alexametrics
31.7 C
Medan
Thursday, August 11, 2022

iklanpemko
iklanpemko

Mereka Tangguh dan Tak Pernah Mengeluh

Mali, gadis kecil berusia delapan tahun bersusah payah untuk merangkai huruf demi huruf membuat tulisan ucapan selamat ulang Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Dengan menulis angka 6 terbalik dan cara menulis yang masih belum lurus, gadis rimba itu akhirnya berhasil membuat tulisan dalam waktu empat menit.

Mali sebenarnya sudah bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Negeri dekat pemukimannya sejak 2020 lalu. Hanya saja dia tidak bisa hidup layaknya anak-anak lain sekolah, karena dalam kehidupan orang rimba atau Suku Anak
Dalam (SAD), mereka memang harus berpindah-pindah, dikarenakan ‘Melangun’ atau tradisi pada saat ada anggota kelompoknya yang meninggal dunia.
Sebagaimana alasan perpindahan yang umum bagi orang rimba. Perpindahan disebabkan karena terusir dari satu tempat ke tempat lain atau tradisi Melangun SAD.

“Pandemi Covid-19 juga semakin menyulitkan mereka untuk melanjutkan pendidikan,” kata Humas KKI Warsi, Sukma Reni, Selasa (17/8) lalu.

Mali, satu dari belasan anak rimba usia sekolah yang tinggal di Kelompok Mariau dalam perkebunan sawit PT SAL. Anak-anak Rimba ini sejatinya ingin sekolah dan mengecap pendidikan, namun apa daya, kehidupan mereka yang terpaksa berpindah karena diusir pemilik ketika hidup dianggap menumpang di dalam kebun sawit yang menyebabkan anak-anak ini tidak lancar dalam bersekolah.

Seperti Mali, sudah setahun Orang Rimba tercatat sebagai murid baru di SD formal. Namun dikarenakan kehidupan Orang Rimba yang tidak stabil berada di dalam kebun, menyebabkan mereka sering terusir dan berpindah. Hal ini menjadikan sekolah bukanlah hal mudah bagi Mali dan kawan-kawannya.

Baca Juga :  Hotman Paris Hutapea, 10 Tahun jadi Asisten Pengacara Dunia

“Kami ingin anak-anak ini sekolah mumpa anak urang lain, kendala kami baru nak sekolah kami lah disuruh pindah, hopi ado ketetapan (Kami ingin, anak-anak kami bisa sekolah seperti anak orang desa. Kendala baru anak kami masuk sekolah, kami sudah disuruh pindah, tidak punya tempat yang pasti),” kata Mariau,52.

Menurut Mariau, leluhur tetua adat mereka berada di Sungai Punti Kayu,Sungai Tengkuyungon dan Sungai Putih. Di daerah ini, Mariau mengenang masa belianya, kala hutan lebat menjadi tempat tinggalnya. Aneka buah hutan tersedia untuk di konsumsi, umbi-umbian berlimpah dan tentu louk godong (hewan buruan) dengan mudah bisa diambil.

“Itulah merdekanya orang kami, ketika hutan memberi kami kehidupan,” kata Mariau dengan senyum sempat menghias wajahnya kala mengingat kembali kenangan manis atas kemerdekaan hidup sebagai orang rimba.

Dijajah Alat Berat

Mariau tidak menyangka alat berat yang datang meruntuhkan hutan mereka dan menggantinya dengan pohon sawit berujung nestapa yang tidak berkesudahan.

“Dulu kami dibodohi, pohon buah kami ditumbangkan (ditebang), disobutnye (disebutkan) diganti pohon kelapa sawit, buahnyo besa (besar), lebih manis. Betunggulah awak (Kami nantilah). Manolah (manalah) buah ini. Sekali buah keluar pahit, hopi (tidak) bisa di makon (makan),” kata Mariau mengenang masa silamnya.

Mali, gadis kecil berusia delapan tahun bersusah payah untuk merangkai huruf demi huruf membuat tulisan ucapan selamat ulang Kemerdekaan Republik Indonesia ke-76. Dengan menulis angka 6 terbalik dan cara menulis yang masih belum lurus, gadis rimba itu akhirnya berhasil membuat tulisan dalam waktu empat menit.

Mali sebenarnya sudah bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Negeri dekat pemukimannya sejak 2020 lalu. Hanya saja dia tidak bisa hidup layaknya anak-anak lain sekolah, karena dalam kehidupan orang rimba atau Suku Anak
Dalam (SAD), mereka memang harus berpindah-pindah, dikarenakan ‘Melangun’ atau tradisi pada saat ada anggota kelompoknya yang meninggal dunia.
Sebagaimana alasan perpindahan yang umum bagi orang rimba. Perpindahan disebabkan karena terusir dari satu tempat ke tempat lain atau tradisi Melangun SAD.

“Pandemi Covid-19 juga semakin menyulitkan mereka untuk melanjutkan pendidikan,” kata Humas KKI Warsi, Sukma Reni, Selasa (17/8) lalu.

Mali, satu dari belasan anak rimba usia sekolah yang tinggal di Kelompok Mariau dalam perkebunan sawit PT SAL. Anak-anak Rimba ini sejatinya ingin sekolah dan mengecap pendidikan, namun apa daya, kehidupan mereka yang terpaksa berpindah karena diusir pemilik ketika hidup dianggap menumpang di dalam kebun sawit yang menyebabkan anak-anak ini tidak lancar dalam bersekolah.

Seperti Mali, sudah setahun Orang Rimba tercatat sebagai murid baru di SD formal. Namun dikarenakan kehidupan Orang Rimba yang tidak stabil berada di dalam kebun, menyebabkan mereka sering terusir dan berpindah. Hal ini menjadikan sekolah bukanlah hal mudah bagi Mali dan kawan-kawannya.

Baca Juga :  Tetap Bersyukur Gaji Suami Rp144 Ribu Sebulan

“Kami ingin anak-anak ini sekolah mumpa anak urang lain, kendala kami baru nak sekolah kami lah disuruh pindah, hopi ado ketetapan (Kami ingin, anak-anak kami bisa sekolah seperti anak orang desa. Kendala baru anak kami masuk sekolah, kami sudah disuruh pindah, tidak punya tempat yang pasti),” kata Mariau,52.

Menurut Mariau, leluhur tetua adat mereka berada di Sungai Punti Kayu,Sungai Tengkuyungon dan Sungai Putih. Di daerah ini, Mariau mengenang masa belianya, kala hutan lebat menjadi tempat tinggalnya. Aneka buah hutan tersedia untuk di konsumsi, umbi-umbian berlimpah dan tentu louk godong (hewan buruan) dengan mudah bisa diambil.

“Itulah merdekanya orang kami, ketika hutan memberi kami kehidupan,” kata Mariau dengan senyum sempat menghias wajahnya kala mengingat kembali kenangan manis atas kemerdekaan hidup sebagai orang rimba.

Dijajah Alat Berat

Mariau tidak menyangka alat berat yang datang meruntuhkan hutan mereka dan menggantinya dengan pohon sawit berujung nestapa yang tidak berkesudahan.

“Dulu kami dibodohi, pohon buah kami ditumbangkan (ditebang), disobutnye (disebutkan) diganti pohon kelapa sawit, buahnyo besa (besar), lebih manis. Betunggulah awak (Kami nantilah). Manolah (manalah) buah ini. Sekali buah keluar pahit, hopi (tidak) bisa di makon (makan),” kata Mariau mengenang masa silamnya.

iklan-usi
iklanpemko
iklanpemko
iklan-usi

Most Read

Artikel Terbaru

/