alexametrics
30.6 C
Medan
Friday, August 19, 2022

iklanpemko
iklanpemko

SS-1, Satelit Karya Mahasiswa Indonesia yang Segera Mengorbit

Berfungsi seperti Memasang Kabel Komunikasi, tapi di Luar Angkasa

iklan-usi

Satelit nano SS-1 karya Muhammad Zulfa Dhiya’ulhaq bersama tim dari Surya University bisa mengirimkan teks seperti informasi bencana, tinggi permukaan air, dan deteksi asap. Dia dan tim mulai bekerja dengan saldo awal Rp 0.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta

ZULFA seperti bocah yang mendapatkan mainan baru begitu menerima e-mail itu. Di malam yang telah larut itu, dia sangat gembira. E-mail tersebut berasal dari Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). Isinya begitu penting untuk kelanjutan riset satelit SS-1 yang dia dan timnya lakukan sejak 2016.

’’Melalui e-mail itu, mereka mengumumkan tim kami menang,’’ kata pria bernama lengkap Muhammad Zulfa Dhiya’ulhaq tersebut kepada Jawa Pos pada akhir bulan lalu tentang e-mail yang diterimanya pada 6 Agustus 2018.

Hadiah dari kontes yang diadakan JAXA bersama United Nation Office for Outer Space Affairs (UNOOSA) pada 2017 itu adalah slot peluncuran satelit. Pria 27 tahun itu memperkirakan ongkos peluncuran satelit seukuran milik mereka sekitar Rp 625 juta jika harus membayar sendiri.

Mahalnya biaya ini kerap membuat peneliti berpikir berkali-kali untuk berinovasi satelit.
Zulfa menuturkan, rencananya peluncuran dilakukan pada Oktober tahun ini. Sebelum diluncurkan ke luar angkasa, satelit yang masuk kategori nano satelit itu dikirimkan ke Jepang pada 27 Juni. Selanjutnya, pada 4 Juli dilakukan instalasi atau pemasangan satelit SS-1 ke modul peluncurannya. Baru kemudian satelit dikirimkan ke Amerika Serikat.

Rencananya, satelit berdimensi 10 x 10 x 11,5 cm dengan volume 1 liter tersebut diluncurkan ke angkasa dengan roket kargo. ’’Jika tidak menggunakan SpaceX Dragon, bisa juga dengan Cygnus NG-18,’’ ujarnya.

Tujuan peluncurannya adalah lebih dulu dikirimkan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS). Setelah tiba di ISS, kargo akan diproses astronot yang berada di dalamnya. Nanti, oleh astronot yang bertugas di ISS, satelit nano itu dilepas ke luar angkasa menuju ke titik orbit. Pelepasan satelit nano ke orbit tidak menggunakan roket.

’’Dilepasin biasa, ada pegas dan pendorong sedikit. Sederhananya seperti ketapel,’’ jelasnya.
Zulfa bekerja bersama enam anggota tim lainnya. Mereka adalah Suhandinata, Setra Yoman Prahyang, Afiq Herdika Sulistya, Hery Steven, Roberto Gunawan, dan Correy Ananta.

Satelit SS-1 mereka rancang untuk mengorbit secara polar. Yaitu, berputar mengitari bumi melewati kutub. Berbeda dengan orbit satelit Lapan-A2 yang bersifat ekuatorial atau mengikuti garis khatulistiwa. Dalam satu hari, satelit ini akan mengitari bumi sebanyak empat sampai lima kali. Berputarnya dari utara ke selatan dan semakin bergeser ke sebelah kiri.

Setelah diluncurkan ke orbit pada Oktober 2022, satelit SS-1 ini baru berfungsi pada November 2022. Satelit ini bakal mengorbit di ketinggian 400 km di atas permukaan laut. Zulfa menjelaskan, satelit yang mereka buat didesain mengorbit sekitar satu tahun saja.

Setelah itu, satelit akan jatuh menuju bumi dan tidak menjadi sampah luar angkasa. Karena ukurannya yang tidak terlalu besar, bangkai satelit SS-1 nanti hancur sendiri terbakar lapisan atmosfer.

Dia lantas menjelaskan alasan riset satelit itu berlangsung lama. Sejak 2016 sampai satelit diluncurkan ke angkasa pada 2022. Artinya, dibutuhkan waktu selama enam tahun. Zulfa menceritakan, riset satelit SS-1 dimulai saat dirinya masih berstatus mahasiswa di Surya University. Di kampus tersebut, ada sebuah pusat riset dengan beragam kegiatan penelitian.

Mulai robot, drone, internet of things (IoT), dan lain sejenisnya. Saat itu Zulfa dan timnya berdiskusi soal penelitian yang bisa berkontribusi untuk masyarakat.

Baca Juga :  Krisis Sri Lanka, Antre BBM 2-3 Hari pun Belum Tentu Dapat

Sampai akhirnya, berkat bimbingan dari kampus, dimulailah riset inovasi satelit nano SS-1. Dia menyatakan, satelit memiliki beragam jenis. Dimulai dengan nanosatellite dengan ukuran yang paling kecil dan bobot maksimal 1,3 kg. Kemudian, ada microsatellite dengan bobot mencapai 50 kg.

Fungsi satelit SS-1 adalah membuat jaringan komunikasi alternatif untuk daerah yang tidak terjangkau sinyal GSM. Satelit itu tetap bisa mengirimkan data ke daerah-daerah tersebut.

’’Jadi, fungsi satelit SS-1 ini seperti memasang kabel komunikasi, tetapi di luar angkasa,’’ jelasnya.

Pesan yang nanti bisa dikirim melalui layanan satelit SS-1 adalah pesan teks. Pesan teks ini, misalnya, berupa informasi bencana dari daerah pedalaman, mengukur muka air, dan deteksi asap.

Intinya, sensor apa pun yang bisa mengirimkan datanya bisa ditangkap satelit tersebut. Kemudian, datanya dikirimkan kembali ke stasiun bumi yang sudah disiapkan Zulfa dan timnya. Rencananya. stasiun bumi untuk menangkap sinyal dari SS-1 dibangun di Cikarang, Kabupaten Bekasi.

Zulfa yang memulai riset satelit SS-1 saat masih duduk di semester V jurusan teknik fisika mengakui, riset satelitnya membutuhkan waktu lama. Sebab, dalam riset satelit ada istilahnya redudansi alias ketika satu sistem gagal atau failed bisa di-back up sistem cadangannya.

Tantangan lain dalam riset satelit adalah keterbatasan sumber daya. Dia memulai riset satelit SS-1 dengan saldo tim Rp 0. Namun, dia bersyukur mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dukungan BRIN dalam bentuk mentoring oleh ahli di bidang satelit. Kemudian, fasilitas laboratorium dan ruang khusus pembuatan satelit di Pusat Teknologi Satelit BRIN di Rancabungur, Kabupaten Bogor.

Selain itu, ada dukungan dari Pasifik Satelit Nusantara. Perusahaan swasta asal Indonesia tersebut yang pertama bergerak di bidang telekomunikasi berbasis satelit dan menjadi salah satu operator satelit di tanah air.

Struktur satelit SS-1 terbuat dari aluminium space grade seri 7. Kemudian, di dalamnya ada beberapa komponen elektro. Ada pula PCB (printed circuit board) untuk modul komunikasi dan modul power. Kemudian, ada juga komponen antena dan panel surya sebagai sumber energi.

Satelit ini berangkat dari kantor BRIN di Bogor, lalu ke Jepang dan menuju ke AS sampai di ISS dalam keadaan power off. Kemudian, saat satelit diluncurkan astronot ke orbit, aliran listrik mulai on. Dan, dalam tempo 30 menit berada di orbit, antena akan mengembang serta satelit berfungsi.

Dia menyatakan, solar cell di setiap sisi satelit sudah cukup untuk menyuplai daya. Listrik yang diterima akan disimpan di baterai lithium-ion. Selama mengorbit, satelit SS-1 ini mengambil tenaga listrik dari pancaran sinar matahari.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN Robertus Heru Triharjanto menyebut satelit SS-1 sebagai pionir satelit nano di Indonesia. ’’Selesainya satelit ini menjadi bukti konsistensi para mahasiswa dan pihak-pihak pendukung, termasuk BRIN,’’ katanya.

Fasilitas Pusat Teknologi Satelit BRIN sudah beroperasi sekitar 15 tahun. Sudah banyak satelit produksi BRIN atau Lapan yang diproses di pusat teknologi satelit tersebut. Fasilitas di dalamnya bisa dimanfaatkan riset satelit yang dikerjakan perguruan tinggi, start-up, maupun perusahaan swasta lainnya.

Heru berharap ke depan satelit nano dan mikro tidak hanya diproduksi BRIN, tetapi juga lembaga-lembaga lain, termasuk kalangan universitas. ’’Adanya satelit SS-1 ini menjadi titik awal kepercayaan bahwa Indonesia mampu membangun sebuah satelit,’’ ujarnya. (jp)

Satelit nano SS-1 karya Muhammad Zulfa Dhiya’ulhaq bersama tim dari Surya University bisa mengirimkan teks seperti informasi bencana, tinggi permukaan air, dan deteksi asap. Dia dan tim mulai bekerja dengan saldo awal Rp 0.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta

ZULFA seperti bocah yang mendapatkan mainan baru begitu menerima e-mail itu. Di malam yang telah larut itu, dia sangat gembira. E-mail tersebut berasal dari Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA). Isinya begitu penting untuk kelanjutan riset satelit SS-1 yang dia dan timnya lakukan sejak 2016.

’’Melalui e-mail itu, mereka mengumumkan tim kami menang,’’ kata pria bernama lengkap Muhammad Zulfa Dhiya’ulhaq tersebut kepada Jawa Pos pada akhir bulan lalu tentang e-mail yang diterimanya pada 6 Agustus 2018.

Hadiah dari kontes yang diadakan JAXA bersama United Nation Office for Outer Space Affairs (UNOOSA) pada 2017 itu adalah slot peluncuran satelit. Pria 27 tahun itu memperkirakan ongkos peluncuran satelit seukuran milik mereka sekitar Rp 625 juta jika harus membayar sendiri.

Mahalnya biaya ini kerap membuat peneliti berpikir berkali-kali untuk berinovasi satelit.
Zulfa menuturkan, rencananya peluncuran dilakukan pada Oktober tahun ini. Sebelum diluncurkan ke luar angkasa, satelit yang masuk kategori nano satelit itu dikirimkan ke Jepang pada 27 Juni. Selanjutnya, pada 4 Juli dilakukan instalasi atau pemasangan satelit SS-1 ke modul peluncurannya. Baru kemudian satelit dikirimkan ke Amerika Serikat.

Rencananya, satelit berdimensi 10 x 10 x 11,5 cm dengan volume 1 liter tersebut diluncurkan ke angkasa dengan roket kargo. ’’Jika tidak menggunakan SpaceX Dragon, bisa juga dengan Cygnus NG-18,’’ ujarnya.

Tujuan peluncurannya adalah lebih dulu dikirimkan ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS). Setelah tiba di ISS, kargo akan diproses astronot yang berada di dalamnya. Nanti, oleh astronot yang bertugas di ISS, satelit nano itu dilepas ke luar angkasa menuju ke titik orbit. Pelepasan satelit nano ke orbit tidak menggunakan roket.

’’Dilepasin biasa, ada pegas dan pendorong sedikit. Sederhananya seperti ketapel,’’ jelasnya.
Zulfa bekerja bersama enam anggota tim lainnya. Mereka adalah Suhandinata, Setra Yoman Prahyang, Afiq Herdika Sulistya, Hery Steven, Roberto Gunawan, dan Correy Ananta.

Satelit SS-1 mereka rancang untuk mengorbit secara polar. Yaitu, berputar mengitari bumi melewati kutub. Berbeda dengan orbit satelit Lapan-A2 yang bersifat ekuatorial atau mengikuti garis khatulistiwa. Dalam satu hari, satelit ini akan mengitari bumi sebanyak empat sampai lima kali. Berputarnya dari utara ke selatan dan semakin bergeser ke sebelah kiri.

Setelah diluncurkan ke orbit pada Oktober 2022, satelit SS-1 ini baru berfungsi pada November 2022. Satelit ini bakal mengorbit di ketinggian 400 km di atas permukaan laut. Zulfa menjelaskan, satelit yang mereka buat didesain mengorbit sekitar satu tahun saja.

Setelah itu, satelit akan jatuh menuju bumi dan tidak menjadi sampah luar angkasa. Karena ukurannya yang tidak terlalu besar, bangkai satelit SS-1 nanti hancur sendiri terbakar lapisan atmosfer.

Dia lantas menjelaskan alasan riset satelit itu berlangsung lama. Sejak 2016 sampai satelit diluncurkan ke angkasa pada 2022. Artinya, dibutuhkan waktu selama enam tahun. Zulfa menceritakan, riset satelit SS-1 dimulai saat dirinya masih berstatus mahasiswa di Surya University. Di kampus tersebut, ada sebuah pusat riset dengan beragam kegiatan penelitian.

Mulai robot, drone, internet of things (IoT), dan lain sejenisnya. Saat itu Zulfa dan timnya berdiskusi soal penelitian yang bisa berkontribusi untuk masyarakat.

Baca Juga :  Kalau Bingung, Coba Pesan Lik Yadi atau Mbak Winarsih

Sampai akhirnya, berkat bimbingan dari kampus, dimulailah riset inovasi satelit nano SS-1. Dia menyatakan, satelit memiliki beragam jenis. Dimulai dengan nanosatellite dengan ukuran yang paling kecil dan bobot maksimal 1,3 kg. Kemudian, ada microsatellite dengan bobot mencapai 50 kg.

Fungsi satelit SS-1 adalah membuat jaringan komunikasi alternatif untuk daerah yang tidak terjangkau sinyal GSM. Satelit itu tetap bisa mengirimkan data ke daerah-daerah tersebut.

’’Jadi, fungsi satelit SS-1 ini seperti memasang kabel komunikasi, tetapi di luar angkasa,’’ jelasnya.

Pesan yang nanti bisa dikirim melalui layanan satelit SS-1 adalah pesan teks. Pesan teks ini, misalnya, berupa informasi bencana dari daerah pedalaman, mengukur muka air, dan deteksi asap.

Intinya, sensor apa pun yang bisa mengirimkan datanya bisa ditangkap satelit tersebut. Kemudian, datanya dikirimkan kembali ke stasiun bumi yang sudah disiapkan Zulfa dan timnya. Rencananya. stasiun bumi untuk menangkap sinyal dari SS-1 dibangun di Cikarang, Kabupaten Bekasi.

Zulfa yang memulai riset satelit SS-1 saat masih duduk di semester V jurusan teknik fisika mengakui, riset satelitnya membutuhkan waktu lama. Sebab, dalam riset satelit ada istilahnya redudansi alias ketika satu sistem gagal atau failed bisa di-back up sistem cadangannya.

Tantangan lain dalam riset satelit adalah keterbatasan sumber daya. Dia memulai riset satelit SS-1 dengan saldo tim Rp 0. Namun, dia bersyukur mendapat dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Dukungan BRIN dalam bentuk mentoring oleh ahli di bidang satelit. Kemudian, fasilitas laboratorium dan ruang khusus pembuatan satelit di Pusat Teknologi Satelit BRIN di Rancabungur, Kabupaten Bogor.

Selain itu, ada dukungan dari Pasifik Satelit Nusantara. Perusahaan swasta asal Indonesia tersebut yang pertama bergerak di bidang telekomunikasi berbasis satelit dan menjadi salah satu operator satelit di tanah air.

Struktur satelit SS-1 terbuat dari aluminium space grade seri 7. Kemudian, di dalamnya ada beberapa komponen elektro. Ada pula PCB (printed circuit board) untuk modul komunikasi dan modul power. Kemudian, ada juga komponen antena dan panel surya sebagai sumber energi.

Satelit ini berangkat dari kantor BRIN di Bogor, lalu ke Jepang dan menuju ke AS sampai di ISS dalam keadaan power off. Kemudian, saat satelit diluncurkan astronot ke orbit, aliran listrik mulai on. Dan, dalam tempo 30 menit berada di orbit, antena akan mengembang serta satelit berfungsi.

Dia menyatakan, solar cell di setiap sisi satelit sudah cukup untuk menyuplai daya. Listrik yang diterima akan disimpan di baterai lithium-ion. Selama mengorbit, satelit SS-1 ini mengambil tenaga listrik dari pancaran sinar matahari.

Kepala Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN Robertus Heru Triharjanto menyebut satelit SS-1 sebagai pionir satelit nano di Indonesia. ’’Selesainya satelit ini menjadi bukti konsistensi para mahasiswa dan pihak-pihak pendukung, termasuk BRIN,’’ katanya.

Fasilitas Pusat Teknologi Satelit BRIN sudah beroperasi sekitar 15 tahun. Sudah banyak satelit produksi BRIN atau Lapan yang diproses di pusat teknologi satelit tersebut. Fasilitas di dalamnya bisa dimanfaatkan riset satelit yang dikerjakan perguruan tinggi, start-up, maupun perusahaan swasta lainnya.

Heru berharap ke depan satelit nano dan mikro tidak hanya diproduksi BRIN, tetapi juga lembaga-lembaga lain, termasuk kalangan universitas. ’’Adanya satelit SS-1 ini menjadi titik awal kepercayaan bahwa Indonesia mampu membangun sebuah satelit,’’ ujarnya. (jp)

iklanpemko
iklanpemko
iklanpemko

Most Read

Artikel Terbaru

/