ketika Jeka Saragih menginjakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa kemarin (25/10) siang. Mulai dari spanduk hingga poster yang bertulisan namanya terpampang di area kedatangan lobi timur.

Perwakilan Pemuda Batak Bersatu hingga warga Simalungun kemudian memberi Jeka kalung bunga dan goto, aksesori penutup kepala yang khusus dikenakan pria Simalungun.
Senyumnya semakin mengembang tatkala sang istri, Destina Uliana Siahaan, yang menggendong anak hasil pernikahan mereka, Jaysen Saragih, datang menghampiri.

Sambutan luar biasa tersebut tak terlepas dari hasil yang didapat petarung asal Bah Pasunsang, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, itu. Fighter berjuluk Si Tendangan Maut tersebut berhasil mengunci tiket ke final dalam ajang Road to UFC (Ultimate Fighting Championship) setelah mengalahkan petarung Korea Selatan Won Bin-ki pada semifinal di Etihad Arena, Abu Dhabi, Minggu (23/10/2022).

”Pertama-tama, saya patut mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Pencipta karena diberi kesempatan dan kembali ke Indonesia dengan selamat dan tanpa kurang apa pun. Saya juga berterima kasih kepada teman-teman yang menyambut,’’ buka Jeka Saragih saat diwawancarai awak media.

Jeka sangat senang bisa kembali ke Indonesia dan memeluk sang putra yang sudah begitu dirindukan. Dia menyebut perjuangannya untuk bisa sampai ke final Road to UFC sangat panjang dan banyak yang dikorbankan. ”Salah satunya, meninggalkan keluarga, anak, istri, dan semua,’’ ungkapnya.

Proses latihan disebutnya juga sangat berat karena dia merasa membawa nama baik para petarung tanah air. ”Ini marwah Indonesia juga (yang harus dijaga) di kancah internasional,’’ bebernya.

Sebelum tampil di semifinal, Jeka berlatih keras di Studio 540, San Diego, Amerika Serikat, selama satu bulan. Di tempat tersebut, Jeka mendapat pelatihan dari Marc Fiore, pelatih MMA (mixed martial arts) beberapa juara UFC.

Latihan keras itu akhirnya berbuah. Jeka Saragih memastikan tiket final di setengah ronde pertama alias 2 menit 41 detik dengan kemenangan KO atas murid petarung top UFC Chan Sun-jung alias Zombie Korea tersebut. ”Kemarin (sebelum pertandingan semifinal) pelatih instruksikan ketika ada kesempatan habisi,’’ bebernya.

Di final pada Februari 2023 di Korea Selatan, Jeka bakal menghadapi Anshul Jubli, petarung asal India yang juga mengalahkan atlet Korea, Kyung Pyo-kim. Jeka tak gentar dengan lawan yang memiliki julukan King of Lions itu.

”Kalau saya, mau lawan dari mana saja santai. Yang penting, di atas ring dihabisin saja. Disikat. Saya optimistis. Kalau tidak optimistis, ngapain. Lebih baik berhenti di Jakarta saja,’’ katanya.

Menurut dia, hasil latihan di San Diego menjadi salah satu faktor positif yang membuatnya bisa mengalahkan lawan dengan cepat. Dia mengaku banyak perubahan yang didapat.

”Karena pelatih juga memberikan bukan hanya dari segi teknik, tapi juga mental dan kepercayaan diri. Karena dalam latihan itu, hati dan pikiran kita juga harus menikmati latihan tersebut,” bebernya.

Jeka Saragih sangat ingin tampil di UFC dan melawan banyak petarung hebat. ”Banyak (yang mau dilawan), tapi kan belum bisa kita ungkapkan karena kita harus ambil dulu kontrak dari UFC,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Jeka Asparido Saragih Disambut Bupati dan Forkopimda Simalungun

UFC adalah perusahaan yang sampai dengan 2022 telah menghelat 600 event MMA. Dikomandani Dana White sejak 2001, UFC yang mempertarungkan 12 kelas (8 putra dan 4 putri) tumbuh menjadi industri besar kelas dunia.

Fransino Tirta, manajer Jeka, menjelaskan bahwa finalis akan mendapatkan opsi untuk dikontrak. Hanya, keputusan akhir tetap ada di UFC. ”Jadi, pastinya jika ingin langsung dapat kontrak, Jeka harus memenangkan ajang ini,’’ ungkapnya.

Ketua Dewan Juri One Pride MMA Max Metino menambahkan, berdasar perhitungannya, kalaupun nanti Jeka tidak berhasil menang di final, masih ada kemungkinan untuk mendapatkan kontrak dari UFC. ”Walaupun menang atau kalah, promotor UFC pastinya melihat performa Jeka yang dengan pukulan knockout-nya membuat lawan KO seketika. Itu mereka (UFC) pasti tertarik,’’ bebernya.

Menurut dia, itu capaian besar Sebab, sepanjang sejarah UFC yang dimulai sejak 1993, belum ada satu pun fighter Indonesia yang mampu menembus final Road to UFC.

Di final nanti, kata dia, kans Jeka untuk bisa menang sangat besar. Apalagi Jeka dianggapnya sangat eksplosif hingga akhirnya bisa mengalahkan Won Bin-ki yang merupakan unggulan untuk bisa juara di kelas lightweight.

”Bayangkan Jeka hampir tidak masuk dalam seleksi, tapi akhirnya masuk yang terakhir. Dari lima kandidat itu, ternyata dia membuktikan bahwa dia yang paling pantas dan maju sampai babak final. Jeka menghadapi Won Bin-ki hanya butuh satu ronde,’’ ucapnya bangga.

Ada lima petarung Indonesia yang mengikuti Road to UFC. Namun, empat di antaranya gagal di opening round.

Pertautan Jeka Saragih dengan bela diri dimulai sejak masih di bangku SMP dengan bergabung di ekstrakurikuler wushu. Motivasinya saat itu hanya ingin melindungi diri.
”Latihan mulai SMP itu ada faktor dipalakin orang juga. Saya kan jauh dari kota, ngekos. Ya, anak kampunglah,’’ ungkapnya.

Saat itu, senioritas masih sangat kental. Misalnya, ada senior yang mau makan dan merokok, juniorlah yang harus membelikan. ”Kan nggak fair lah, dipalakin. Ya, saya kasihan juga sama adik-adik saya. Jadilah seperti ini (belajar bela diri),’’ ujarnya.

Kariernya di wushu sebenarnya cukup baik dengan berhasil menang dalam kejuaraan nasional di Jogjakarta pada 2013. Seharusnya, Jeka tampil di PON Jawa Barat 2016.
”Dikatakan orang tua untuk apa itu. Nggak ada ini masa depannya. Lalu, mainlah saya ke Batam,’’ ceritanya.

Di Batam, dia tetap berlatih dan magang di sasana Batam Fighter Club (BFC). Dari situ Jeka ditawari tampil di ajang One Pride TVOne oleh sang pemilik BFC, Yakob Sucipto.

Pria kelahiran 1 Januari 1995 itu mengiyakan tawaran tersebut yang akhirnya membukakan jalannya menuju Road to UFC. Di laga debut di One Pride pada 2016, Jeka takluk oleh Kevin Sulistio. Namun sejak kekalahan tersebut, Jeka hanya menelan satu kekalahan lagi dari Angga Hans pada 2020. Setelah itu, 13 kemenangan, termasuk di semifinal Road to UFC, berhasil dia catat.

Di luar urusan ring, Jeka Saragih mengaku ingin sekali bertemu Presiden Joko Widodo. Sebab, ada harapan yang hendak dia sampaikan langsung. ”Kampung saya itu dikenal dengan jalannya yang rusak. Itu harapan besar saya, semoga kampung saya bisa dibangun. Kami ingin dibangun karena di sana itu banyak yang tidak terceritakan,’’ harapnya. (*/c6/ttg/jp)

Mengenal bela diri lewat wushu dengan tujuan agar tidak dipalak, Jeka Saragih hanya butuh satu kemenangan lagi di final untuk memastikan kontrak dari UFC. Berharap bisa bertemu Presiden Jokowi untuk menyampaikan kondisi kampungnya yang jalannya rusak.

RIZKY AHMAD FAUZI, Jakarta

JEKA…Jeka…Jeka. Teriakan tersebut lantang disuarakan puluhan fans ketika Jeka Saragih menginjakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa kemarin (25/10) siang. Mulai dari spanduk hingga poster yang bertulisan namanya terpampang di area kedatangan lobi timur.

Perwakilan Pemuda Batak Bersatu hingga warga Simalungun kemudian memberi Jeka kalung bunga dan goto, aksesori penutup kepala yang khusus dikenakan pria Simalungun.
Senyumnya semakin mengembang tatkala sang istri, Destina Uliana Siahaan, yang menggendong anak hasil pernikahan mereka, Jaysen Saragih, datang menghampiri.

Sambutan luar biasa tersebut tak terlepas dari hasil yang didapat petarung asal Bah Pasunsang, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, itu. Fighter berjuluk Si Tendangan Maut tersebut berhasil mengunci tiket ke final dalam ajang Road to UFC (Ultimate Fighting Championship) setelah mengalahkan petarung Korea Selatan Won Bin-ki pada semifinal di Etihad Arena, Abu Dhabi, Minggu (23/10/2022).

”Pertama-tama, saya patut mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Pencipta karena diberi kesempatan dan kembali ke Indonesia dengan selamat dan tanpa kurang apa pun. Saya juga berterima kasih kepada teman-teman yang menyambut,’’ buka Jeka Saragih saat diwawancarai awak media.

Jeka sangat senang bisa kembali ke Indonesia dan memeluk sang putra yang sudah begitu dirindukan. Dia menyebut perjuangannya untuk bisa sampai ke final Road to UFC sangat panjang dan banyak yang dikorbankan. ”Salah satunya, meninggalkan keluarga, anak, istri, dan semua,’’ ungkapnya.

Proses latihan disebutnya juga sangat berat karena dia merasa membawa nama baik para petarung tanah air. ”Ini marwah Indonesia juga (yang harus dijaga) di kancah internasional,’’ bebernya.

Sebelum tampil di semifinal, Jeka berlatih keras di Studio 540, San Diego, Amerika Serikat, selama satu bulan. Di tempat tersebut, Jeka mendapat pelatihan dari Marc Fiore, pelatih MMA (mixed martial arts) beberapa juara UFC.

Latihan keras itu akhirnya berbuah. Jeka Saragih memastikan tiket final di setengah ronde pertama alias 2 menit 41 detik dengan kemenangan KO atas murid petarung top UFC Chan Sun-jung alias Zombie Korea tersebut. ”Kemarin (sebelum pertandingan semifinal) pelatih instruksikan ketika ada kesempatan habisi,’’ bebernya.

Di final pada Februari 2023 di Korea Selatan, Jeka bakal menghadapi Anshul Jubli, petarung asal India yang juga mengalahkan atlet Korea, Kyung Pyo-kim. Jeka tak gentar dengan lawan yang memiliki julukan King of Lions itu.

”Kalau saya, mau lawan dari mana saja santai. Yang penting, di atas ring dihabisin saja. Disikat. Saya optimistis. Kalau tidak optimistis, ngapain. Lebih baik berhenti di Jakarta saja,’’ katanya.

Menurut dia, hasil latihan di San Diego menjadi salah satu faktor positif yang membuatnya bisa mengalahkan lawan dengan cepat. Dia mengaku banyak perubahan yang didapat.

”Karena pelatih juga memberikan bukan hanya dari segi teknik, tapi juga mental dan kepercayaan diri. Karena dalam latihan itu, hati dan pikiran kita juga harus menikmati latihan tersebut,” bebernya.

Jeka Saragih sangat ingin tampil di UFC dan melawan banyak petarung hebat. ”Banyak (yang mau dilawan), tapi kan belum bisa kita ungkapkan karena kita harus ambil dulu kontrak dari UFC,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Sabarudin Ginting, Jenderal Perantauan yang Bangga jadi Anak Kisaran

UFC adalah perusahaan yang sampai dengan 2022 telah menghelat 600 event MMA. Dikomandani Dana White sejak 2001, UFC yang mempertarungkan 12 kelas (8 putra dan 4 putri) tumbuh menjadi industri besar kelas dunia.

Fransino Tirta, manajer Jeka, menjelaskan bahwa finalis akan mendapatkan opsi untuk dikontrak. Hanya, keputusan akhir tetap ada di UFC. ”Jadi, pastinya jika ingin langsung dapat kontrak, Jeka harus memenangkan ajang ini,’’ ungkapnya.

Ketua Dewan Juri One Pride MMA Max Metino menambahkan, berdasar perhitungannya, kalaupun nanti Jeka tidak berhasil menang di final, masih ada kemungkinan untuk mendapatkan kontrak dari UFC. ”Walaupun menang atau kalah, promotor UFC pastinya melihat performa Jeka yang dengan pukulan knockout-nya membuat lawan KO seketika. Itu mereka (UFC) pasti tertarik,’’ bebernya.

Menurut dia, itu capaian besar Sebab, sepanjang sejarah UFC yang dimulai sejak 1993, belum ada satu pun fighter Indonesia yang mampu menembus final Road to UFC.

Di final nanti, kata dia, kans Jeka untuk bisa menang sangat besar. Apalagi Jeka dianggapnya sangat eksplosif hingga akhirnya bisa mengalahkan Won Bin-ki yang merupakan unggulan untuk bisa juara di kelas lightweight.

”Bayangkan Jeka hampir tidak masuk dalam seleksi, tapi akhirnya masuk yang terakhir. Dari lima kandidat itu, ternyata dia membuktikan bahwa dia yang paling pantas dan maju sampai babak final. Jeka menghadapi Won Bin-ki hanya butuh satu ronde,’’ ucapnya bangga.

Ada lima petarung Indonesia yang mengikuti Road to UFC. Namun, empat di antaranya gagal di opening round.

Pertautan Jeka Saragih dengan bela diri dimulai sejak masih di bangku SMP dengan bergabung di ekstrakurikuler wushu. Motivasinya saat itu hanya ingin melindungi diri.
”Latihan mulai SMP itu ada faktor dipalakin orang juga. Saya kan jauh dari kota, ngekos. Ya, anak kampunglah,’’ ungkapnya.

Saat itu, senioritas masih sangat kental. Misalnya, ada senior yang mau makan dan merokok, juniorlah yang harus membelikan. ”Kan nggak fair lah, dipalakin. Ya, saya kasihan juga sama adik-adik saya. Jadilah seperti ini (belajar bela diri),’’ ujarnya.

Kariernya di wushu sebenarnya cukup baik dengan berhasil menang dalam kejuaraan nasional di Jogjakarta pada 2013. Seharusnya, Jeka tampil di PON Jawa Barat 2016.
”Dikatakan orang tua untuk apa itu. Nggak ada ini masa depannya. Lalu, mainlah saya ke Batam,’’ ceritanya.

Di Batam, dia tetap berlatih dan magang di sasana Batam Fighter Club (BFC). Dari situ Jeka ditawari tampil di ajang One Pride TVOne oleh sang pemilik BFC, Yakob Sucipto.

Pria kelahiran 1 Januari 1995 itu mengiyakan tawaran tersebut yang akhirnya membukakan jalannya menuju Road to UFC. Di laga debut di One Pride pada 2016, Jeka takluk oleh Kevin Sulistio. Namun sejak kekalahan tersebut, Jeka hanya menelan satu kekalahan lagi dari Angga Hans pada 2020. Setelah itu, 13 kemenangan, termasuk di semifinal Road to UFC, berhasil dia catat.

Di luar urusan ring, Jeka Saragih mengaku ingin sekali bertemu Presiden Joko Widodo. Sebab, ada harapan yang hendak dia sampaikan langsung. ”Kampung saya itu dikenal dengan jalannya yang rusak. Itu harapan besar saya, semoga kampung saya bisa dibangun. Kami ingin dibangun karena di sana itu banyak yang tidak terceritakan,’’ harapnya. (*/c6/ttg/jp)

Most Read

Artikel Terbaru

/